Perkembangan Islam dan Pendidikan di Madura



Oleh : Abrori dan Sofiuddin[1]

Headlineislam.com – Menelaah isi buku “Dari Perbendaharaan Lama”, disitu Buya Hamka menulis, usia Islam di Madura setua masuknya Islam ke Jawa, bahkan sebelum Majapahit runtuh. Islam menjadi agama mayoritas disana karena peran keraton, pesantren dan santri. Para pedagang juga punya peran islamisasi yang tak kecil, skripsi Herman Busri (Fakultas adab UIN yogyakarta, 2014) membuktikan bahwa pedagang gujarat pertama kali datang ke pulau garam itu melalui pelabuhan Kalianget, Sumenep pada abad ke 7 M. Islamisasi berikutnya pada abad 14 M, gencar dilakukan pendakwah dari pulau Jawa (misal: dewan walisanga).

Salah satu anggota walisanga adalah Sunan Giri. Sunan Giri mengutus dua santrinya yang ke-turunan Arab yang bernama Sayyid Yusuf al-Anggawi untuk Madura bagian timur (Sumenep dan pulau-pulau di sekitarnya) dan Sayyid Abdul Mannan al-Anggawi untuk Madura bagian barat (Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan). Makam Sayyid Yusuf al-Anggawi terletak di Desa Talango Pulau Poteran yang berhadapan dengan pelabuhan Kalianget.Sedangkan makam Sayyid Abdul Mannan al-Anggawi terletak di Desa Pangbatok Kecamatan Proppo Pamekasan, yang lebih dikenal dengan sebutan Buju’ Kasambih  (lihat Afif Amrullah dalam jurnal Islamuna, Juni 2015, hal 60-61).

Islam yang ada dan berkembang di Madura adalah Islam kultural, yang berbasis pada tradisi masyarakat. Tradisi-tradisi lokal Madura yang sudah ada sejak zaman pra-Islam, dimodifikasi, dan kemudian disisipi nilai dan spirit Islam agar menjadi budaya yang Islami. Di Madura Mayoritas pengikut NU. Tetapi ada juga Muhammadiyah dan yang berpenampilan Salafi. Sisanya adalah Syiah rafidah (contoh : Tajul Muluk di Sampang). NU, bagi orang Madura diyakini sebagai paham keagamaan itu sendiri. Bahkan masyararakat awam, sulit membedakan antara Islam dan NU.

Masalah pendidikan di pulau ini masih belum sebagus pulau Jawa. Di Pamekasan, rata-rata sekolah swastanya gratis. SMP Badrul Ulum dimana dulu kami bersekolah, siswanya tidak dipungut uang SPP. Akan tetapi disuruh bayar uang buku sebesar Rp 500. Kegiatan belajar dan mengajar di Pamekasan hanya berlangsung sampai pk 11.00 wib. Tak lupa kami dan kawan-kawan sholat dhuhur berjamaah. Ba’da ashar, harus kembali ke sekolah, karena disana ada kegiatan madrasah diniyah (Madin). Madin hanya berlangsung satu jam. Yang dipelajari dalam madin adalah kitab turats, kyai atau ustadz menjelaskan isi kitab kepada para siswa.

Madrasah di Pamekasan kondisinya yang terakreditasi B masih sedikit. Oleh karena itu, tahun lalu pemerintah Australia memberi bantuan peningkatan mutu pengajar. Pengajar di madrasah diberi workshop kurikulum KTSP dan Kurikulum 2013. Tujuan bantuan dari Australia ini agar mutu madrasah sesuai dengan standar pendidikan nasional (Okezone, 28 April 2015).

Di Pamekasan, terdapat lima pesantren yang cukup masyhur. Pertama, pesantren Darul Ulum di Banyu Anyar. Pesantren ini disebut-sebut sebagai yang tertua di pulau Madura. Kedua, Pesantren Mambaul Ulum di Bata-bata. Jumlah santrinya lebih dari 500 orang. Ketiga, Pesantren Miftahul Ulum di kampung Panyepen. Pesantren ini memiliki kampus STAI Miftahul Ulum yang dibangun sejak akhir tahun 1980-an. Keempat, Pesantren Miftahul Ulum di Bettet. Di sini santri diajari berbahasa Madura yang halus dan bahasa Inggris. Pesantren ini punya cabang di Kalimantan Selatan. Kelima, Pesantren al-Huda di Sumber Nangka. Bila mondok disini, santri akan diberi kursus komputer dan pramuka.

Perlu diingat, Orang madura suka merantau seperti halnya suku Minang dan Bugis. Di Bali mereka mendirikan kedai/warung. Bagi pembaca yang tamasya kesana dan ingin mencari makanan halal, datangi saja kedainya orang Madura. Di sekitar tengger, orang Madura juga punya andil dalam masuknya warga Tengger ke dalam Islam. Di wilayah Tapal kuda, jawa timur, orang Madura membangun Madrasah diniyah, pesantren dan TPQ. Di kota Malang, sebuah kota berhawa sejuk, orang Madura membangun komunitas di sekitar pasar Besar, pasar Kebalen, kampung Buring, kampung Kotalama, Jodipan dan wilayah Polehan. Mereka lebih suka mengirim anak-anaknya ke pesantren ketimbang sekolah umum. Alasannya, supaya mendapatkan pendidikan agama yang maksimal. Wallahu’allam.



[1] Penulis adalah alumni SMP Badrul Ulum, kini menuntut ilmu di Pondok Pesantren Muhammadiyah al-Munawwaroh kota Malang.

Headlineislam.com adalah portal media Islam yang berpihak kepada kebenaran dan kaum Musliman Ahlussannah wal Jama’ah. Dan juga sebagai wadah yang menampung berita dan artikel-artikel bermanfaaat untuk dijadikan konsumsi bacaan maupun referensi.