Pemikiran 'Neo-Liberal' Berkedok 'Salafi'



"Meluruskan Kesalahan Berfikir Raehanul Bahraen & Dony Arif Wibowo"

Oleh: Maaher At-Thuwailibi

Headlineislam.com – LIBERAL, adalah penyakit ideologi yang menimpa segelintir ummat ini. di samping mereka (para liberalis) punya manhaj ngawur bahwa semua agama sama benarnya, mereka juga punya manhaj yang serupa dengan MURJI'AH, yaitu: "Jangan Mudah Mengkafirkan Orang ".

Uniknya, kini pemikiran sesat Liberal itu mulai menyentuh oknum-oknum berjubah "Salafi". Merasuki jiwa-jiwa yang memang sudah kotor dari awalnya. Yang hakikatnya kita sama-sama tahu bahwa mereka bukanlah Salafi, tetapi Murji'ah gaya baru yang tiada hari tanpa menebar syubhat di tengah ummat atas nama Dakwah Tauhid, padahal pemikiran-pemikiran rancu yang mereka kembangkan di tengah kaum muslimin demikian jauh berbeda dengan apa yang dibawa oleh Syaikh Al-Imam Muhammad Bin Abdil Wahhab At-Tamimi Rahimahullah.

Budaya jahat kaum neo-Liberal berkedok "Salafi" ini adalah: membiarkan para pelaku kekafiran, kesyirikan, dan orang-orang murtad, dengan menebar doktrin "jangan mudah mengkafirkan orang". tetapi pada saat yang sama dengan sangat frontal mereka mengarahkan panah dan peluru mereka kepada para da'i dan ahli tauhid . Mereka sebut para da'i dan aktivis-aktivis muslim dengan gelar "Takfiri", "Khawarij", "Ekstrimis", dst.

Hebatnya, ketika mereka ditanya tentang siapa saja tokoh takfiri/khawarij di zaman ini, mereka akan mudah menjawabnya; "si Fulan", "si Allan", dan seterusnya. akan tetapi ketika mereka ditanya "siapa TOKOH MURJI'AH di zaman ini", mereka akan kebingungan menjawabnya. "Siapa ya?" Mereka bingung menjawabnya, karena mereka sendirilah golongan murji'ah itu pada zaman ini !

Nama Raehanul Bahraen dan Dony Arif Wibowo (alias Abul Jauza') tercatat sebagai orang-orang yang terjebak dalam kesalahan berfikir yang mengakibatkan mereka terjatuh pada kesalahan fatal.

Pada kesempatan ini, kami secara serius menanggapi sekaligus meluruskan pemikiran Raehanul Bahraen & Dony Arif Wibowo  alias Abul Jauza), semoga Allah memberi mereka dan kita semua hidayah.

Raehanul Bahraen (kiri) dan Dony Arif Wiboso (kanan)

1. Kerancuan Raehanul Bahraen

Belum hilang dari ingatan kita sebuah pernyataan SESAT dari seorang dokter muda bernama Raehanul Bahraen yang menerjemahkan firman Allah dengan terjemahan yang menyesatkan. Kini telah sampai lagi kepada kami sebuah tulisan yang berjudul: "Tidak Boleh Sembarangan Mengkafirkan, Loh!" Masih di tulis oleh orang yang sama, dokter muda pembawa pemikiran "neo-liberal", Raehanul Bahraen.

Artikel itu bisa anda baca disini:


Pertama: Dalam tulisannya di atas, Raehanul Bahraen mengatakan,

Salah satu kesalahan memahami juga adalah memahami dalil dengan lafadz “TIDAK BERIMAN SALAH SEORANG DARI KALIAN…”

Misalnya hadits,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Tidak beriman (dengan sempuna) salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anaknya dan semua manusia.” (Muttafaqun alaih).

...Dalam bahasa Arab, maksud kata “Tidak” (لا) itu maksudnya: “menafikan kesempurnaan” BUKAN menafikan keberadaan.

-selesai-

Disinilah letak kebodohan Saudara Raehanul Bahraen, tapi sok pinter. Ini namanya DUNGU TANPA SADAR.

