Pada 1888, Terjadi Perang di Cilegon Akibat Pelarangan Adzan

Kaum Santri yang menjadi pejuang kemerdekaan Indonesia
Headlineislam.com – Dalam buku "Dari Perbendaharaan Lama" yang ditulis oleh Buya Hamka pertama kali pada tahun 1955, dimuat kisah tentang "Pemberontakan Haji Wasith" di Cilegon, Banten, pada 1888. Pemberontakan itu diantaranya terjadi karena pemerintah kolonial dan para aparaturnya yang berasal dari pribumi abangan (residen, asisten residen, wedana, patih, dll), berupaya mengusik umat Islam, terutama terkait dengan menara langgar (mushalla) dan shalawat jelang adzan yang sering terdengar dari menara-menara langgar tersebut.

Dalam sebuah lembarannya, Buya Hamka menulis, "Pada hari Senin malam, tanggal 9-10 hari bulan Juli 1888, kira-kira pukul setengah empat parak siang, bergeraklah pemberontakan mengepung Cilegon. Hadji Wasith dengan pengiringnya masuk dari sebelah utara dan Hadji Ismail dan pengiringnya menyerang dari sebelah selatan. Tujuan utamanya ialah Patih, Raden Pennah, orang pegawai negeri yang kebelanda-belandaan, yang berani memerintahkan meruntuhkan menara langgar dan melarang orang terahim (zikir jelang adzan) dan shalawat, karena mengganggu telinga Tuan Asisten Residen....

Dengan sorak tahlil yang dahsyat dan seram, pemberontak telah masuk ke dalam kota Cilegon mencari musuh-musuhnya, orang yang mereka pandang menghalangi agama Islam.

Assisten Residen Goebels yang kenyenyakan tidurnya tidak mau diganggu suara azan subuh, tarahim dan salawat, itu mengalami luka-luka berat dalam pertempuran yang kemudian mengantarkannya pada kematian. [suara-islam]

Sumber : Buya Hamka, "Dari Perbendaharaan Lama, hlm. 87-88.

Headlineislam.com adalah portal media Islam yang berpihak kepada kebenaran dan kaum Musliman Ahlussannah wal Jama’ah. Dan juga sebagai wadah yang menampung berita dan artikel-artikel bermanfaaat untuk dijadikan konsumsi bacaan maupun referensi.