Syaikh Al-'Arifi Bukan Salafi???

Syaikh Al-Arifi berpakaian Militer
Oleh : Maaher At-Thuwailibi
Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Headlineislam.com – "Salafi" adalah sebuah istilah muhdats (di buat-buat) yang kerap di gaungkan oleh segelintir komunitas muslim yang merasa diri dan kelompoknya paling benar. Penyakit lama yang kian menggurita dalam tubuh kelompok ini diantaranya ialah mereka senantiasa mendoktrin para pengikutnya dengan berbagai opini yang seakan-akan mengandung pola fikir bahwa kelompok merekalah pengikut SALAF yang paling sejati, sedangkan selainnya adalah Ahli Bid'ah. Singkat kata, mereka seperti sedang mengamalkan kaedah, "kalau sepemikiran dengan kami dan ustadz kami, anda Salafi. Kalau tidak sepemikiran dengan kami dan ustadz kami, anda bukan Salafi".

Lalu, istilah "Salafi" ini kemudian menjadi semacam "sumbu" untuk mengukur seseorang itu berada pada jalan yang benar dalam beragama ataukah tidak.

Padahal, secara substansial, Salafi adalah siapa saja yang berupaya meniti jalan dan thoriqoh Salafus Shalih yang merupakan pancaran dari Al-Kitab dan As-Sunnah, meskipun ia seorang diri.

Saya teringat dengan mutiara kata dari seorang Ustadz yang juga Salafi. Beliau berkata, "saya tidak ingin jadi Salafi, tapi saya ingin menjadi Muwahhid sejati".

Point utamanya, istilah "Salafi" bukanlah istilah yang masyru'. Melainkan ia adalah istilah yang muhdats. Tidak perlu menggaungkan istilah "Salafi" itu dalam kehidupan ini, tetapi yang terpenting adalah mengamalkan ajaran SALAF itu sendiri. baik aqidah, ibadah, dakwah, muamalah, dan akhlaq.

Uniknya, muncul segelintir Mahasiswa Universitas Islam Madinah Saudi Arabia asal indonesia, yang menjadi 'korban' pemikiran semu ini. di tengah masa menuntut ilmu di universitas ternama itu, ia kerap memberikan opini bahwa seorang ulama terkemuka arab saudi bernama SYAIKH MUHAMMAD AL-'ARIFI bukanlah Ulama Salafi. dengan alasan "basi" bahwa beliau di 'tahdzir' oleh para ulama. bahkan ia sempat mengirimkan beberapa statemen dungu yang penuh kedustaan tentang sosok Ulama kharismatik yang satu ini.

Sejenak merenungi masa lalu, saya teringat dengan masa-masa polos saat menjadi tholibul 'ilm (mahasantri) Tadrib Ad-Du'at di sebuah pondok pesantren bermanhaj Salaf. Satu pengalaman yang masih saya ingat sampai hari ini adalah, nyaris di setiap waktu kosong saat ustadz yang mengajar tidak hadir atau jam kelas tidak ada yang mengisi, guru besar kami Al-Ustadz Abu Usamah ZS,Lc (Alumnus Universitas Islam Madinah) kerap mengarahkan kami para mahasantri ke maktab untuk kemudian membuat halaqoh dan mendengarkan muhadhoroh para masyayikh melalui proyektor/in-focus.

Tahukah Anda siapa di antara syaikh yang menjadi tontonan utama kami di pondok pesantren saat mengisi waktu kosong?

Dialah Syaikh Muhammad Al-'Arifi!

Ulama muda terkemuka Arab Saudi, yang memiliki keahlian dalam kbutbah dan berbahasa, fasih bahasanya, mahir retorikanya, mulia akhlaknya, dan kuat manhajnya.

Wajar, bila kami disarankan untuk membeli buku best seller karya Syaikh Muhammad Al-'Arifi berjudul “Istamti' bi-Hayaatik” yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan tersebar luas di berbagai negara, termasuk Indonesia, dengan judul “Nikmatilah Hidup Anda.”

Seiring berjalannya waktu, kami pun terjun ke dunia dakwah dengan kapasitas ilmu yang terbatas. Berinteraksi dengan para tokoh Muslim nusantara, meminta nasihat dan bimbingan mereka, sampai akhirnya kami mulai aktif menulis dengan segala keterbatasan dan kekurangan. Tanpa disadari, nama Syaikh Al-'Arifi semakin mewarnai dunia dakwah wal jihad dewasa ini.  Nama beliau kian harum semerbak di kalangan aktivis Muslim dan para pemuda bermanhaj Salaf pasca menggemparnya “Khutbah” tentang Jihad Suriah yang menggoncang dunia. Tak hanya para aktivis Salafi yang menaruh simpati padanya, bahkan sampai para pemuda NU alumni pondok pesantren gontor pun turut mengidolakan sosok sang Muhammad Al-'Arifi.