Huruf "لا" dalam sejumlah hadits-hadits Rasulullah memang terbagi menjadi dua makna:

- لا نفي للوجود (menafikan keberadaan)

-لا نفي للكمال (menafikan kesempurnaan)

Tapi mohon anda catat, kata-kata "لا" dalam sejumlah hadits Nabi semisal "Laa Shalata Lil Jarril Masjid illa Fil Masjid" (tidak ada shalat bagi tetangga masjid kecuali di masjid) memang bermakna TIDAK SEMPURNA (bukan tidak sah sama sekali). karena kata "la nafyu" di situ dikategorikan meniadakan kesempurnaan (La Nafyu Lil-Kamal) bukan meniadakan keberadaan (La Nafyu Lil-Wujud).

Akan tetapi, -ini yang terpenting- , bahwa "La Nafyu Lil Wujud" dalam sejumlah hadits Nabi itu bisa bermakna "La Nafyu Lil-Kamal" (meniadakan kesempurnaan) karena ada sejumlah riwayat atau hadits-hadits lain yang menjelaskanya, ada riwayat-riwayat lain yang mentafsirkan satu dengan yang lainnya. Bukan semata-mata karena BAHASA. Sekali lagi, di sinilah letak kekeliruan Raehanul Bahraen (kalau tidak mau dikatakan sesat). silahkan anda cari kamus bahasa arab di seluruh belahan dunia ini -dari timur sampai barat- kami jamin tidak akan anda temukan makna huruf "لا" dalam bahasa arab itu berarti "tidak sempurna" sebagaimana yang anda katakan dalam artikel anda. makna "لا" secara bahasa (bi-nisbati lughoh 'alal ithlaq) ya berarti "Tidak" atau "tidak ada", bukan "tidak sempurna". Dia menjadi "tidak sempurna" (dalam konteks hadit-hadits Nabi) ketika ada riwayat-riwayat lain yang mentafsirkannya.

Allahu 'Aliimu A'lam.

Kalau anda (saudara Raehanul Bahraen) tetap mempertahankan kekeliruan anda ini, cukuplah ini menunjukkan kebodohan anda sendiri di hadapan ummat islam dan akan menjadi bahan guyonan para pelajar/mahasiswa LIPIA dan Aly Ar-Raayah kelas I'dad Lughowi (persiapan bahasa). Saran kami, mari kita sama-sama belajar. Belajar tauhid dengan baik, kalau berkesempatan duduklah dengan para ulama, bila tidak berkesempatan maka dengarkan kajian-kajian dan muhadhoroh-muhadhoroh para ulama lewat media internet. Itu akan lebih baik untuk kita. Mari kita sama-sama belajar dan muthola'ah (anda, kami, dan kita semua). khususnya belajar gramatika bahasa arab, daripada membahas masalah takfir yang menjadi porsi para ahli ilmu dan memposisikan diri seperti ulama.

"لا يؤمن احدكم حتى اكون أحب اليه من والده وولده والناس اجمعين..."

إسمع جيدا واقرأ دقيقا يا ريحان...

النفي في قوله (لا يؤمن أحدكم) هو نفي لكمال الإيمان ونهايته، والمراد لا يبلغ العبد حقيقة الإيمان وكماله حتى ان يجعل الرسول محمد احب اليه محبا.

ونفي الإيمان على مراتب:

 .1نفي لأصل الإيمان لانتفاء بعض أركانه كقوله تعالى: ( فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا).

 .2نفي لكمال الإيمان الواجب لانتفاء بعض واجباته كقوله صلى الله عليه وسلم: (لا يؤمن من لا يأمن جاره بوائقه) متفق عليه.

 .3نفي لكمال الإيمان المستحب لانتفاء بعض مستحباته كقوله صلى الله عليه وسلم: (لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه).

لاحظ يا ريحان وخذ أن لكل مرتبة نظائر في الأدلة الشرعية والسياق والقرائن تدل عليها فإن كان المنفي ركنا حمل النفي على أصل الدين وإن كان المنفي واجبا حمل على كماله الواجب وإن كان المنفي مستحبا حمل على كماله المستحب.. لذا، ليس معنى "لا" فيما ذكرتم هو المنفي الكمال من حيث اللغة فقط، وإنما فيها المراتب النظارية في الرواية والأدلة الشرعية.

