Ustadz Abdul Shomad dan Abdullah Hadrami, Anugerah Allah yang Terzalimi

Ustadz Abdul Shomad dan Abdulllah Hadrami
Oleh: Maaher At-Thuwailibi

(Pembelaan Terhadap Dua Tokoh Agama & Tanggapan Ilmiah Terhadap Al-Ustadz Al-Mukarrom Zainal Abidin Hafizhahullah)

Headlineislam.com - Talafi, “Komplotan mafia berjubah sunnah pemegang kunci surga”. Ya, mereka tidak terima dengan julukan itu. Tapi begitulah adanya, perilaku mereka yang talaf (rusak) bahkan kalap (lost kontrol). Dulu, Ustadz Adi Hidayat & Ustadz Oemar Mita yang mereka rusak nama baiknya dengan alasan “menjaga kemurnian agama”. Sekarang, gantian Ustadz Abduz Shomad & Ustadz Abdullah Hadrami yang mereka jatuhkan kehormatannnya beramai-ramai. Alasan mereka pun klasik, “membantah syubhat dan menjelaskan kebenaran kepada ummat,” atau bahasa sederhananya dalam etimologi agama disebut “tahdzir”. Lalu, cacian dan hinaan itu pun mereka hiasi dengan dalil-dalil dari Qur’an dan Sunnah agar tampak seakan indah sehingga membuat publik terpesona. Ini sudah menjadi tabiat mereka dari masa ke masa, ma’lumun bid-dhoruroh. Kecuali orang-orang diantara mereka yang Allah rahmati hatinya dengan kelembutan dan kasih sayang kepada kaum mukminin. Orang-orang sholih tentunya memilih jalan dialog secara sehat dan kepala dingin, agar ummat pun bisa meneladani akhlak para da’i sebagai pengemban risalah dakwah.

Bahkan, tidak sedikit para pengikut mereka di akar rumput yang sampai pada perilaku mencoret foto Ustadz Abdul Shomad, Adi Hidayat, dan Abdullah Hadrami dengan tanda silang dan berbagai foto editan tidak pantas lainnya. Sebagai isyarat bahwa ketiga da’i ini tidak recomended (menurut anggapan mereka). Kira-kira Akhlaq siapa yang mereka tiru dalam hal ini? Adakah Salaf berperilaku keji semacam ini atas kehormatan saudaranya sesama muslim apalagi para da’i yang memiliki maqom disisi Allah?! Hasya wa Kalla..!!

Tak perlu saya nukilkan satu persatu dalil-dalil dari perkataan para Ulama dan Salafus Shalih tentang akhlak, karena saya tak ahli dalam merangkai kata dan mengumpulkan kalam para Ulama. Cukuplah baca kitab Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf, kitab Tazkiyatun Nafs Syaikh Ahmad Farid, Kitab Madarijus Salikin Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, kitab Shaidul Khathir Imam Ibnul Jauzi, Kitab Minhajul Qashidin Imam Ibnu Qudamah, niscaya akan anda dapati bagaimana potret Salafus Shalih dalam merealisasikan teladan akhlak kepada sesama & sang pencipta dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita tidak seperti ahli kitab yang Allah umpamakan seperti keledai yang kian menjamur di akhir zaman, menguasai kitab tebal namun tidak mampu mengamalkannya, wal-‘iyaadzubillah.

Ustadz Abdul Shomad (NU garis lurus) adalah Alumni Al-Azhar Of University, Cairo Mesir. Gelar S2 beliau raih di Darul Hadits Hassania Institute Maroko. Sedangkan Ustadz Abdullah Hadrami (Salafi garis lurus) Alumni Markaz Unaizah Qashim, Saudi Arabia, pimpinan Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-‘Utsaimin. Beliau berguru langsung dengan Syaikh Al-‘Utsaimin dan bermulazamah dengannya. Namun demikian, Ustadz Abdus Shomad & Ustadz Abdullah Hadrami bukanlah Rasul yang ma’shum (alias suci tanpa dosa) sebagaimana mereka yang tukang tahdzir itu pun tidak terlahir dengan membawa sertifikat surga. Oleh karenanya wajar jika misalnya mereka terjatuh dalam kesalahan (baik dalam perpendapat, berucap, dan berbuat) sebagaimana Imam An-Nawawi, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Imam Ibnu Taimiyyah, dan Imam Al-Albani pun terjatuh dalam kesalahan. Sebab, mereka manusia yang tercipta dari tanah, bukan makhluk yang tercipta dari cahaya. Namun yang terbaik dari yang bersalah adalah yang insyaf dan bertaubat. Sedangkan yang terbaik dari orang yang melihat kesalahan adalah memberikan hujjah dan nasihat dengan santun dan penuh adab. Bukan dengan mengumbar kebencian, merusak kehormatan, apalagi sampai terkesan membuat front permusuhan, ma’aadzallah.

