Bingung Tentang Bid'ah, Nantang Debat Ilmu Logika


Oleh : Ustadz Maaher At-Thuwailibi

Headlineislam.com – Tersebar sebuah artikel berjudul “Pertanyaan kepada wahabi yang tak akan pernah bisa mereka jawab,” yang isinya lumayan panjang. Intinya mempermasalahkan tentang lafadz hadits “kullu bid'atin dholalah wa kullu dholalatin finnaar” (setiap yang bid'ah adalah sesat dan setiap yang sesat masuk neraka).

Isi artikel ini setelah saya baca ulang-ulang, intinya njlimet, ruwet, dan bulet. Bukan soal tidak ingin menanggapi atau karena diri ini tak memiliki ilmu nahwu, tetapi jangankan orang “wahabi”, orang yang bukan wahabi sekalipun seakan tak bernafsu menanggapi artikel njlimet ini.

Tetapi tak mengapa, untuk sekedar refresing, tidak ada salahnya saya menanggapi artikel ini meskipun saya bukan wahabi. Hitung-hitung menambah wawasan.

Sebelum saya menanggapinya dengan singkat dan ringkas, ada baiknya untuk sekedar menghibur jiwa, Anda baca artikel di bawah ini secara tuntas dan baca pelan-pelan.

Pertanyaan Kepada Wahabi Yang Tak Akan Pernah Mereka Jawab

Karena wahabi masih bersikeras untuk mempertahankan pendapat mereka bahwa tidak ada bid'ah hasanah.

Kalau memang wahabi lebih faham dalam ilmu hadist, tolong terangkan kepada kami tentang hadist di bawah ini sesuai ilmu nahwu, shorof, mantiq dan balagoh.

Kata Nabi:

كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.

(Kullu muhdatsatin bid'ah wa kullu bid'atin dholalah wa kullu dholalatin finnaar).

Ingat disini terdapat pembahasan ilmu nahwu, shorof, mantiq dan balagah yang tinggi, bukan sembarangan terjemah....!!!

Jika memaknakan kalimat itu dengan: “SETIAP BID'AH ADALAH SESAT”, maka ini namanya terjemah, dan terjemah yang dangkal seperti ini tidak bisa diambil hukum untuk mengatakan tahlilan, yasinan, peringatan maulid nabi, isro mi'roj itu adalah bid'ah dholalah.

Mari kita kaji sedikit makna hadits tentang bid'ah dengan ilmu nahwu dan manthiq.

كل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Artinya; “Setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka.”

Dengan Membandingkan Hadist Tersebut dengan Surat Al-kahfi Ayat 79, yang mana Antara Keduanya sama-sama dihukumkan ke Kullu Majmu’ maka akan kita dapati pemahaman sebagai berikut:

Bid’ah itu “Kata Benda Tentu Mempunyai Sifat”, tidak mungkin ia tidak mempunyai Sifat Mungkin Saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas. Dalam Ilmu Balaghah dikatakan:

حذف الصفة على الموصوف

Artinya; “Membuang sifat dari benda yg bersifat.”

Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka terjadi dua kemungkinan;

Kemungkinan pertama:

كل بدعة اي حسنة ضلالة وكل ضلالة في النار

“Semua bid’ah (yg baik) sesat, dan semua yg sesat masuk neraka.”

Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil.

Kemungkinan kedua :

كل بدعة اي سيئة ضلالة وكل ضلالة في النار

“Semua bid’ah (yang jelek) itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka.”

Jelek dan sesat sejalan tidak bertentangan.

Hal ini terjadi pula dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah Membuang sifat kapal dalam Firman-Nya:


وكان وراءهم ملك يأخذ كل سفينة غصبا الأية ألكهف اية ٧٩

Artinya: “Di belakang mereka ada raja yg akan merampas semua kapal dengan paksa.” Al-Kahfi: 79

Keterangan Pelengkap Dalam Tafsir Ash-Showi Juz 3 Hal 28 cetakan Al-Hidayah

قوله سفينة اي صالحة وشرحه اي صحيحة

تفسير الصاوي ج ٣ ص ٢٨

Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyebutkan kapal yang baik adalah KAPAL JELEK karena yang jelek tidak mungkin diambil oleh raja.