Kedua: Dalam artikelnya, Raehanul Bahraen berkata:

Untuk Kafir Mua’ayyan:

1. Inilah baru vonis kafir tertentu pada person tertentu.

2. Inipun BERAT karena ada prosesnya yang panjang dan hanya HAK ULAMA.

3. Misalnya adalah tokoh yang mengaku nabi (sudah pada tahu ya) dan mengajak manusia agar mengakui ia Nabi".

-selesai-

Di sinilah letak "liberalisasi" terselubung yang di lakukan Raehanul Bahraen. ia memasukkan tokoh yang mengaku Nabi sebagai kafir mua'ayyan yang menjadi haknya ulama tanpa memberi perincian.

Perhatikan wahai Raehanul Bahraen,

وقال الشيخ محمد بن عبد الوهاب في مجموع مؤلفاته 7/160 في الرسائل الشخصية :

ما ذكرتموه من كلام الشيخ (ابن تيمية) كل من جحد كذا وكذا وإنكم تسألون عن هؤلاء الطواغيت وأتباعهم هل قامت عليهم الحجة أم لا ؟

فهذا من العجب العجاب ! كيف تشكون في هذا وقد أوضحت لكم مرارا أن الذي لم تقم عليه الحجة هو الذي حديث عهد بالإسلام أو من نشأ ببادية بعيدة أو يكون ذلك في مسائل خفية مثل الصرف والعطف فلا يكفر حتى يُعرّف. وأما أصول الدين التي وضحها الله في كتابه فإن حجة الله هي القرآن فمن بلغه القرآن فقد بلغته الحجة ولكن أصل الإشكال أنكم لم تفرّقوا بين قيام الحجة وفهم الحجة فإن أكثر الكفار والمنافقين لم يفهموا حجة الله مع قيامها عليهم كما قال تعالى:

 [ أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا ] {الفرقان:44} ) ا.هـ

Iqro' Daqiiqon ayyuha Rojul !! nukilan diatas jelas bahwa orang yang mengaku Nabi kafirnya 'aini. Karena ta'riif (diberi penjelasan lagi) itu untuk pelanggaran dalam masa'il khafiyah.

Dengan kata lain, ucapan "perbuatannya kufur, orangnya tidak dikafirkan sampai diberitahu", atau dengan istilah yang dikenal dengan "takfir mutlak", itu hanya dalam masa'il khafiyah, bukan dalam masa'il zhahiirah.

Lalu muncul pertanyaan, "siapa yang berhak mengkafirkan?

* jika yang dimaksud mengkafirkan adalah meyakini kafirnya pelaku (yakni orang yang mengaku Nabi), maka semua muslim WAJIB MENGKAFIRKAN ORANG YANG MENGAKU NABI itu. Tidak ada istilah menunggu keputusan pemerintah atau fatwa para Ulama.

* Meyakini bahwa ada Nabi setelah Nabi Muhammad saja BATAL SYAHADATNYA alias KAFIR, (sekali lagi, sekedar meyakini adanya Nabi ba'da Muhammad), lah bagaimana lagi dengan yang mengaku Nabi ?? Ya tentu lebih KAFIR lagi. Dia kafir tanpa keraguan. Yang tidak mengkafirkannya atau masih ragu-ragu menganggapnya kafir (padahal dia tahu orang yang mengaku Nabi itu kafir), maka dia menjadi KAFIR saat itu juga. Ini namanya kufur i'tiqadi. Khaarij 'anil millah. Wal-'Iyaadzu Billah !!

* Namun jika yang dimaksud menegakkan hujjah, iqomatul indzar wal bayan, menyelidiki si nabi palsu itu stress, gila, atau di paksa, memintanya taubat, yang mana jika ia menolak untuk bertaubat maka di hukum bunuh, benar bahwa ini domainnya pemerintah islam, haknya dewan ulama. Dalam hal ini contoh misal adalah Lia Eden, dia mengaku dirinya utusan Allah (dalam keadaan sehat & sadar), dia mengklaim putranya adalah titisan/jelmaan Jibril 'alaihissalam. Yang berhak mengumumkan/mempublikasikan dia kafir atau tidak, berhak di bunuh atau tidak, adalah dewan ulama, dalam hal ini adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI). namun jika faktanya Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak menjatuhkan vonis kafir atasnya karena mempertimbangkan maslahat dan madhorot, dan pemerintah RI tidak menjatuhkan hukuman mati karena memang pemerintah kita bukan pemerintahan islami, lantas apakah setiap muslim TIDAK MENGKAFIRKANNYA ??