Ya, saudara-saudara kita ini selalu mengatasnamakan “tahdzir”, yaitu menjelaskan kebenaran, membantah kebatilan. Tapi uniknya, bila kebatilan itu muncul dari da’i-da’i sesama mereka, atau yang sekomplotan dengan mereka, mereka tidak akan mentahdzirnya, tidak akan melakukan kritik terbuka atasnya, apalagi sampai merusak nama baiknya. Sikap yang mereka bangun persis khawarij; kelompok sesat pertama dalam tubuh ummat ini. Pola mereka dari dulu tidak berubah => cari simpatik sebanyak-banyaknya, doktrinnya berpegang pada Quran & Sunnah, lalu menjatuhkan kehormatan lawan pendapatnya dengan alasan “menjaga kemurnian agama”.

Pertanyaanya, kapan mereka mengkritik dan membantah kesesatan ucapan Riyadh Bajery saat ia mengatakan dalam salah satu ceramahnya bahwa “darah para demonstran itu halal di tumpahkan”? Ini jelas ucapan sesat yang lahir dari manhaj takfiri (gampang menghalalkan darah kaum muslimin tanpa hak). Kapan mereka mengkritik secara ilmiah & terbuka Abu Yahya Badrussalam saat ia “berfatwa” dihadapan para aparatur negara bahwa “Densus 88 yang tembak mati seorang muslim terduga teroris maka dapat satu pahala layaknya seorang mujtahid”!? Kapan mereka mentahdzir dua da’i (Abu Yahya Badrussalam & Riyadh Bajery) ini di hadapan publik secara sportif ? Apakah tahdzir itu hanya berlaku untuk “lawan” & tidak berlaku untuk “kawan”?.

Bagaimana bisa Densus 88 yang konon sempat di kecam oleh MUI bahkan rencana mau di bubarkan, justru di anggap “mujtahid” oleh Abu Yahya Badrussalam.!? bahkan, sudah seharusnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai payung bagi ummat islam di negara ini mencekal da’i-da’i yang meresahkan ummat. Karena tidak sedikit statement-statement serta gagasan-gagasan mereka dan yang semisalnya memicu perpecahan antar sesama muslim di tengah masyarakat.

TANGGAPAN PERTAMA: STATEMENT USTAD ABDULLAH HADRAMI

Bermula dari statmen atau kicauan Ustad Abdullah Hadrami di akun twitternya:

“Hamas mewakili kaum muslimin memerangi penjajah zionis yahudi, para penguasa arab mewakili zionis yahudi memerangi hamas”

Lalu kicauan itu ditanggapi panjang lebar oleh Al-Ustadz Zainal Abidin Hafizhahullah. Beliau tampak mengecam Ustadz Abdullah Hadrami di akun fanpage resmi miliknya secara terang-terangan. Vonis demi vonis pun melayang. Sampai dianggap sebagai “pembawa gerakan adu domba”. Sebuah tulisan yang subjektif dan sangat tendensius, nuansa kebencian yang tidak pantas dilontarkan oleh seorang muslim, apalagi tokoh agama alias ustadz yang di anggap kibar oleh para pengikutnya. Bukan semata-mata nasehat dalam tulisan itu yang menjadi masalah, tapi uslub tulisan yang tidak mencerminkan akhlak seorang da’i berikut kandungan tulisan yang tidak substansial. Terbukti, panjang lebar tulisan itu di rangkai oleh Al-Ustadz Al-Mukarrom Zainal Abidin hafizhahullah namun tak sedikitpun mengandung bantahan/koreksi yang esensial terhadap statement Ustadz Abdullah Al-Hadrami. Isinya hanya klaim-klaim dan justifikasi sepihak yang dipoles dengan kalam-kalam ulama yang justru menunjukkan pandangan subjektifnya terhadap satu objek masalah yang sedang di bicarakan.

Singkatnya begini, jika kita menganggap sebuah statemen seseorang itu salah, maka hendaknya kita tunjukkan letak salahnya dimana lalu koreksi secara ilmiah, bijaksana, dan bila perlu dukung dengan data-data valid yang bisa dipertanggung jawabkan. Jangan justru memutar-balikkan fakta, memanipulasi realita, dan seolah mengelabui publik dengan retorika dan rangkaian kata-kata. Sehingga ada kesan membentuk opini ummat untuk antipati terhadap oknum da’i di luar kelompoknya/berbeda pendapat dengannya.

