Waspadai Maaher At-Thuwailibi!!!


Oleh : Abu Husain Ath-Thuwailibi

Headlineislam.com - “Waspadai Maaher At-Thuwailibi, Dia nggak jelas belajarnya dimana sehingga tidak pantas jadi rujukan. Tulisan si Maaher kok dibaca apalagi disebarkan, dia tidak ikhlas , hanya cari popularitas”.
😊😊

1. Kalau saya “tidak jelas” belajarnya dimana, lantas apakah saya ngga boleh menulis? Saya ngga boleh berdakwah? Saya ngga boleh berkarya?

Saya mau tanya, emang Buya Hamka itu tamatan mana? Alumni mana? Belajar dimana? Siapa gurunya? Coba jawab. Faktanya: beliau adalah seorang pakar ilmu yang terkenal dengan karya monumentalnya: “Tafsir Al-Azhar” dan “Sejarah Ummat Islam”. Tolong jawab.!?

2. Kalau saya “tidak jelas” belajarnya dimana, emang ustad kibarmu Abdul Hakim Bin Amir Abdat itu belajarnya dimana? Alumni mana? Siapa gurunya? Sebutkan sanad keilmuannya? Coba jawab, sebelum anda saya permalukan dengan fakta sejarah 😊

Dia (Ustad Abdul Hakim Bin Amir Abdat) itu otodidak, ngga punya guru... Hanya jadi pembaca di perpustakaan LIPIA (belajar mandiri), lalu ceramah, dan kemudian jadi ‘ustad kibar’ di kalangan komunitasmu. Mending Ustad Farid Nukman Hasan; cenderung otodidak tapi punya guru, bahkan mengeyam pendidikan di perguruan tinggi serta menyelesaikan Study Bahasa dan Sastra Arabnya. Kalau ustad kibarmu, siapa gurunya? Apa gelar akademiknya? Dan sebutkan sanad keilmuannya. Jawab.!?

Salah seorang Ustadmu juga, bermama Ustad Fariq Qasim Anuz. itu alumni mana? LIPIA ngga lulus, berhenti di tengah jalan. Tapi ceramah ke mana-mana... Ngisi kajian, ngisi dauroh, nulis buku dan berkarya. Lalu disebabkan kebodohanmu yang tak terkira, lantas kau tulis di ujung namanya gelar “Lc”. Kau sebarkan video ceramahnya di Youtube. Itulah bodohnya dirimu. Padahal, di LIPIA ngga selesai. Lalu “Lc” nya dari mana?

“Gajah dipelupuk mata tak nampak, tapi semut disebrang laut nampak”.😊

3. Saya tidak pernah mengumumkan di hadapan ummat bahwa saya adalah RUJUKAN dan mesti di jadikan rujukan. Anda tidak perlu berlebihan.! Rujukan ya Al-Qur'an dan As-Sunnah, bukan Maaher At-Thuwailibi. Maaher At-Thuwailbi hanyalah satu diantara sekian juta putra bangsa yang ingin menyampaikan aspirasinya lewat buah karya. Hanya itu, tidak lebih. semoga saya bisa istiqomah dan ikhlas karena-Nya. Jika anda suka, walhamdulillah. Jika anda tidak suka, itu hak anda. Karena saya di cipta bukan membuat anda terkesan.

4. Jikalau orang yang “berhak jadi rujukan” menurut anda adalah orang yang “mesti jelas belajarnya dimana”, maka Muhammad Quraish Shihab adalah orang yang sangat jelas belajarnya, bahkan jelas sanad keilmuannya. Bahkan, ia di akui di Al-Azhar dan mencapai gelar professor doktor. Demikian pula Said Aqil Siraj, ia juga sangat jelas belajarnya. Ia belajar di Universitas Ummul Quro mekkah. Sangat jelas sanad keilmuannya. Bahkan disertasi S3 nya masya Allah luar biasa manfaat ilmiahnya. Kenapa anda tidak jadikan ia rujukan? 😊

5. Unik juga..., saya anda katakan tidak berhak dijadikan rujukan karena “tidak jelas belajarnya dimana”. baiklah, saya terima.

Namun, saya ingin kasih bocoran ke anda; itu Ustad Adi Hidayat sangat jelas belajarnya dimana, jelas sanad keilmuannya, ia berguru dan mencapai gelar S2 dalam akademik. Kenapa tidak anda jadikan rujukan? Kenapa anda jelek-jelekkan? Kenapa justru di tahdzir oleh ustad anda dengan tahdzir berantai? Kenapa? Karena Adi Hidayat terlalu kuat hafalannya dan terlalu pintar menyebut nomor ayat dan nomor hadits “seperti orientalis”, makanya di tahdzir oleh ustad sekawan anda. 😊
Yang sudah jelas belajarnya saja, masih juga dianggap “tidak jelas menhajnya” oleh ustad-ustad sekomplotanmu. Lalu, apakah yang jelas manhajnya adalah seperti ustadmu yang berfatwa: “Densus 88 itu mujtahid” ? Atau....ustadmu yang berfatwa: “Darah demonstran halal di tumpahkan” ?
Haihaata haihaata...!

6. Terakhir. Biarlah saya berkarya, menulis, dll. kalau saya salah, luruskan. Kalau saya benar, bantu pertahankan. Kalau anda mukmin sejati, harusnya anda doakan saya agar ikhlas dalam setiap langkah dakwah ini. Bukan malah menyimpan berbagai prasangka bahwa saya tidak ikhlas, dsb. Bukankah anda paling hafal ayatnya=> sebagian prasangka adalah dosa? 😊

SAYA akan berupaya mengamalkan nasehat seorang Ulama; di puji tidak terbang di caci tidak tumbang. Karena jika celaanmu terasa pahit, maka pujianmu masih terasa manis. Oleh karenanya, saya ingin mengajakmu berlomba... berlomba untuk tersenyum.

PESAN SAYA terakhir untukmu......, sebelum nyawa itu berpisah dari jasadmu maka perbaikilah HATIMU. Karena orang yang bertemu wajah Allah adalah orang yang membawa hati yang saliim (bersih). Jangan karena kebanyakan PRASANGKA, amal ibadahmu sirna dan kau akan menjadi hamba yang bangkrut kelak di hadapan-Nya. Mulai saat ini, mari perbaiki hati. Jadilah pemenang sejati yang jauh dari kecurangan.

Baarakallahufiikum... (ah/headlineislam.com)

Headlineislam.com adalah portal media Islam yang berpihak kepada kebenaran dan kaum Musliman Ahlussannah wal Jama’ah. Dan juga sebagai wadah yang menampung berita dan artikel-artikel bermanfaaat untuk dijadikan konsumsi bacaan maupun referensi.