Abu Hazim, Sahabat Nabi Yang Berani Kritik Pemerintah

Kezaliman aparat pemerintah membuat masyarakat resah.

Headlineislam.com Memang wajar bila ada kesalahan dilini pemerintahan untuk mengkritik dan menasihati pemerintah dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar. Hal ini dicontohkan oleh Sahabat Nabi Muhammad Sahllallahu ‘Alaihi wa Sallam bernama Abu Hazim.

Abu Hazim adalah sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang kedua matanya buta dan pincang. Ia berani mengkritik dan memberi nasihat kepada khalifah Sulaiman di depan para menterinya.

Waktu itu, Khalifah Sulaiman singgah di Madinah setelah menunaikan haji. Kemudia ia mengumpulkan para ulama dan bertanya, Apakah di sini ada yang melihat sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Seseorang menjawab, “Iya, di sini ada seseorang yang bernama Abu Hazim.”

Kemudian Khalifah Sulaiman memanggilnya dan berkata kepadanya, “Seluruh ulama telah berkumpul dihadapanku, mengapa kamu tidak datang menghadapku?” Abu Hazim menjawab, “Semoga Allah melindungimu, aku tidak mendapatkan undangan untuk datang menghadapmu.”

Khalifah Sulaiman berkata kepada orang-orangnya, “Orang ini bernar.” Kemudia ia berkata keapda Abu Hazim, “Wahai Abu Hazim, mengapa kita takut mati?”

Abu Hazim menjawab, “Karena kalian menghancurkan kehidupan akhirat kalian dan memakmurkan kehidupan dunia kalian. Sesungguhnya kalian enggan berpindah dari kemakmuran menuju kehancuran.”

Khalifah Sulaiman berkata, “Kamu benar, wahai Abu Hazim. Bagaimana cara kita menyongsong kehidupan akhirat?

Abu Hazim berkata, “Iya, orang yang baik menjemput akhirat laksana seorang yang telah lama bepergian ingin bertemu dengan keluarganya. Sementara orang yang buruk menjemput akhirat laksana budak yang melarikan diri dari tuannya, lalu ia diseret, dan dikembalikan kepada tuannya yang keras dan kasar. Tuannya itu bisa saja memaafkannya dan bisa pula menghukumnya.”

Mendengar itu, Khalifah Sulaiman dan orang-orang yang berada di sekelilingnya menangis sesenggukan.”Bagaimana kedudukan kami di sisi Allah, wahai Abu Hazim?” tanya Khalifah Sulaiman.

“Patuhlah kepada kitabullah, niscaya engkau tahu balasan yang diberikan Allah kepadamu.”

“Wahai Abu Hazim, ayat manakah yang menunjukkan ilmumu itu?”

Abu Hazim menjawab,”Saat Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surge yang penuh kenikmatan, dans sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 13-14)

Khalifah Sulaiman berkata, “Wahai Abu Hazim, di manakah rahmat Allah berada?”

“Rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang baik.”

“Wahai Abu Hazim, siapakah manusia yang paling berakal?”

“Manusia yang paling berakal adalah manusia yang mempelajari ilmu dan hikmah, lalu mengajarkannya kepada yang lain.”

“Siapakah orang yang paling dungu?”

“Orang yang mengabdi pada seorang penguasa zhalim, lalu ia menjual kehidupan akhiratnya dengan bayaran kehidupan dunia.”

“Apakah nasihat yang akan kamu sampaikan kepadaku?”

“Aku tidak akan mengatakans sesuatu tentang Sultan yang memerintah dengan tangan besi kecuali setelah bermusyawarah dengan kaum Muslimin. Jika aku tidak melakukan hal itu, aku takut menjadi penyebab tumpahnya darah umat, terputusnya ikatan silaturrahim, hokum tidak ditegakkan, dan janji terabaikan.”

Orang yang hadir di sana bertanya, “Apa yang telah kamu katakana wahai orang buta. Amirul Mukminin kamu sambut dengan cara seperti ini?”

Abu Hazim berkata, “Diamlah, wahai pendusta! Tidakkah kalian tahu, Firaun telah mencelakakan Haman; dan Haman telah pula mencelakakan Firaun?! Sesungguhnya Allah telah memberikan tugas kepada ulama agar menjelaskan hokum kepada umat dan jangan  menyembunyikan sesuat apa pun.”