Maka lafadz  كل سفينة  sama dengan  كل بدعة

Alias sama-sama tidak disebutkan Sifatnya Walaupun pasti punya sifat ialah kapal yang baik:

قوله سفينة اي صالحة وشرحه اي صحيحة

تفسير الصاوي ج ٣ ص٢٨

Kemudian,

كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

“Kullu muhdatsin bid’ah, wa kullu bid’atin dholalah, wa kullu dholalatin fin naar”

Dalam Hadits tersebut Rancu sekali kalau kita maknai SETIAP Bid’ah dengan makna KESELURUHAN, bukan SEBAGIAN. Untuk membuktikan adanya dua macam makna ‘kullu’ ini, dalam kitab mantiq ‘Sullamul Munauruq’ oleh Imam Al-Akhdhori yg telah diberi syarah oleh Syeikh Ahmad al-Malawi dan diberi Hasyiah oleh Syeikh Muhamad bin Ali as-Shobban tertulis:

الكل حكمنا على المجموع ٠ ككل ذاك ليس ذا وقوع

وحيثما لكل فرد حكما٠ فإنه كلية قد علما

شرح السلم الملوي ص ٧٨ حتى ٨٠

نبذة البيان ص ٤٩ حتى ٥٠

“Kullu itu kita hukumkan untuk majmu’ (sebagian atau sekelompok) seperti Sebagian itu tidak pernah terjadi, dan jika kita hukumkan untuk tiap-tiap satuan Maka dia adalah kulliyyah (jami’ atau keseluruhan) yang sudah dimaklumi”

Mari Perhatikan dengan seksama & cermat kalimat hadits tersebut. Jika memang maksud Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah SELURUH kenapa beliau BERPUTAR-PUTAR dalam haditsnya ?

Kenapa Rasululloh tidak langsung saja “KULLU MUHDATSATIN FINNAR” (setiap yang baru itu di neraka) ?

كل محدثة في النار

Kenapa Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam menentukan yang akhir yakni “kullu dholalatin fin naar” bahwa yang SESAT itulah yang masuk NERAKA?

Sedangkan setiap hal yg bersifat umum pastilah menerima pengecualian. Ini sesuai dengan pendapat Imam Nawawi:

قوله وكل بدعة ضلالة هذا عام مخصول والمراد غالب البدع

“Sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, “semua bid’ah adalah sesat” ini adalah kata-kata umum yg dibatasi jangkauannya. Maksud “semua bid’ah itu sesat”, adalah sebagian besar bid’ah itu sesat, bukan seluruhnya” (Syarh Shahih Muslim, juz 6 hal 154).

Lalu apakah SAH di atas itu dikatakan MUBTADA’ (awal kalimat)? Padahal dalam kitab Alfiyah (salah 1 kitab rujukan ilmu nahwu) tertulis :

ولا يجوز المبتداء بالنكراة

“Mubtada’ Tidak boleh terbuat dari isim nakiroh.”

KECUALI ada beberapa syarat, di antaranya adalah dengan sifat.

Andai pun mau dipaksakan untuk men-sah-kan mubtada’ dengan ma’rifah agar tidak bersifat UMUM pada ‘kullu bid’atin di atas, maka tetap ada sifat yang di buang (dilihat DARI SISI BALAGHAH).

-selesai-

Demikian artikel sang ahli logika yang menantang debat kaum 'wahabi'.

Jawaban saya:

Pertama: Fahami dulu baik-baik lafadz hadits Nabi itu. Lafadz nya:

"Kullu bid'atin dholalah wa kullu dholalatin finnaar" (setiap yang bid'ah adalah sesat dan setiap yang sesat tempatnya dalam neraka).

