Fatwa Ulama Besar Salafi Tentang Demonstrasi Menuntut Ahok


Headlineislam.com – Terjadi demonstrasi besar-besaran di DKI Jakarta dan di berbagai provinsi di indonesia menuntut Ahok si ba'udeh kafir agar di hukum berdasarkan Undang-undang yang berlaku. Alasannya, karena Ahok si ba'udeh Kafir ini menghina kitab suci Al-Quran yang menjadi undang-undang dasar dalam syariat Islam. Dunia pun mengecamnya, termasuk Ikatan Ulama Internasional. Ummat islam dunia menuntut agar Ahok si Ba'udeh Kafir ini di lengserkan dan di proses secara hukum!

Lalu, muncul berbagai tulisan kaum Talafi dan Murji'ah modern yang dengan entengnya mengharamkan demonstrasi secara mutlak tanpa tafshiil (perincian). Bahkan, ada seorang da'i Talafi yang mengeluarkan "fatwa" bahwa para Demonstran itu halal darahnya. Wal-'iyaadzubillah. Demikianlah "fatwa" berdarah yang lebih keji daripada khawarij sekalipun.

Lalu, yang mulia Al-Ustadz Ja'far Shalih Hafizhahullah mengajukan pertanyaan kepada Syaikh Al-Fadhil Prof.Dr. Abdullah Ad-Dumaiji Hafizhahullah (Dosen besar bidang Aqidah Universitas Ummul Quro, Mekkah Saudi Arabia).

Berikut tanya-jawab Al-Ustadz Ja'far Shalih.

Tanya: Assalamualaikum Warahmatullah Wabatakatuh.

Wahai Fadhilatus-Syaikh, bagaimanakah cara mengingkari kemungkaran terhadap orang yang mengolok-olok Al Qur'an dan menuduhnya sebagai kebohongan. Ucapan seperti ini telah diucapkan oleh Gubernur Ibukota Jakarta yang beragama Kristen. Semua muslim mengingkari perbuatannya dan melakukan demonstrasi menuntut pengadilan untuk orang kafir ini.

Jawaban Syaikh: Wa'alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.

Pernah terjadi kondisi seperti ini pada zaman Ibnu Taimiyah rahimahullah. Ketika itu ada seorang kafir dzimmi namanya Assaf yang mencaci Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Perbuatannya ini diketahui orang-orang sehingga terjadilah kegaduhan. Lalu pergilah Ibnu Taimiyah dan Al-Fariqi (Syaikh dari Daarul Hadits pada masa itu) menemui penguasa mengabarkannya dan menuntut perlindungan dan pengadilan atasnya.

Orang-orang telah terbakar kecemburuannya karena menjaga kehormatan Nabi-nya. Maka penguasa ini berkata kepada Ibnu Taimiyah dan Al Fariqi: "Kalian berdua telah membuat orang-orang terbakar amarahnya". Lalu si penguasa ini pun menahan mereka berdua.

Hanya saja si kafir dzimmi ini telah menjadi demikan takut, kemudian dia pun mengumumkan keislamannya dan pergi. Di jalan dia bertemu saudaranya dan saudaranya ini pun membunuhnya.

Terkait peristiwa inilah Ibnu Taimiyah menulis kitabnya yang berjudul "As-Sharimul Maslul 'Ala Syatimir-Rasul" [Pedang terhunus atas pencaci Rasulullah].

Yang penting, bahwa mengingkari kemungkaran dan menuntutnya di adili bisa dengan cara apa saja yang mubah yang diizinkan oleh undang-undang negeri itu. Apabila undang-undang negeri tersebut mempersilahkan melakukan pengingkaran dengan cara demonstrasi dan pengerahan massa, maka silahkan. Atau dengan melakukan pelaporan dan melayangkan surat atau telegram atau yang lainnya dari sarana-sarana pengingkaran. Dengan syarat tidak menimbulkan kemungkaran-kemungkaran lainnya seperti pengerusakan harta orang lain, membakar mobil mereka, memecahkan kaca-kaca pertokoan sebagaimana ini biasa terjadi pada kekacauan dan kekisruhan yang ada pada aksi-aksi demonstrasi. Wallahua'lam.

-Demikian Jawaban Fadhilatu Syaikh, salah seorang Ulama besar Salafi di Saudi Arabia-
Singkat kata, Demonstrasi sebesar apapun bila dilakukan atas dasar amar ma'ruf nahi mungkar dan tidak dengan membuat kerusakan dan madhorot atas kaum muslimin, hukumnya adalah jaa-izun syar'i (diperbolehkkan secara syar'i). selama Demonstrasi itu tidak dilarang oleh Undang-undang yang berlaku.

Demikianlah fatwa Ulama besar Salafi yang kami pegang teguh sampai hari ini. Adapun fatwa-fatwa yang mengharamkan Demonstrasi secara mutlaq tanpa perincian dari kalangan para penjilat penguasa Thoghut dan Kaum Talafi, maka kami berlepas diri daripadanya. Wallahul Musta'an. 

Ditulis : Maaher At-Thuwailibi │ [mt/headlineislam.com]

Headlineislam.com adalah portal media Islam yang berpihak kepada kebenaran dan kaum Musliman Ahlussannah wal Jama’ah. Dan juga sebagai wadah yang menampung berita dan artikel-artikel bermanfaaat untuk dijadikan konsumsi bacaan maupun referensi.