Innalillah; Mesir Akan Larang Penggunaan Cadar di Tempat Umum


KAIRO (Headlineislam.com) - Parlemen Mesir saat ini sedang menyusun undang-undang yang akan melarang wanita mengenakan niqab (cadar) di tempat umum dan lembaga-lembaga pemerintahan. Aturan ini pertama kali diungkapkan oleh The Egypt Support Coalition, yang dikonfirmasi oleh Amna Nusseir, anggota parlemen dan seorang profesor hukum perbandingan di Universitas Al-Azhar dalam ONTV.

The Egypt Support Coalition (Koalisi Dukungan Mesir), yang memiliki 250 kursi parlemen dengan 595 anggota, diharapkan dapat mempresentasikan draft hukum tersebut dalam beberapa pekan mendatang.

Kepada Gulf News, Alaa Abdel Moneim, juru bicara Koalisi, berdalih bahwa larangan tersebut dalam rangka meningkatkan keamanan.

“Salah satu hak seseorang adalah mengenal identitas orang yang duduk di sampingnya atau berjalan di jalan,” kata Moneim.

Sementara itu, dalam laporan ke ONTV, Nusseir beranggapan bahwa cadar bukan budaya Islam.

“Cadar bukanlah kewajiban Islam … Bagaimana bisa Islam memaksakan cadar jika umat Islam diminta dalam Al-Qur’an untuk menundukkan pandangan mereka?” kata dia.

Dalam wawancara terpisah dengan Gulf News, Nusseir mengatakan bahwa cadar adalah sebuah fenomena budaya yang terjadi sebelum Islam.

“Ketika Islam datang, tidak memaksakan cadar. Islam memerintahkan untuk berpakaian yang layak,” katanya.

Universitas Kairo Melarang Cadar

Draft UU tentang larangan cadar muncul beberapa pekan setelah Universitas Kairo melarang wanita mengenakan cadar saat bekerja di rumah sakit tersebut.

Menurut Aswat Masriya, keputusan yang mulai berlaku pada 14 Februari 2016 itu, berlaku untuk staf pengajar, dokter, mahasiswa, perawat, dan setiap karyawan teknis, baik yang bekerja di rumah sakit atau mengikuti training.

Keputusan untuk melarang cadar di rumah sakit Universitas Kairo muncul sebulan setelah Pengadilan Administratif Mesir menolak gugatan yang diajukan terhadap Universitas Kairo tentang larangan bagi guru untuk mengenakan cadar.

Pada saat larangan, aturan itu ditentang oleh 77 anggota staf. Nassar menyatakan bahwa keputusan itu dibuat untuk meningkatkan pendidikan dan komunikasi antara siswa dan instruktur mereka serta memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Ini bukan pertama kalinya sebuah universitas mengalami perdebatan masalah cadar.

Pada tahun 2008, perdebatan pun terjadi setelah Universitas Al-Azhar Mesir, sekolah Islam Sunni terkemuka di dunia, melarang cadar di kelas dan asrama. Sementara itu, pada tahun 2012, Ikhwanul Muslimin dan Salafi yang mendominasi parlemen mengkritik rumah sakit tertentu dan sekolah keperawatan yang melarang perawat mengenakan cadar.

Pada 2015, para peserta pemilu diminta untuk menanggalkan cadar saat memberikan suara mereka. Pemilih yang mengenakan cadar diminta untuk membuka penutup wajah mereka agar dapat memverifikasi identitas mereka.

Niqab atau cadar biasa digunakan oleh para Muslimah untuk menutupi wajah mereka dari pandangan yang bukan muhrim. Hal itu bukan sebatas asesoris dalam berpakaian, namun untuk menjaga kepribadian diri.

Sumber : Kiblat | Headlineislam.com

Headlineislam.com adalah portal media Islam yang berpihak kepada kebenaran dan kaum Musliman Ahlussannah wal Jama’ah. Dan juga sebagai wadah yang menampung berita dan artikel-artikel bermanfaaat untuk dijadikan konsumsi bacaan maupun referensi.