Waspada! Kelompok Ini Menamakan Diri Seakan Islami, Tapi Ajarkan Aliran Menyimpang


Headlineislam.com - Di Jalan Bung Karno, Kelurahan Pagesangan Timur, Mataram Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), ada kelompok dengan menyebut diri sebagai Rumah Mengenal Alquran (RMA). Namun ternyata, kelompok tersebut mengembangkan ajaran yang melenceng dari ajaran Islam; diantaranya hanya mempercayai Alquran, tidak mempercayai Alhadits atau Assunah, dan juga mengubah salam.

Gabungan aparat dari Pemerintah Kota Mataram, Pemerintah Provinsi NTB, Kepolisian Daerah NTB dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB, Senin (30/1/2017) kemarin, resmi menutup RMA. “Saat dilakukan penutupan oleh aparat gabungan, diketahui pula RMA ternyata juga belum memiliki izin penyelenggaraan pendidikan luar sekolah keagamaan, baik dari Pemerintahan Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kota, bahkan dari Kementerian Agama. Terlebih telah mengembangkan ajaran yang melenceng, sudah sepantasnya kini mendapatkan tindakan tegas,” ujar seorang pejabat setempat.

RMA diketahui mulai beraktivitas sejak tiga bulan silam. Terungkap karena ada sejumlah tayangan video yang tersebar menjadi viral pada jejaring facebook. Warga masyarakat cukup kaget, RMA ternyata mengembangkan ajaran yang melenceng dari ajaran Islam. Warga berharap Kepolisian serta sejumlah aparat terkait untuk segera bertindak, sebelum warga masyarakat dan organisasi massa keagamaan yang  bertindak.

L. Dirja Harta, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (SatPol-PP) Provisi NTB seperti dikutip Koran Radar Lombok, membenarkan telah dilakukan penutupan terhadap RMA, sebagai melaksanakan perintah Gubernur NTB Tuan Guru H. Zainul Majdi. “Daripada massa yang bertindak, yang dikhawatirkan disertai tindakan kekerasan dan anarkis,  kami mendahului; lebih baik kami dari Pemerintah Provisi yang turun mendahuluinya,” katanya.

Mengikuti pelaksanaan penutupan tersebut, sejumlah spanduk dan baliho yang terpasang tanpa izin di sekitar lokasi RMA diturunkan. Sementara Hj. Siti Aisyah (sekira usia 47 tahun), Pimpinan RMA, diamankan ke Kepolisian Daerah (Polda) NTB.

Perkembangan berikutnya, ketika MUI NTB melakukan dialog dengan Hj. Siti Aisyah, didapat kesimpulan bahwa ajaran yang dikembangkan RMA, benar telah sesat dan melenceng jauh (keluar) dari ajaran Islam atau dapat disebut sebagai kafir.

Hj. Siti Aisyah, melalui RMA, telah menyebarkan ajaran yang hanya mengakui Alquran, sedangkan sunah Rasul ditolak, dengan dalih Alquran telah sempurna sebagai petunjuk bagi manusia. “Nanti kalau dia mau bertaubat, harus perbaiki keyakinannya kemudian melafalkan ulang dua kalimah sahadat. Karena, dia selama ini dapat disebut sebagai telah keluar (murtad) dari Islam. Sudah di luar kita, dia sudah bukan Muslim lagi, sebagai akibat menjalankan ajaran Islam dengan penafsiran sendiri, terhadap sejumlah ayat-ayat Alquran, ” tandas Tuan Guru H. Mustamiuddin, Ketua Komisi Fatwa MUI NTB. (si/headlineislam.com)


EmoticonEmoticon