Mengkritik pemimpin negara adalah sesuatu hal yang wajar-wajar saja sebagai kontrol publik dan itu berhak dilakukan siapa saja asal bisa dipertanggung-jawabkan. Kecuali yang mentalnya mental mustahiq alias “anak asuh”; biasanya takut atau segan mengkritik donaturnya, apalagi kalau sekolahnya gratisan, asramanya gratisan, serba beasiswa alias “majjanan” (walaupun tidak semua tapi rata-rata begitu). Lihatlah keteladan Nabi Musa ‘alaihis salam, walau diasuh oleh Fir'aun namun mentalnya tetap ksatria; berani mengkritik kebijakan Fir'aun. Para pemimpin-pemimpin Arab itu memang memberi makan dan santunan kepada rakyat Palestina, kita pun tidak menafikan itu, namun fakta publik yang bisa dilihat secara zhahir bahwa mereka menjegal para pejuangnya untuk meraih kemerdekaan plus bermesra-mesraan dengan penjajahnya. Anda mau menutup mata akan fakta ini? Jika pemimpin Hamas Khalid Misy’al yang bekerjasama dengan Khomaini (Iran) mungkin Anda anggap bermesraan dengan Syi'ah Iran, lalu bagaimana dengan Raja Salman yang menari-nari dan berjoged ria dengan George H.W. Bush (mantan presiden Amerika si penumpah darah kaum muslimin tak berdosa dinegeri-negeri timur tengah) itu? Dan bagaimana pula ketika Raja Salman tampak bermesraan dengan Donald Trump (si Kafir Harbi) itu? Anda pasti akan mengatakan bahwa saudi punya perjanjian damai dan hubungan diplomatik antar negara. Maka saya balik tanya => Apakah Hamas sebagai gerakan kemerdekaan palestina yang terstruktur tidak boleh mengadakan perjanjian damai dan hubungan diplomatik dengan negara kafir lainnya dalam rangka bersiyasah. Ini tahun 2017 menjelang 2018, era modern dan kekinian, jangan bodohi ummat dengan standar ganda dan pola fikir yang tidak rasional. Berfikirlah objektif sebelum anda memaksa orang untuk objektif.

TANGGAPAN KEDUA: STATEMENT USTADZ ABDUSH SHOMAD

1. Tentang “Wahabi”

Ustadz Abdul Shomad menyatakan bahwa kelompok yang suka mengkafir-kafirkan dan gampang membid’ahkan adalah agen Yahudi (Amerika-Israel). Al-Ustadz Zainal Abidin hafizhahullah tampak tak terima dengan statement itu. Beliau menterjemahkan sendiri apa yang disampaikan Ustadz Abdul Shomad itu bahwa arahnya adalah kelompok “Salafi”. Padahal, Ustadz Abdul Shomad tidak menyebutkan nama kelompok. Ia menyebutkan sifat secara umum. Maka, sambil tersenyum syahdu saya ingin mengatakan: kalau Al-Ustadz Zainal Abidin tidak merasa sebagai kelompok yang suka mengkafirkan dan membid'ahkan, lalu mengapa sewot dan marah? Atau “wahabi” itu memang ada dua model? Wahabi garis lurus dan wahabi garis miring? Atau bagaimana?

2. Masalah Jenggot

Ustadz Abdus Shomad menyatakan bahwa pelihara jenggot dalam mazhab syafi'i adalah sunnah tidak sampai taraf wajib (fardu ‘ain). Dan sikap pribadi beliau yang sengaja tidak memelihara jenggot dengan alasan karena jika dipelihara justru seperti tusuk sate, katanya. Namun, Al-Ustadz Zainal Abidin hafizhahullah seakan tidak terima dengan pernyataan itu dan menganggap bahwa Ustadz Abdul Shomad pembawa syubhat. Walhasil, beliau membawakan kalam Imam Syafi'i tentang larangan mencukur jenggot. In sya Allah kami akan sampaikan kepada Ustadz Abdul Shomad agar hendaknya beliau memelihara jenggot sesuai keumuman perintah baginda Nabi yang mulia dan nasehat ini berlaku pada kita semua sebagai para pecinta Rasulullah untuk tidak menyepelekan Sunnah-sunnahnya, wallahul musta’an.

Tanggapan kami: Kalau kita bicara fiqih, memang pendapat mu'tamad madzhab Syafi'i adalah makruh mencukur jenggot. Tidak sampai kepada haram. Kalam Imam Syafi'i dalam kitab Al-Umm bisa saja bermakna makruh.

Al-Ustadz Zainal Abidin hafizhahullah seperti sibuk mencari kesalahan Ustadz Abdul Shomad, tapi disisi lain Syaikh Al-Albani rahimahullah mengharamkan memelihara jenggot melebihi segenggam tangan, beliau justru seakan bisu.

