Klaim Halal, Produsen Bihun Kekinian Terancam Pidana



Headlineislam.com – Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia menegaskan, lembaga tersebut tidak pernah mengeluarkan sertifikat halal atas produk bihun kekinian (bikini) yang belakangan menghebohkan masyarakat.

Selain mengklaim halal dengan menampilkan logo halal buatan sendiri, gambar kemasan makanan ringan itu juga mengandung konten pornografi.

Penegasan ini disampaikan Wakil Direktur LPPOM MUI Bidang Auditing dan Sistem Jaminan Halal (SJH) Muti Arintawati.

“Kalau produk dengan kemasan seperti itu diajukan sertifikasi halal ke LPPOM MUI, pasti ditolak karena kontennya mengandung pornografi dan tidak mendidik,” ungkap Muti sepert dikutip website resmi LPPOM MUI, Rabu (04/08/2016).

Sementara itu, Direktur Indonesia Halal Watch, HM. Ikhsan Abdullah menyatakan, klaim halal dari produsen Mi Bikini sangat menyesatkan konsumen, dan masuk dalam ranah pidana penipuan seperti diatur di dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen nomor 8 Tahun 1999.

“Kami sedang menyiapkan langkah-langkah hukum untuk produsen Mi Bikini,” kata Ikhsan. 

Menurut Pasal 4 huruf h undang-undang tersebut, konsumen berhak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. Juga sudah menjadi kewajiban pelaku usaha untuk memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian (Pasal 7 huruf g UUPK).

Selanjutnya, disebutkan dalam Pasal 8 ayat (1) huruf f UU Perlindungan Konsumen bahwa pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket, keterangan, iklan atau promosi penjualan barang dan/atau jasa tersebut. (FMS)

Sebelumnya, beredarnya makanan ringan berkonten porno, Mi Bikini atau Bihun Kekinian, menuai kecaman. Pemerintah pun diminta untuk menghentikan penjualan maupun peredarannya.

Dari penelusuran Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Mi Bikini, diduga baru dipasarkan melalui media sosial dan daring (dalam jaringan). "BPOM harus menegur produsennya. Penjualannya via pasar daring agar segera dihentikan," kata Ketua YLKI, Tulus Abadi, Rabu, 3 Agustus 2016, seperti dikutip viva.co.id.


Dari sisi tampilan kemasannya, Mi Bikini mengandung tajuk tidak mendidik. Di sampul depan dan belakang terlihat gambar tubuh wanita mengenakan bikini (bra dan celana dalam).  Di setiap kemasan juga disertai tulisan, 'Remas Aku'. Dan ada tulisan “halal” dengan huruf Arab. Produk  tersebut dipasarkan secara online. 

Dari deskripsi barang yang dijual, Mi Bikini adalah produk makanan ringan dari bihun dan memiliki empat rasa, pedas, balado, pizza dan jagung bakar. Harga yang ditawarkan kepada calon pembeli antara Rp15 ribu - Rp20 ribu per bungkusnya. [suara-islam.com]

Headlineislam.com adalah portal media Islam yang berpihak kepada kebenaran dan kaum Musliman Ahlussannah wal Jama’ah. Dan juga sebagai wadah yang menampung berita dan artikel-artikel bermanfaaat untuk dijadikan konsumsi bacaan maupun referensi.