Surat Wasiat (Imajiner) Mevlut Mert Altintas (Penembak Dubes Rusia)


Headlineislam.com - Hanya karena aku dianggap anggota FETO, kalian memvonis tindakanku membunuh Dubes Rusia sebagai order Gulen untuk merusuhi agenda yang dirancang Erdogan. Kalian yang terlanjur mengelu-elukan Erdogan sebagai Khalifah, menilai tindakanku merusak rencana perundingan Erdogan dengan Putin terkait nasib warga sipil Suriah.

Hanya karena aku dianggap anggota Gulen, maka aku tak layak menyandang gelar mujahid. Pekikku soal Aleppo dan Suriah, tidak pernah kalian gubris. Baiat jihad kaum Anshar kepada Nabi kita yang kulantangkan sesaat setelah si durjana Rusia itu roboh, kalian anggap sebagai angin lalu. Tapi, tak mengapa. Bagiku itu bukan masalah. Toh, masih banyak pihak selain kalian yang mendengar kata-kataku tersebut, bukan?

Hanya karena aku dianggap seorang Gulenis, kalian mengecamku. “Nabi SAW mengutuk pembunuhan terhadap seorang duta musuh, meski dalam peperangan.” Bejibun dalil kalian ungkap di media yang kalian punya. Mulai dari website pengeruk uang iklan dari Google hingga ruang privat dan japri di WA.

Bagiku, permasalahannya tidak sesederhana yang kalian pikirkan. Apakah sama kedudukan seorang duta besar dalam tatanan dunia di bawah PBB seperti sekaranng ini, dengan zaman Nabi SAW dahulu? Apakah Turki bisa disebut sebagai negara Islam yang memiliki kedaulatan untuk memberikan jaminan keamanan sebagaimana dahulu Muhammad SAW memberikannya kepada duta dari musuh?

Ups, maaf kalau saya mempertanyakan status Turki. Tapi taruhlah Turki sebagai negara super Islami dan bakal calon kuat sebuah kekhilafahan Islam Raya. Apakah tindakan memberi jaminan keamanan bagi si Dubes durjana itu bisa dibenarkan secara syar’i, pada saat puluhan ribu umat Islam dibunuh dan tanah air Islam dirampas oleh Rusia?

Setidaknya saudaraku, bagiku hukum ini masih diperdebatkan karena bertalian dengan berbagai hal yang tidak sederhana, seperti ahkamud diyar was sulthon. Kalian boleh menganggap aku salah. Oke, aku terima. Tapi tolong berikan samahah kepada aku dan orang-orang lain yang berbeda pendapat dengan kalian dalam masalah ini.

Benarkah aku betul-betul anggota FETO? Ah, nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada gunanya aku memberikan bukti dan klarifikasi. Kalian tidak akan percaya—terlebih karena aku telah terbujur kaku menjadi jenazah. Aku telah mati, dan sama seperti kalian, aku akan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah terkait saudara-saudara kita di Aleppo.

Tentang tangis anak-anak kecil yang memelas. Tentang suami yang meminta fatwa ulama agar dibolehkan membunuh istri dan anak perempuannya agar tidak dirusak kehormatannya oleh Assad dan begundalnya. Juga tentang jeritan saudari-saudari Muslimah kita yang menjerit dalam sekapan para durjana itu, “Kalau kalian tidak mampu membebaskan kami, tolong beri kami pil anti hamil.”

Terlepas FETO atau bukan, aku hanya ingin menegaskan keinginanku menyelamatkan kehormatan Tuan Erdogan. Kemarin, kritik pedas terlontar ke pemimpin dambaan sejuta umat (penyanjungnya) itu. Gara-garanya, kekuatan militer Erdogan bungkam meski hanya berjarak 25 Km dari Aleppo, saat kota itu dibumihanguskan oleh Assad dan sekutunya.

Baiklah, aku bisa memaklumi alasan Tuan kita Erdogan. Kalau militer Turki turut campur, itu akan membenturkan Tuan kita Erdogan dengan publik sedunia, kan? Baiklah, aku tahu posisi sulit Tuan kita Erdogan. Justru dengan aksiku kemarin, aku ingin menyelesaikan semua masalah. Turki tetap tercitrakan baik, santun dan aman dari amukan Rusia, namun dari bangsa Turki pulalah sakit hati umat Islam (sedikit) terobati. Sekali mendayung dua pulau terlampaui, dan tangan serta muka Tuan kita Erdogan tetap bersih dan kinyis-kinyis. Seperti bersihnya Gulen yang sudah menyatakan berlepas diri dari tindakanku.

Terlepas dan FETO atau bukan, aku sempat tertawa ketika ada yang mengaitkan aku dengan Al-Qaidah. Apa hanya karena aku memiliki tampang yang ganteng dan penampilan stylish—modal utama untuk menyusup? Atau karena aku melokalisir korban fokus di Dubes durjana itu, tidak merembet ke korban sipil? Atau… hanya karena aku lantang menegaskan motivasi dari tindakanku itu, sebagaimana eksekutor Charlie Hebdo?

Yang jelas, bagi mereka terasa aneh, kalau ada kelompok FETO yang nekat melakukan serangan seorang diri yang pasti berujung kepada kematian. Bukankah kudeta yang konon didalangi FETO kemarin itu main keroyokan?

Ah, sudahlah, aku ingin mengakhiri segenap debat kusir soal statusku. Apakah aku suruhan FETO, Jabhah Fathus Syam, atau bahkan Al-Qaidah. Itu tidak perlu.

Aku hanya ingin meminta maaf kepada seluruh kaum Muslimin kalau tindakanku ini menuai pro dan kontra yang cukup sengit di antara kalian—meski kalau kalian sadari, aksiku kemarin berhasil menyatukan dua kutub yang selama ini  berseteru, kelompok Erdoganist dan kaum Salafi yang membebek penguasa, dalam opini yang sama.

Aku minta maaf untuk itu semua. Ijinkan aku pergi menyusul anak-anak Suriah. Aku ingin menyusul mereka dengan kondisi tubuh yang sama; terluka bersimbah darah. Karena aku adalah bagian tak terpisahkan dari mereka. Aku adalah Aleppo, dan Aleppo adalah aku.

Demikian surat wasiat imajiner, anggap saja dari saudaramu yang ganteng,

Mevlut Mert Altintas

Digagas oleh: Hamdan│Kiblat.net│Headlineislam.com


EmoticonEmoticon