Dalam kitab Fatawa Asy-Syaikh al-Albani:

السائل: يقول السائل والسؤال ما سمعنا تفصيله سمعنا بأنكم تقولون إن إسبال اللحية من إسبال الثوب هذا قولكم؟
الجواب: نعم.
السائل: معنى هذا ما طال عن القبضة يحرم إسباله؟
الجواب: نعم هذا أسبق الكلام فيه أنه يحرم إسبال الحية فوق القبضة كما يحرم إحداث أى بدعة في الدين.
فتاوى الشيخ الألباني، ص: 52-53

Penanya: “Kami telah mendengar bahwa anda berkata sesungguhnya isbalnya jenggot sama dengan isbalnya pakaian, apa ini perkataan anda?”

Jawab Syaikh Al-Albani: “Ya”.

Penanya: “Ini maknanya memanjangkan jenggot melebihi genggaman diharamkan?”

Jawab Syaikh Al-Albani: “Ya. Ini perkataan yang paling tepat dalam masalah ini, bahwa haram isbal jenggot melebihi genggaman tangan sebagaimana haram perkara-perkara baru yaitu bid'ah dalam agama”. (Lihat Kitab Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani halaman: 52-53)

3. Masalah Isbal

Isbal adalah memanjangkan pakaian melebihi mata kaki (bagi laki-laki). Banyak hadits yang melarang isbal dan mengancamnya dengan neraka. Akan tetapi Ulama telah berselisih pendapat (khilaf) dalam masalah ini sejak dulu. Letak khilafnya adalah: "Apakah isbal tanpa ada rasa sombong itu haram atau tidak", nah disinilah letak khilafnya. Sebagian Ulama berpendapat bahwa isbal haram secara mutlak, sebagian ulama lagi berpendapat bahwa isbal itu tidak haram jika tidak disertai kesombongan. Minimal, hukumnya makruh. Secara pribadi, saya memilih pendapat bahwa isbal adalah haram secara mutlak (baik disertai kesombongan maupun tidak) dan inilah pendapat rajih yang lebih menenangkan hati. Namun, dalam kitab syarhul ‘umdah Syaikhul Islam bnu Taimiyyah berpendapat bahwa Isbal itu tidak haram jika tidak disertai kesombongan. Apakah kita berani mengatakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah itu “PEMBAWA SYUBHAT”?

Al-Ustadz Zainal Abidin secara tersirat mengharamkan isbal secara mutlak dengan membawakan riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal, itu bagus...!

Pertanyaannya adalah, apakah Imam Ahmad tidak paham terhadap apa yang beliau riwayatkan sendiri?

Dalam kitab Al-Adabu Syar'iyyah tertulis:

وقال في رواية حنبل: جر الإزار إذا لم يرد الخيلاء فلا بأس به وهذا ظاهر كلام غير واحد من الاصحاب
الآداب الشرعية، ج: 3 ص: 521

“Dalam satu riwayat Hanbal berkata: Isbal manakala tidak dengan sombong maka tidak mengapa. Dan zhahir perkataan ini tidak hanya dikatakan oleh seorang dari sahabat-sahabat -Imam Ahmad-. (Baca kitab Al-Adab Syari'iyyah, juz 3 hlm.521)

Jangan sampai ada kesan mengambil riwayat imam ahmad tapi tidak mengambil pendapat imam ahmad.

Intinya, dalam masalah isbal saya sepakat dengan Al-Ustadz Zainal Abidin hafizhahullah. Memilih pendapat rajih yang menenangkan dan keluar dari perselisihan Ulama adalah jalan yang lebih aslam (selamat). In sya Allah saya akan sampaikan kepada Ustadz Abdus Shomad tentang keutaman-keutaman mengenakan kain di atas mata kaki berdasarkan perintah baginda Nabi yang mulia. namun, sebagai da’i maka tugas saya hanyalah menyampaikan, memberi pandangan dan menunaikan amar ma’ruf, bukan memaksakan kehendak agar orang harus sama seperti saya. Karena da’i itu adalah obat bagi ummat, namun kesembuhan hanya ada pada kuasa Allah Ta’ala.

Yang terakhir adalah masalahTahlilan yang di angkat oleh Al-Ustadz Zainal Abidin hafizhahullah sebagai kritik terbuka kepada Ustadz Abduz Shomad. Tapi saya mohon pamit dulu dan tidak mampu membahasnya. Disamping letih untuk terus berkutat pada masalah-masalah yang tidak terlalu urgent untuk saat ini (bila kita kembalikan kepada fiqih aulawiyat sebab waktu kita sedikit sedangkan problematika ummat semakin kompleks).

Lebih kurangnya saya mohon maaf lahir & batin. Di hari yang fitri semoga Allah terima amal ibadah kita dan Allah ampunkan dosa-dosa kita. Taqabbalallahu minna wa minkum.

Editor : Arham

Headlineislam.com adalah portal media Islam yang berpihak kepada kebenaran dan kaum Musliman Ahlussannah wal Jama’ah. Dan juga sebagai wadah yang menampung berita dan artikel-artikel bermanfaaat untuk dijadikan konsumsi bacaan maupun referensi.