Wajib Mentaati Pemimpin Berhati Setan???


Oleh : Maaher At-Thuwailibi

Headlineislam.com – Seseorang melayangkan pertanyaan secara halus lewat WhatsApp: Ustad, bagaimana cara menafsirkan dua hadist Rasulullah ini;

Yang pertama; Hadits dari Al-‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memberi nasihat kepada kami dengan satu nasihat yang menggetarkan hati dan menjadikan air mata berlinang.” Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan adalah nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ

“Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)”.  (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)

Tolong jelaskan yang dimaksud  dengan pemimpin hamba sahaya ini.

Yang kedua: Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dari Hudzaifah Ibnul Yaman, Rasulullah bersabda: "Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia.”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”

Beliau bersabda, “Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847)

Bagaiamana menafsirkan pemimpin yang tidak mendapat petunjuk dan berhati setan itu, Ustad?...

------------------------

Saya jawab pertanyaan antum, dan antum baca baik-baik jawaban saya.

Pertama: Hadits-hadits yang antum nukil di atas selalu diulang-ulang oleh para penjilat muka penguasa.

Tapi anehnya, kenapa hadits-hadits tentang para syuhada' yang terbunuh melawan pemimpin zhalim tidak pernah mereka bahas? tidak pernah mereka dengang-dengungkan!?

Sabda Nabi, "Jihad yang paling afdhal adalah amar ma'ruf nahi munkar kepada pemimpin zalim", ini juga kan hadits shahih , sebagaimana hadits-hadits yang antum nukil diatas, tetapi kenapa juga nyaris tidak pernah dibahas? Disinilah letak standar gandanya kaum talafi penyembah penguasa. Syariat menjadi keset di bawah kaki mereka demi kekuasaan. Maka pantas jika Jokowi diisukan akan menghapus perda syariah pun mereka adem ayem saja diam seribu bahasa bagaikan tikus-tikus kejepit pintu. Kenapa? Karena alasannya harus mendengar dan taat pada pemimpin berhati setan.

Kedua: Dua hadits yang antum bawa diatas, tidaklah bermasalah sama sekali. Kedua hadits diatas di sepakati keshohihannya oleh para Ulama (sebagaimana yang antum katakan). Tidak ada masalah pada dua hadits diatas. Yang menjadi masalah adalah pemahaman orang yang berhujjah dengan dua hadits itu dan cara beristinbath dengan dua hadits itu, itu yang bermasalah.

Ketiga: Untuk menetapkan suatu perkara dalam syariat, apalagi terkait Ushul agama, yakni ketaatan pada pemimpin, harus menggunakan ilmu dan kaedah. Bukan asal comot satu dua hadits lalu di jadikan hujjah untuk menetapkannya.

Contoh prilaku asal comot itu, ya sebagaimana yang dilakukan para penyembah muluk (para penguasa) itu. Yakni mencomot satu dua hadits lalu menetapkan hukumnya begitu saja tanpa perincian dan tanpa kaedah-kaedah yang mengikat.

Keempat: kedua hadits yang antum bawakan di atas tidaklah bermasalah, hanya saja betapa liciknya jika berhujjah dengan satu dua hadits mutlaq tanpa mengindahkan hadits-hadits senada lainnya yang bersifat muqoyyad.

Baginda Rasulullah 'Alaihi Shalawatu Wa Salam bersabda :

إن أُمِّر عليكم عبدٌ مُجدَّعٌ أسودُ ، يقودُكم بكتاب اللهِ تعالى ، فاسمَعوا له وأَطيعوا " .

“Jika kalian di pimpin oleh seorang hamba sahaya yang hitam berambut keriting, yang memimpin kalian DENGAN KITAB ALLAH, maka taatlah kepadanya.” (Ini hadits shahih riwayat Imam Muslim )

LIHAT !! kata Rasulullah, "Maka Taatlah kalian selama ia memimpin dengan KITABULLAH !! Inilah hadits yang menjelaskan (atau tafsir) dari hadits yang antum tanyakan diatas.

Pertanyaan saya, apakah sama pemimpin yang memimpin dengan KITABULLAH, dengan pemimpin yang memimpin berdasarkan UNDANG-UNDANG PENJAJAH ?

Apakah sama pemimpin zhalim namun menegakkan KITABULLAH dalam undang-undangnya (seperti Hajjaj Bin Yusuf Ats-Tsaqofi), dengan pemimpin zhalim yang dikabarkan akan menghapuskan perda syariah semacam JOKOWI !!?? Kalla wa Alfi Kalla !! Sama sekali tidak.

* Kemudian, dalam hadits lain beliau bersabda:

إنَّ هذا الأمرَ في قريشٍ ، لا يُعاديهم أحدٌ إلا كبَّه اللهُ على وجهِه ، ما أقاموا الدينَ

“Sesungguhnya urusan ini (kepemimpinan kaum muslimin) adalah dari Quraisy, tidak ada seorangpun yang menentangnya kecuali akan di campakkan oleh Allah wajahnya di neraka, selama MEREKA MEMIMPIN DENGAN MENEGAKKAN DIN.”

(Ini hadits Shahih riwayat Imam Bukhari dari sahabat Muawiyyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu'anhuma)

Lihat, kata Rasulullah meskipun yang memimpin adalah kaum Quraisy, maka WAJIB mentaatainya selama mereka menegakkan din (agama)! Apakah kurang jelas lagi? Dari sabda Nabi ini sangat jelas bagi orang-orang berakal bahwa syarat mendengar dan mentaati pemimpin, itu tidak bersifat mutlak. Ini sudah capek kami bahas berulang-ulang. Tetapi tidak juga menyentuh fikiran mereka. Allah Yahdihim.

