Menanggapi Seorang 'Ustadz'


Oleh : Maaher At-Thuwailibi

Headlineislam.com Saya tergelitik mendengarkan ceramah seorang ustadz di media sosial dewasa ini. Ia berceramah yang intinya bahwa kalau mau pemimpin baik maka umat harus baik dulu. Jangan menuntut pemimpin baik kalau masyarakatnya saja tidak baik. Lalu, untuk menguatkan logikanya itu, ia membawakan statemen Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu'anhu yang saat ditanya oleh seseorang, “Kenapa di zamanmu umat tertimpa fitnah sedemikian rupa, tidak seperti di zaman Abu Bakar dan Umar?” Ali menjawab, “Di zaman Abu Bakar dan Umar masyarakatnya seperti aku, sedangkan di zamanku masyarakatnya seperti kamu dan orang-orang semisalmu.”

Membawakan statemen Ali bin Abi Thalib di atas, sang ustadz menyimpulkan bahwa kalau ingin pemimpin baik, masyarakatnya harus baik dulu. Begitu kira-kira.

Jawaban saya:

-        Ini adalah logika terbalik. Bagaimana mungkin pemimpin baik rakyatnya harus baik dulu. Yang ada adalah rakyat menjadi baik tergantung pemimpinnya. Pemimpin dengan masyarakat itu ibarat kereta api. Pemimpin itu kepalanya, dan rakyat adalah gerbongnya. Yang namanya gerbong pasti ikut kepala, mana ada kepala ngikutin gerbong. Ada-ada saja. Dalam rangkaian shalat berjama'ah misalnya, yang ada ialah makmum ngikut imam, tidak ada sejarahnya imam yang ngikutin makmum. Kalau shalat berjamaah yang dipimpin imam bagus, maka baguslah shalat berjamaah itu. Tetapi jika imam pemimpin shalat berjamaah itu tidak bagus, ya tentu tidak bagus lah rangkaian shalat berjamaah itu. Singkat kata, rakyat itu ikut pemimpin, bukan pemimpin ikut rakyat.

-       Logika lain; Pemimpin masyarakat DKI Jakarta adalah Ahok (orang kafir peminum khamr), ya tentu masyarakatnya akan santai-santai saja minum khamr. Bahkan khamr akan di perjual-belikan secara bebas. Kalau pemimpin masyarakat jawa Barat seperti Ustadz Ahmad Heryawan dan Bima Arya misalnya (pemimpin yang shalih dan anti maksiat), tentu masyarakat pun akan menjadi shalih secara bertahap.

-          Kenapa negeri ini nyaris hancur-hancuran dan dirundung masalah terus menerus? Jawabannya bukan karena rakyatnya yang tidak baik. Tetapi jawabannya sebagaimana hadits Rasulullah. Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

وما لم تحكم أئمتهم بكتاب الله عز وجل ويتحروا فيما أنزل الله إلا جعل الله بأسهم بينهم .(صحيح) [هـ ك] عن ابن عمر. الصحيحة ١٠٦

“Selama pemimpin-pemimpin mereka tidak berpegang kepada Kitabullah 'Azza Wa Jalla dan tidak berhukum degan apa yang Allah turunkan, maka Allah jadikan keburukan di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah dari Ibn Umar. Lihat kitab Ash-Shahihah No.106)

-       Kalau ustadz itu membawakan perkataan Ali, maka saya membawakan perkataan Nabi. Oleh sebab itu, sebuah kemestian memilih pemimpin yang pro-syariah, yang bisa menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai dasar di semua sisi kehidupan umat Islam. Bukan pemimpin macam Ahok. Sudahlah kafir, jahat, pengkhianat, anti syari'at pula. Maka, perlu antum ketahui bahwa besarnya pengaruh pemimpin yang shalih terhadap rakyat adalah salah satu hikmah dari syarat-syarat kepemimpinan Islam yang ketat.

-        Diriwayatkan dari Ziyad bin Hudair, bahwa Umar bin Khathab pernah berkata kepadanya,

ﻫَﻞْ ﺗَﻌْﺮِﻑُ ﻣَﺎ ﻳَﻬْﺪِﻡُ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡَ؟ ﻗَﺎﻝَ ﻗُﻠْﺖُ : ﻻَ. ﻗَﺎﻝَ : ﻳَﻬْﺪِﻣُﻪُﺯَﻟَّﺔُ ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻢِ ﻭَﺟِﺪَﺍﻝُ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻖِ ﺑِﺎﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺣُﻜْﻢُ ﺍﻷَﺋِﻤَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﻀِﻠِّﻴﻦَ.

“Tahukah engkau apa yang menghancurkan Islam?” Lalu Ziyad menjawab,“Tidak tahu.” Umar berkata, “Yang menghancurkan Islam adalah penyimpangan orang berilmu, bantahan orang munafiq terhadap Al-Qur’an, dan keputusan para pemimpin yang menyesatkan.” (Riwayat Ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya shahih).

Saya bawakan satu perkataan Nabi dan satu perkataan Umar.

Kesimpulannya: kalau rakyat mau baik, maka baiklah dulu pemimpinnya. Pemimpin itu suri teladan bagi rakyat. Jangan dibalik; rakyat adalah suri tauladan bagi pemimpin. Ini logika orang sinting. Allahu A'lam.

Editor : Arham

Headlineislam.com adalah portal media Islam yang berpihak kepada kebenaran dan kaum Musliman Ahlussannah wal Jama’ah. Dan juga sebagai wadah yang menampung berita dan artikel-artikel bermanfaaat untuk dijadikan konsumsi bacaan maupun referensi.