Yaa Salaam... kalla wa alfi kalla ! Haadzihi mushiibatun fauqo mushiibatin..!

Inilah AQIDAH MURJI'ATUL MU'ASHIROH yang menyesatkan.

Sekedar berbagi, sabtu 21 november 2015 tepat pukul 06.30 WIB kami menghubungi Al-Ustadz Ja'far Umar Thalib (Panglima Laskar Jihad) via telfon, menanyakan apakah orang yang mengaku Nabi itu masuk pada takfir mutlaq atau takfir ta'yin (mu'ayyan) yang harus menunggu fatwa para ulama.

Berikut jawaban Ustadz ja'far Umar Thalib -Hafizhahullah- :

“Ulama membagi permasalahan ini menjadi beberapa bagian. Dalam masalah yang antum tanyakan, ini termasuk masalah yang ma'lumun bid-dharuurah. artinya, semua orang tahu bahwa yang mengaku Nabi itu murtad, maka setiap mukmin wajib mengkafirkannya. Lah sama seperti misalnya orang yang pindah agama itu murtad, atau orang yang pergi ke gereja berarti itu orang kafir. . Muslim awam sekalipun tahu.. Ya begitu pula orang yang mengaku dirinya Nabi, dia murtad dan wajib di kafirkan.. ini ma'luumun bid-dharuurah. Tidak boleh menunggu fatwa ulama. Ndak ada itu.... dst”

- selesai-

Demikian. semoga anda dan kami di beri hidayah oleh Allah wahai Raehanul Bahraen.

2. Kesesatan Berfikir Dony Arif Wibowo

Orang yang satu ini memang dari dulu kebiasaannya menebar syubhat murji'ah. Parahnya, ia menisbahkan semua pemikiran rancunya itu kepada Manhaj Salafus Shalih.

Terakhir, dia menebar syubhat bahwa Awam Rafidhah tidaklah kafir. lagi-lagi, Musibah murji-ah.

Ketahuilah, diantara prinsip ajaran Islam yaitu WAJIB bagi setiap muslim adalah meyakini kafirnya orang kafir dan kafirnya orang musyrik, tidak ragu akan kekafiran mereka, dan juga tidak membenarkan ajaran mereka. Demikian penjelasan para ulama mengenai 'AQIDAH AS-SALAFIYYAH yang mesti diyakini setiap individu muslim. Jika tidak meyakini hal tersebut, maka Islam seseorang menjadi tidak sah alias BATAL! INI IJMA' PARA ULAMA.

Lantas, muncul seorang bernama Dony Arif Wibowo alias Abul Jauza' mengasumsikan bahwa awam rafidhah tidaklah kafir, tidak semua rafidhah kafir secara mutlaq. diantara hujjah nya ialah:

- pernyataan seorang ulama mekkah yang tidak mengkafirkan rafidhah secara mutlaq.

- pernyataan Asy-Syaikh Shalih Fauzan yang memberi udzur awam rafidhah.

- diantara hujjahnya lagi, karena orang-orang rafidhah dari masa ke masa dibolehkan/di izinkan menunaikan ibadah haji atau masuk ke tanah haram.

Saudara-saudari sekalian, jika betul-betul kita mempelajari tauhid dan jujur mentadabburi kitab-kitab tauhid, kita akan dapati kaedah:

من لم يكفر كافر أو يشك في كفرهم أو صحح مذهبهم، فهو كافر !

"Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir, atau ragu atas kekafiran mereka, atau membenarkan mazhab mereka, MAKA HUKUMNYA KAFIR!"

