Gerakan Penghancuran Islam Lewat Slogan “Mulia Dengan Manhaj Salaf”, Implementasi Ideologi Liberal Berjubah “Sunnah”


Oleh : Maaher At-Thuwailibi

Headlineislam.com - Kembali kepada Al-Quran & As-Sunnah berdasarkan Manhaj Salaf jelas merupakan inti ajaran ISLAM yang mulia ini. Islam datang sebagai agama yang mengembalikan manusia dari kesyirikan menjadi manusia yang berketuhanan. dari gelapnya jahiliyyah menunju terangnya cahaya nubuwwah. Di dakwahkan oleh para Nabi dan Rasul lewat DAKWAH TAUHID YANG MURNI, ditutup dengan nubuwwat Nabi Muhammad Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan diteruskan oleh EMPAT SAHABAT-NYA YANG MULIA dengan azaz Khilafah Islamiyyah 'Ala Manhajin Nubuwwah. menjadikan Allah satu-satunya Ilah (sesembahan) yang di ibadahi secara benar dan mengkufuri berbagai at-thawaghit, al-autsaan, dan al-ashnaam yang disekutukan selain ALLAH.

Bila zaman dahulu patung dan orang-orang shalih itu dituhankan sebagai berhala, maka musyrikin dizaman modern tidak sedikit yang menuhankan raja-raja dan para penguasa sebagai ‘arbaaban min duunillah’ (berhala yang disembah selain Allah). Gerakan itu semakin massif sejak sekutunya berkuasa dan menjadi adidaya. Berbagai dalil mereka manipulasi guna MENDOKTRIN para pengikutnya yang buta akan hakikat TAUHID yang sebenarnya. slogan demi slogan mereka ciptakan, doktrin usang lagi oplosan mereka sebarluaskan. Walhasil, mereka menjadi ahlul fitnah yang sesat dan menyesatkan..

Gerakan murji-ah gaya baru yang mengaku-ngaku “pengikut Salaf” ini sejatinya adalah sebuah gerakan politik penghancuran Islam yang dikemas dengan amat sangat rapi dalam doktrin “Kembali kepada Sunnah Nabi”, namun di saat yang sama justru menanggalkan inti ajaran Nabi itu sendiri, yaitu: Al-Wala’ wal Baro’, Al-Jihad Fii Sabililah, dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Contoh kecilnya=> mereka sangat garang kalau membahas masalah jenggot, tapi soal kezhaliman penguasa malah bungkam. seakan-akan mereka tidak memberi udzur bagi para pelaku bid’ah, tapi mereka memberi udzur kepada para pelaku kesyirikan dan kekufuran.

Demikilanlah bahaya laten murji’ah (Liberal berjubah Sunnah). Maka wajar jika mereka begitu anti terhadap para tokoh ummat yang vokal mengingkari kezholiman penguasa. Doktrin utama yang mereka suguhkan ke tengah masyarakat adalah dengan membentuk persepsi publik bahwa pengingkaran terhadap penguasa zholim atau rezim sekuler adalah tindakan ‘bughot’ atau ‘khawarij’ yang wajib di perangi. Siapapun yang mengingkari penguasa atau tidak setuju dengan kebijakan politik sebuah pemerintahan, akan langsung mereka vonis sebagai hizbiyyah, sururiyyah, khawarij, sesat, ahli bid’ah, dll. Ini merupakan “dagangan” lama mereka sejak dahulu. Caranya, menggunakan dalil-dalil qur’an & sunnah lalu di tarik dan di jungkir-balikkan makna dan penempatannya sesuai kepentingan mereka. Kepentingan apa? Kepentingan untuk melanggengkan para penguasa dan raja-raja monarkhi yang anti NEGERI ISLAMI atau KHILAFAH ISLAMIYYAH itu. Untuk melariskan dagangannya, mereka gunakan senjata andalan=> monopoli kebenaran dan “kunci surga”.

Jika di indonesia kelompok ini begitu massif menyuarakan antipati terhadap tokoh-tokoh muslim yang vokal mengkritik pemerintah semisal Bachtiar Nasir, Habib Rizieq Shihab, Abdus Shomad, Alfian Tanjung, dll..maka wajar; karena mereka (liberal berjubah sunnah) ini adalah bagian penting dari operasi intelijen global. Faham neo-murji’ah ini kemudian di promosikan secara halus oleh seorang tokoh dari Yordan bernama ALI HASAN AL-HALABI lewat dua kitab karyanya: ‘fitnanut takfir’ & ‘shaihatun nadziir’. Kemudian dua kitab ini di tahdzir dan di fatwakan menyimpang oleh Lajnah Da-imah (Lembaga Riset & Fatwa Arab Saudi) karena di anggap mengandung pemahaman Irja’ (murji-ah) yang sesat.

Lajnah Da-imah (yang salah satu amggotanya adalah Syaikh Dr. Shalih Fauzan Al-Fauzan) mengeluarkan fatwa resmi bahwa dua kitab Ali Hasan Al-Halabi mengandung pemahaman IRJA’ (MURJI-AH) sehingga di larang penyebarannya diseluruh kerajaan arab saudi (dan fatwa itu belum dicabut sampai hari ini). secara politik, Ali Hasan Al-Halabi sama sikap politiknya dengan para Ulama Saudi. tetapi berbeda secara Ideologi. Di indonesia, Ali Hasan Al-Halabi kemudian di beri tempat oleh pemerintah. ia sempat diangkat sebagai penasehat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan menjadi salah satu icon rujukan para “pendekar sunnah” di indonesia lewat DAUROH-DAUROH yang mereka adakan.

Nas-alullah Al-‘Aafiyah Wa Salaamah. (fmt/headlineislam.com)

Headlineislam.com adalah portal media Islam yang berpihak kepada kebenaran dan kaum Musliman Ahlussannah wal Jama’ah. Dan juga sebagai wadah yang menampung berita dan artikel-artikel bermanfaaat untuk dijadikan konsumsi bacaan maupun referensi.