Di Era Jokowi, Aliran Kepercayaan Setara dengan Agama

Sumber foto Viva.co.id
Headlineislam.com - Pencantuman aliran kepercayaan di kolom agama Kartu Tanda Peduduk (KTP) telah menimbulkan polemik. Ketidaksukaan dan intoleransi terhadap ajaran kepercayaan di luar lima agama resmi negara pun muncul kepermukaan.

Salah satunya dilontarkan oleh anggota Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anton Tabah Digdoyo.

Anton memandang aliran kepercayaan sebagai hal negatif yang tak boleh berkembang di Indonesia. Pasalnya, NKRI adalah negara beragama bukan negara penghayat aliran kepercayaan.

“Keputusan MK itu menandakan negeri ini mundur ke zaman batu, animisme-dinamisme bakal tumbuh subur lagi di Indonesia, di era sains yang semakin maju," ujar Anton dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/11).

Menurut Anton, rezim Orde Baru tak pernah menginginkan aliran kepercayaan berkembang.Bahkan, Presiden Soeharto saja, pernah mengatakan kepadanya bahwa aliran kepercayaan pada akhirnya harus hilang dan menginduk ke agama-agama yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

Salah satu tujuan pembentukan MUI oleh saat Presiden Soeharto memimpin, ujar Anton, adalah untuk menghindari kesetaraan antara agama dan aliran kepercayaan.

"Jadi dengan disahkannya aliran kepercayaan setara dengan agama ini. Berarti MUI dan lembaga-lembaga agama telah kalah," tegasn mantan ajudan Pak Harto itu.

Anton pun berharap pemerintahan Joko Widodo-Jusu Kalla segera menyadari potensi konflik akibat putusan MK tersebut.

Menurutnya, kemajemukan bangsa Indonesia tak perlu ditambah rumit lagi dengan memberi ruang bagi aliran kepercayaan.

"Bangsa Indonesia ini sangat majemuk, namun karena dilegalkannya aliran kepercayaan, justru makin rentan konflik horizontal," pungkasnya. (jpc/headlineislam.com)

Perbedaan Besar Salafi dengan Gerakan Islam


Oleh : Ustad Abu Muhammad Waskito

Bismillah. Perbedaan utamanya adalah: terkait posisi pemerintah sekuler di negeri-negeri Muslim.

Salafi memandang pemerintah sekuler sebagai pemerintah islam (Ulil Amri) selagi pimpinannya punya KTP Muslim, dan di negeri itu dibolehkan syi’ar-syi’ar islam seperti adzan, sholat jamaah, sholat Jum'at, dll. Padahal, dinegara-negara kafir (semisal: rusia, eropa, amerika, beijing, bahkan hindia sekalipun) dibolehkan azan berkumandang. 😊

Sedangkan GERAKAN ISLAM memandang pemerintah sekuler bukam pemerintah islam (bukan Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah). Oleh karena itu pemerintah sekuler harus diubah menjadi PEMERINTAH ISLAMI.

Dasar GERAKAN ISLAM adalah:

(1). Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menegakkan PEMERINTAH ISLAMI berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah di Madinah, Makkah, dan sekitarnya.

(2). Khulafaur Rasyidin Radhiyallahu’anhum menegakkan PEMERINTAH ISLAMI di zamannya, hingga meluas ke Jazirah, Mesir, Persia, Syam, Asia Tengah, dll.

(3). Selama RIBUAN TAHUN, para Sultan, Khalifah, Amirul Mukminin, menegakkan PEMERINTAH ISLAMI yaitu Daulah Umawi, Khilafah Abbassiyah, Daulah Umawi Barat (Andalusia), Daulah Saljuq, Daulah Mamluk, Khilafah Turki Utsmani, dan kerajaan kerajaan Islam di seluruh dunia (termasuk kerajaan Islam Nusantara).

Gerakan Islam ingin menegakkan KEDAULATAN SYARIAT di muka bumi. Sedangkan Salafi menerima keadaan yang ada, sekalipun Syariat Islam tidak tegak.

FAKTA besar KEDAULATAN ISLAM selama ribuan tahun di atas hendak disembunyikan dengan alasan “pemimpin ber-KTP Muslim dan ada syi‘ar islam semisal adzan, dll”

Inilah sejatinya PERBEDAAN BESAR antara Salafi dan Gerakan Islam. Kecuali SALAFI HAROKI yang juga peduli dengan tegakknya KEPEMIMPINAN ISLAMI (mereka ini bagian dari GERAKAN ISLAM juga, hanya corak aqidahnya seperti Salafi dalam masalah SIFAT-SIFAT ALLAH).

SEBAIKNYA kita menyedikitkan debat dengan Salafi, karena perbedaan itu SUDAH JELAS, tidak perlu dibuat panjang dan berliku-liku.

Biasanya kalau kita menegakkan AQIDAH di atas, kita cepat-cepat dituduh sebagai Khawarij atau Takfiri. Padahal: Kita tidak peduli soal STATUS PEMIMPIN itu apakah dia Muslim atau kafir; tapi kita meyakini WAJIB HUKUMNYA menegakkan Syariat Islam seperti Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Khulafaur Rasyidin Radhiyallahu’anhum, para Khalifah/Sultan Muslimin.

Semoga bermanfaat, wallahu a'lam. (amw/headlineislam.com)