Bahkan dalam kitab Raudhatu Tholibin, Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata,

“Orang yang tidak mau mengkafirkan para pemeluk agama selain Islam atau dia ragu dengan kekufuran mereka atau membenarkan ajaran mereka, maka dia KAFIR meskipun pada saat itu dia mengaku Islam dan yakin dengan hal itu.”

Demikian pula, dalam hal ini adalah AGAMA RAFIDHAH atau yang kita kenal dengan SYI'AH IMAMIYYAH ITSNA 'ASYARIYYAH (Syi'ah 12 Imam). Mereka adalah KAAFIR menurut Al-Qur'an, As-Sunnah, dan Ijma'. Tidak ada keraguan akan kekafiran mereka. Baik ULAMA-NYA MAUPUN ORANG AWWAMNYA. sama ! Sama-sama kafir !

- Dalam kitab Al-Fashlu Fil-milali wal ahwaa-i wa nihal, Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan:

فإن الروافض ليسوا من المسلمين.. وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصار في الكذب والكفر.

“Sesungguhnya Syi'ah Rafidhah mereka semua BUKAN ISLAM. dan syiah rafidhah hanyalah sebuah kelompok yang berjalan diatas jalanya yahudi dan nashrani dalam kedustaan dan kekufuran”.

- Al-Imam Maalik Rahimahullah berkata:

الشيعة كفر، ومن لم يكفر الشيعة فهو كافر.

"Syi'ah (Rafidhah) itu kafir, dan barangsiapa yang tidak mengkafirkan Syi'ah (Rafidhah) maka dia KAFIR!".

* Pernyataan seorang Ulama mekkah bahwa tidak semua rafidhah itu kafir, disana ada perincian. maka simaklah dengan mata dan hatimu perincian dari Syaikh tersebut mengenai bagaimana kondisi awam rafidhoh yang tidak kafir?

Syaikh tersebut ditanya:

أحسن الله إليكم : ما حكم عوامّ الروافض وكيف نتعامل معهم؟

Semoga Allah memperbagus keadaan anda: Apa hukum awam rofidhoh dan bagaimana bermuamalah dengan mereka?

Syaikh menjawab:

أظن أن السائل يفرِّق بين العوام وبين غير العوام, وهذه خطوة جيدة .

"Aku kira penanya membedakan antara awam rofidhoh (dan yang bukan), maka ini adalah langkah yang bagus".

العوام الذين لا يطعنون في زوجات رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا يكفِّرون الصحابة ولا يعتقدون في القرآن أنّه محرّف وعندهم شيء من الرفض, شيء من البغض للصحابة دون تكفيرهم وما شاكل ذلك فهؤلاء ضلاّل مبتدعون لا نكفِّرهم.

"Awam yang mana mereka tidak menghujat istri istri Rasulullah Sholallahu alaihi wa sallam, tidak pula mengkafirkan shohabat, dan tidak pula meyakini Al Qur’an telah dipalsukan sedang pada mereka terdapat sedikit dari pemikiran rofidhoh, sedikit dari kebencian kepada shohabat tanpa mengkafirkan mereka dan yang serupa dengan itu. Maka mereka itu adalah sesat, mubtadi’ dan kita tidak mengkafirkan mereka"

ومن كان يشارك ملاحدتهم في تكفير أصحاب محمد عليه الصلاة والسلام, وفي الطعن في زوجات رسول الله صلى الله عليه وسلم, وفي العقيدة الخبيثة أنّ القرآن محرَّف وزيد فيه ونَقُص فهذا كافر مثل كفّار اليهود وكفّار النصارى وكفّار غيرهم لا فرق بين عوامّهم وعلمائهم.

"Dan siapa saja yang bersekutu dalam kekufuran kekufuran rofidhoh berupa pengkafiran para shohabat Muhammad Sholallahu alaihi wa sallam, menghujat istri istri rasulullah Sholallahu alaihi wa sallam, juga didalam aqidah yang buruk bahwasanya al qur’an telah dipalsukan telah ditambah didalamnya dan dikurangi. Maka yang seperti ini kafir semisal kafirnya Yahudi dan kafirnya Nashrani serta selain mereka (dari orang orang kafir) tanpa membedakan antara awam mereka dan ulama mereka".