Intinya, kata-kata "kullu" itu dalam gramatika bahasa arab bermakna "setiap" atau "semua". Namun untuk hadits diatas, ia menerjemahkan dengan kata "sebagian". Maksudnya, ada sebagian bid'ah yang sesat dan ada sebagian bid'ah yang tidak sesat. Itu intinya. Ok. Baik....

Kedua: Kalau kaedah dia diatas kita benarkan, yakni bahwa kata-kata "kullu" dalam hadits itu bermakna "sebagian", maka berarti yang sesat juga sebagian-sebagian dong. Artinya, ada sebagian kesesatan yang masuk neraka dan ada sebagian kesesatan yang tidak masuk neraka?? 😊 bagaimana ini !!?? kalau yang dimaksud dalam hadits diatas adalah "sebagian bid'ah adalah sesat", berarti konsekuensinya "sebagian yang sesat tempatnya dalam neraka" ??? Wow??? Bagaimana mungkin "sebagian" kesesatan masuk neraka dan sebagian "kesesatan" masuk Surga?? 😊 anak TK juga tahu, yang namanya kesesatan semuanya masuk neraka. Tidak ada kesesatan yang masuk surga. 😊

Ketiga: Setelah berbelit-belit dalam ilmu nahwu, lalu ia menolak jika TAHLILAN, YASINAN, dan MAULIDAN di anggap sebagai bid'ah. seolah-olah dia paling faham bahasa arab dan ilmu nahwu.

Baik, ada sebuah kaedah yang disepakati, yaitu:

لو كان خيرا لسبقون اليه

"Seandainya perbuatan itu 'baik' tentulah Nabi dan para Sahabat lebih dulu mengamalkannya".

Sebuah kepastian, sepintar-pintarnya orang sekarang terhadap ilmu Nahwu, tentunya para SAHABAT Nabi jauh lebih pintar lagi. Nabi dan para Sahabat adalah manusia-manusia suci yang LEBIH FAHAM BAHASA ARAB. karena bahasa arab itu adalah bahasa mereka.

Nabi yang berkata "Kullu Bid'atin Dholalah" itu, tapi tak terdapat satupun riwayat dalam kutubus sittah bahwa Nabi melakukan tahlilan?!!  Itu fakta! 😊 iya kan..?!

Keempat: pertanyaan saya, kapan baginda Nabi memimpin Tahlilan?? Dan siapa yang mati? coba tunjukkan riwayatnya. !!?? Demikian pula mana dalil baginda Nabi memerintahkan baca yasin setiap malam jum'at?? Tunjukkan dalilnya. Karena ada kaedah:

الاصل في العبادة حرام او ممنوع حتى ان يكون دليلا يأمره.

"Hukum asal ibadah adalah haram/dilarang sampai ada dalil naqli yang memerintahkannya".

Para sahabat adalah Afshohun Naas fii lughoh 'arabiyyah, yaitu manusia-manusia yang paling fasih dan mengerti bahasa arab, aadaban wa mubaalaghotan. tetapi pertanyaan saya; sebutkan satu saja siapa sahabat Nabi yang memimpin tahlilan saat baginda Nabi wafat ??

Kalau seandainya perbuatan itu "Hasanah" (baik), tentu Nabi dan para sahabat lebih dulu melakukannya.

Maka, semua kaedah-kaedah njlimet yang anda sebutkan diatas sudah terjawab tuntas dan ringkas, meskipun saya BUKAN 'WAHABI'. 😊

Headlineislam.com adalah portal media Islam yang berpihak kepada kebenaran dan kaum Musliman Ahlussannah wal Jama’ah. Dan juga sebagai wadah yang menampung berita dan artikel-artikel bermanfaaat untuk dijadikan konsumsi bacaan maupun referensi.