Khalifah Sulaiman berkata kepada Abu Hazim,”Wahai Abu Hazim, bagaimana caranya agar kami bisa membetulkan perilaku kami yang rusak?”

“Caranya mudah, wahai Amirul Mukminin,” kata Abu Hazim.

Khalifah Sulaiman mengubah posisi duduknya. Sebelumnya ia berbaling bertelekan.”Bagaimana caranya?” katanya.

“Berikan harta yang halal kepada yang berhak. Jangan engkau beri orang yang tidak berhak. Gunakan harta sesuai dengan yang diperintahkan!”

“Siapa yang bisa melakukan hal itu?” tanya Khalifah Sulaiman.

“Orang yang lari dari neraka menuju surge, yang mengganti kebiasaan buruk denga ibadah yang baik.”

Khalifah Sulaiman berkata, “Temani kami, wahai Abu Hazim! Melangkahlah bersama kami, supaya kamu bisa membenarkan kami dan kami bisa membenarkanmu.”

“Aku mohon perlindungan kepada Allah, agar aku tidak melakukan hal itu,” kata Abu Hazim menolak.

“Mengapa begitu, wahai Abu Hazim?” tanya Khalifah Sulaiman.

“Aku takut akan membela kepada orang-orang yang zhalim, sehingga Allah menghukumku dengan kesempitan hidup dan mati.”

“Kalau begitu, kunjungilah kami!”

Abu Hazim berkata,”Kami telah berjanji, semestinya penguasa mendatangi ulama. Bukan ulama mendatangi penguasa. Itu akan mendatangkan kebaikan bagi kedua belah pihak. Zaman sekarang, ulama suka mendatangi penguasa, dan penguasa merasa pongah di hadapan ulama. Keadaan ini menyebakan kedua belah pihak menjadi rusak.”

“Nasihatilah kami, wahai Abu Hazim. Sampaikan dengan bahasa yang ringkas!” pinta Khalifah Sulaiman.

“Bertakwalah kepada Allah, jangan sampai Allah melihatmu melakukan larangan-Nya dan melalaikan perintah-Nya.!” kata Abu Hazim.

Khalifah Sulaiman berkata, “Doakanlah kami agar mendapatkan kebaikan!”

“Ya Allah, jika Sulaiman adalah wali-Mu, maka berilah dia kabar gembara akan datangya kebaikan dunia dan akhrat. Dan jika dia adalah musuhmu, maka kembalikanlah dia kepada kebaikan!”

“Tambakanlah doa untukku!”

“Doa yang aku baca ringkas, tetapi lengkap. Jika engaku adalah wali Allah, maka berbahagialah. Jika engkau adalah musuh Allah, maka intropeksilah! Sesungguhnya rahmat Allah selama di dunia diberikan kepada siapa saja, sementara rahmat-Nya dia akhirat hanya diberikan kepada hamba-Nya yang bertakwa selama di dunia. Sebuah anak panah tidaklah bermanfaat jika tidak digunakan bersama busurnya.”

“Pelayan, bawalah kemari yang 1.000 dinar!” kata Khalifah Sulaiman keapda pelayannya.

Sang pelayan membawa uang 1.000 dinar. “Ambillah, wahai Abu Hazim.” Kata Khalifah Sulaiman kepada Abu Hazim.

Abu Hazim berkata, Aku tidak membutuhkannya. Karena aku dan yang lain memiliki hak yang sama tas uang ini. Jika engkau memberi yang senilai ini kepada yang lain dan berlaku adil, maka aku mau mengambilnya. Jika tidak, maka aku tidak mau mengambilnya. Aku taku uang yang engkau berikan ini adalah harga yang engkau bayar untuk nasihatku.”

“Ambillah pelajaran hai orang yang memiliki akal!”

Sumber : Kitab Al-Imamah wa As-Siyasah (2/264-267), karya Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Ad-Dainuri.

Headlineislam.com adalah portal media Islam yang berpihak kepada kebenaran dan kaum Musliman Ahlussannah wal Jama’ah. Dan juga sebagai wadah yang menampung berita dan artikel-artikel bermanfaaat untuk dijadikan konsumsi bacaan maupun referensi.