والتعامل معهم؛ إن كان في أمور الدنيا مثل التجارة وما شاكل ذلك فيجوز التعامل مع اليهودي والنصراني والرافضي, أما التعاون في أمور الدين فلا, أبداً؛ لأنّه تعاون على الإثم والعدوان.

"Adapun bermuamalah bersama mereka, jika didalam perkara dunia semisal perdagangan atau yang semisalnya, maka boleh bermualah dengan Yahudi, Nashrani, maupun rofidhoh. Adapun bermuamalah dalam urusan agama, maka tidak. Selama lamanya tidak. Dikarenakan itu adalah tolong menolong dalam dalam dosa dan permusuhan".

فتاوى في العقيدة والمنهج الحلقة الأولى


* Adapun ucapan Syaikh Sholeh Fauzan Bin Abdillah Al-Fauzan yang di sandarkan kepada beliau bahwa beliau memberi udzur awam rofidhoh, maka beliau MENDUSTAKANNYA dengan sangat keras. Silahkan simak pernyataan beliau pada rekaman berikut ini di menit ke 06.23 sd 06.50:


Bahkan, saat Syaikh Shalih Fauzan ditanya tentang awwam rafidhah, beliau tetap mengkafirkannya tanpa memberi mereka udzur.

Beliau ditanya:

ما حكم عوام الرافضة، هل يأخذون حكم علمائهم؟!

"bagaimana status hukum orang-orang awam rafidhah ? Apakah status mereka sama seperti ulama mereka ? "

Syaikh menjawab:

يا إخواني اتركوا هالكلام هذا! الرافضة حكمهم واحد !
لا تتفلسفون علينا! حكمهم واحد ،كلهم يسمعون القرآن،كلهم يقرأون القرآن ،بل يحفظون القرآن أكثرهم! بلغتهم الحجة ، قامت عليهم الحجة؛ اتركونا من هالفلسفات !وهالإرجاء الذي انتشر الآن في بعض الشباب والمتعالمين!؛ اتركوا هذا !
من بلغه القرآن فقد قامت عليه الحجة..

"wahai saudara-saudaraku sekalian, tinggalkan perkataan seperti ini. Ar-Raafidhah semuanya sama. Mau awam mau ulamanya, mereka semua kafir. Jangan bersilat lidah. Mereka semua sama; mereka mendengarkan al-qur'an, membaca al-qur'an, bahkan banyak diantara mereka yang hafal al-qur'an. Itu semua telah membuktikan bahwa telah sampai pada mereka hujjah, telah tegak atas mereka hujjah. Tinggalkan filsafat-filsafat semacam ini. beginilah fitnah pemikiran sesat murji'ah yang tersebar di tengah para pemuda saat ini. Tinggalkan semua ini. Karena barangsiapa yang telah sampai padanya Al-Qur'an maka telah sampai padanya hujjah! "

-selesai-

Simak suara beliau disini:


* Kalau rafidhah kafir secara mutlaq, mengapa mereka di izinkan masuk tanah haram? Demikian pernyataan Dony Arif Wibowo.

Tidaklah kami mendapatkan pertanyaan atau pernyataan semacam ini kecuali dari orang-orang rafidhah itu sendiri dan orang-orang yang membela rafidhah.

- Ketahuilah, bahwa tidak semua yang masuk tanah haram itu adalah rafidhah, tetapi banyak yang bukan rafidhah, bisa jadi yang masuk tanah haram itu syi'ah yang bukan rafidhah, misal Zaidiyyah. Karena dalam sekte Syi'ah sendiri terdapat banyak golongan-golongan. Di antara mereka ada yang rafidhah dan ada yang Zaidiyyah. Kalau yang zaidiyyah tentu mereka tidak kafir, tapi sesat dan menyesatkan. Terhadap Syi'ah yang rafidhah ini, SELURUH ULAMA tidak mengakui keislaman mereka alias KAFIR. (kecuali ulama murji'ah atau kacung penguasa). Nah, dalam prakteknya, pemerintah arab saudi tidak mudah membedakan kelompok-kelompok tadi.