Pertanyaan saya, kemana hadits-hadits ini??? Mengapa tidak pernah di nukil dan di dengang-dengungkan oleh para pemyembah penguasa (kaum mulukiyyah) itu!!??

Sehingga, hadits-hadits yang antum nukil itu seharusnya di jama'kan (dikolerasikan) dengan hadits-hadits senada lainnya, kemudian diambil kesimpulan hukumnya berdasarkan kaedah-kaedah. Bukan main comot satu dua hadits lalu menetapkannya begitu saja dan orang-orang yang menyelisihinya langsung di vonis "Khawarij", ini namanya salah kaprah !

Kelima: Setelah kita menjama'kan hadits-hadits tentang wajibnya mendengar dan taat pada ulil amri, maka kembalikan pemahaman tentang ulil amri itu kepada para Ulama. Artinya, baca dan lihat penjelasan para Ulama dan Imam-imam Ahlus Sunnah terkait makna Ulil Amri dan penjelasan mereka tentang siapa dan bagaimana Ulil Amri itu. Sehingga tidak main comot!

Bacalah dengan seksama..

Satu: Di dalam kitab fathul qadir 1/556, Imam Syaukani Rahimahullah mengatakan:

والأولى الأمر : هم الأئمة والسلاطين، والقضاة وكل من كانت له ولاية شرعية لا ولاية طاغوتية

"Ulil Amri adalah para imam, penguasa, hakim, dan semua orang yang memiliki kekuasaan yang syar'i (yakni sesuai syariat) bukan kekuasaan Thoghut".

Lihat dan cermati; Apa kata Imam Syaukani tentang makna Ulil Amri... jangan main comot sendiri. .

Dua: Dalam kitab Majmu' Fatawa wa Maqolatun Mutanawwi'ah 1/ 117 cetakan Daarul Qasim lin Nasyr-Riyadh, Syaikh bin Baz Rahimahullah mengatakan :

لأنه ليس كل حاكم يكون عالما يصح منه الإجتهاد، كما أنه ليس كل حاكم سواء كان ملكاً أو رءيس جمهورية يسمي أمير المؤمنين، وإنما أمير المؤمنين من يحكم بينهم بشرع الله ويلزمهم به، ويمنعهم من مخالفته، هذا هو المعلوم بين علماء الإسلام والمعروف بينهم.

“...Karena tidaklah setiap pemimpin di namakan seorang alim yang sehinngga di benarkan ia berijtihad, sebagaimana tidaklah setiap pemimpin, baik itu kedudukannya sebagai raja atau presiden di namakan "AMIRUL MUKMININ" (Ulil Amri), karena yang di namakan "AMIRUL MUKMININ (Ulil Amri) hanyalah seseorang yang berhukum di antara rakyatnya dengan SYARIAT ALLAH dan mengharuskan mereka atas itu, dan melarang mereka untuk menyelisihinya. Inilah yang telah di ketahui di antara Ulama Islam dan di kenal di kalangan mereka para ulama.”

-selesai-

Lihat ! Baca... Apa yang dikatakan Syaikh bin Baz di atas adalah penjelasan tentang Ulil Amri berdasarkan terminologi syariat.

Lagi-lagi jangan main comot, wahai Saudaraku...

Asal sudah jadi pemimpin, berkuasa, dengan cara apapun, maka ia langsung dianggap Ulil Amri dan wajib mendengar dan mentaatinya. Kalau begitu, kafir belanda yang menguasai indonesia selama 350 tahun (dalam jajahannya), antum anggap Ulil Amri dong ??!! Sehingga konsekuensi logisnya -dari buah fikir sungsang seperti ini- para pahlawan kemerdekaan itu "khawarij" semua..!!??

Demikian pula Israel Yahudi yang sampai detik ini menguasai palestina (dalam jajahannya), dianggap Ulil Amri dong? Karena mereka berkuasa disana, sehingga konsekuensi logisnya -dari buah fikir prematur ini- Mujahidin Hamas dan semua pejuang kemerdekaan palestina itu "khawarij" semua !!???

Tiga: Praktek para Ulama; diantaranya sikap keras Imam An-Nawawi Rahimahullah terhadap penguasa yang sewenang-wenang memungut biaya perang ke rakyata jelata yang susah, yang membuat Imam An-Nawawi Asy-Syafi'i Rahimahullah dibuang ke Nawa!? Kenapa sejarah emas ini tidak pernah di bahas oleh Kaum Talafi penyembah Muluk itu??

Kemudian sikap keras Al-Imam Izzuddin bin Abdi As-Salam Rahimahullah yang sampai menjual rajanya sendiri.

Lihat, ini di antara praktek para Imam Ahlus Sunnah di masa lalu terhadap penguasa-penguasa mereka. Tentunya mereka bukanlah orang-orang bodoh yang tidak tahu hadits-hadits yang di dengang-dengungkan kaum Talafiyyun itu. mereka tahu dan sangat tahu, tapi mereka tidak paham bagaimana menempatkannya. Wallahu A'lam.

Fa'tabiruu Yaa Ulil Albab...


Headlineislam.com adalah portal media Islam yang berpihak kepada kebenaran dan kaum Musliman Ahlussannah wal Jama’ah. Dan juga sebagai wadah yang menampung berita dan artikel-artikel bermanfaaat untuk dijadikan konsumsi bacaan maupun referensi.