-  Syi'ah Rafidhah tidak sama dengan sekte-sekte sesat dan kafir lainnya. Usia rafidhah bukan baru lagi, sudah terbilang lama. Tentu cara menghadapi sekte seperti ini berbeda dengan cara menghadapi Ahmadiyyah, Lia Eden, dll. yang termasuk sekte-sekte baru. Bahkan Syiah Rafidhah sudah mempunyai sejarah sendiri sebelum Haramain (mekkah & madinah) dikuasai Dinasti Ibnu Saud yang bermanhaj Salaf. Jauh-jauh hari sebelum Dinasti Ibnu Saud berdiri, kaum Rafidhah sudah masuk Makkah-Madinah. Al-Imam Ibnu Hajar Al Haitsami penulis kitab As-Shawaiqul Muhriqah, beliau menulis kitab itu dalam rangka memperingatkan bahaya laten sekte Syiah yang di masanya banyak muncul di Kota Makkah. Padahal kitab ini termasuk kitab turats klasik yang sudah ada jauh sebelum Dinasti Ibnu Saud muncul menguasai haramain.

- kalau melihat identitas orang-orang Rafidhah yang datang ke Makkah atau Madinah, ya rata-rata tertulis di KTP-nya “agama Islam”. Negara Iran saja mengklaim sebagai Jumhuriyyah Al-Islamiyyah (Republik Islam). Revolusi mereka disebut Revolusi Islam (Al-Tsaurah Al-Islamiyyah). Data seperti ini tentu sangat menyulitkan untuk memastikan jenis sekte mereka. Lha wong, semuanya disebut “Islam” atau “Muslim”. Tapi apakah ideologi itu di ukur dari KTP ??

- Terakhir, pertanyaan di atas sebenarnya lebih layak diajukan ke kaum Syiah Rafidhah itu sendiri, bukan ke Ahlus Sunnah. Mestinya kaum Syiah Rafidhah jangan bertanya, “Mengapa orang Syiah Rafidhah masih boleh ke Makkah-Madinah?” Mestinya pertanyaan ini diubah dan diajukan ke diri mereka sendiri, “Kalau Anda benar-benar Syiah Rafidhah, mengapa masih datang ke Makkah dan Madinah? Bukankah Anda sudah mempunyai ‘kota suci’ sendiri?”. Begitu.

Berarti, bisa jadi yang datang ke haramain itu bukan syi'ah rafidhah. Bisa jadi mereka itu syi'ah zaidiyyah atau mungkin pura-pura jadi syi'ah.

Intinya, mau mereka keluar masuk masjidil haram-masjid nabawi (haji dan umroh), yang namanya Rafidhah adalah KAAFIRR mutlaq. jaahilan au 'aaliman.

Apakah anda tidak kafirkan Mahmoud Ahmadinejed (mantan presiden iran) karena ia juga berhaji dan umroh ke haramain..??

Lantas, kalau tidak kafir, mengapa pemerintah arab saudi memerangi Syi'ah Houtsi di Yaman dan menyebutnya sebagai Majusi ??

Kesimpulannya, menjadi hak anda untuk meyakini bahwa awam rafidhah tidaklah kafir, tetapi jangan coba-coba menisbahkan keyakinan itu kepada MANHAJ SALAF yang haq ini. karena manhaj salaf berlepas diri dari pemikiran bathil itu. Apalagi menyandarkan hal itu kepada seorang ulama besar sekaliber Syaikh Shaleh Fauzan Bin Abdillah Fauzan padahal beliau sendiri mendustakannya. Lakukanlah sesuka hati anda dan jangan mengatasnamakan ulama ahlus sunnah. Silahkan anda buat pemikiran-pemikiran sendiri dan menyandarkan dengan pemahaman anda sendiri, atau murji'ah, atau liberal.

Demikian tanggapan kami meluruskan kesesatan berfikir dua orang "neo-liberal" berkedok 'salafi' di dunia maya.

Semoga Allah memberi mereka berdua dan kita semua Hidayah. Aamiin.

Headlineislam.com adalah portal media Islam yang berpihak kepada kebenaran dan kaum Musliman Ahlussannah wal Jama’ah. Dan juga sebagai wadah yang menampung berita dan artikel-artikel bermanfaaat untuk dijadikan konsumsi bacaan maupun referensi.