Jauh sebelum “Forum Seruan Al-Haq” diresmikan pembentukannya pada april 2015 lalu di Hotel Sahira Bogor oleh Al-Ustadz DR. Muhammad Zaitun Rasmin Lc.MA, kami secara pribadi sempat terbetik keinginan untuk mengundang Syaikh Muhammad Al-'Arifi ke Indonesia. Saya berencana menggalang dana dan dukungan untuk mengadakan tabligh akbar di Istiqlal Jakarta dengan narasumber Asy-Syaikh Muhammad Al-'Arifi. Namun qadarullah, niat itu tak berlanjut sampai hari ini.

Syaikh DR. Muhammad bin Abdillah bin Abdirrahman bin Malahi 'Al-Arifi Al-Jabiri Al-Khalidi, seorang Ulama muda Salafi, berasal dari negeri Saudi, negeri Sunni terbesar di seluruh penjuru bumi, yang sangat ditakuti rezim-rezim Majusi, beliau meraih gelar Doktor (S3) dengan nilai tertinggi, di Imam Muhammad bin Sa'ud Of University, dengan disertasi gemilang berjudul “Pendapat-pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang kelompok Shufi.”

Dialah Syaikh Muhammad Al-'Arifie.

Seorang Ulama muda murid Syaikh Bin Baz, kurang lebih 10 tahun berguru langsung dengan Syaikh Bin Baz Rahimahullah.

Seorang Haafizh Qur'an yang memiliki Sanad muttashil sampai ke Rasulullah dengan 7 qira'ah.

Di antara gurunya adalah Syaikh Abdullah Al-Jibrin, Syaikh Abdul Karim Al-Lahim, dan Syaikh Abdurrahman Nashir Al-Barrak - Rahimahumullahu Hayyan wa mayyitan-.

Saat media sosial ramai mengabarkan Acara Tabligh Akbar yang akan menghadirkan Syaikh DR. Muhammad Al-Arifi pada pertengahan bulan januari 2016 lalu, hal itu membuat aliran sesat di Indonesia bernama Syi'ah Rafidhah lumayan sempoyongan. Dengan berbagai propaganda konyol yang mereka lakukan demi membunuh karakter Syaikh DR. Muhammad Al-'Arifi, di antaranya ialah menyebar fitnah bahwa Syaikh Al-'Arifi adalah anggota ISIS. semua tingkah konyol itu mereka lakukan guna mencekal kedatangan Syaikh Muhammad Al-'Arifi ke negeri ini.

Uniknya, tuduhan keji dan fitnah konyol mengenai pribadi Syaikh Al-'Arifi bukan hanya datang dari orang-orang kafir dan sekte sesat Syi'ah Rafidhah, tetapi juga datang dari segelintir pemuda "bergamis" yang tengah duduk di bangku kuliah di Universitas Islam Madinah.

Di hinggapi penyakit hasad (dengki) yang cukup akut, mahasiswa dungu bagaikan kerbau yang tidak sayang pada tanduknya ini membentuk opini busuk tentang Syaikh Muhammad Al-'Arifi Hafizhahullah guna membunuh karakter beliau.

Diantara tuduhan mereka adalah:

Pertama: Bahwa Syaikh Muhammad Al-'Arifi adalah seorang khawarij.

Tanggapan kami, Ulama menyebutkan bahwa di antara ciri pokok kesesatan Khawarij ialah:

 (1). Mengkafirkan ummat Islam tanpa alasan yang bisa dibenarkan.

(2). Mereka keluar dari ikatan persaudaraan/kesatuan ummat.

(3). Memerangi kepemimpinan Islam, setelah mengkafirkan lebih dulu.

(4). Mengkafirkan manusia karena dosa besar.

Pertanyaan kami;

* Kapan Syaikh Al-'Arifi mengkafirkan ummat islam???

* Siapa ummat Islam yang beliau kafirkan karena perbuatan dosa???

* Dan pemimpin Islam mana yang beliau berontak??? Coba sebutkan wahai pemuda-pemuda dungu !?

Sekedar mengkritik penguasa atas kebijakan politik penguasa yang dianggap zhalim dan merugikan ummat, tidak bisa serta merta dianggap khawarij. Begitulah manhaj Mulukiyyah, mudah sekali menuduh seorang Muslim dan ulama yang tidak sekelompok dengannya dengan tuduhan "khawarij". Tapi saat mereka dituduh Murji'ah, langsung menolak dan teriak-teriak seperti orang kesurupan jin ifrit.

Jika sikap Syaikh Al-'Arifi yang mengkritik Raja Saudi (sebelum dipimpin raja Salman) anda anggap "khawarij" dan bathil, lantas bagaimana dengan sikap Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang mengkritik Raja Saudi di tahun 1990-an saat terjadi kasus teluk di mana Saudi meminta bantuan kepada negara kafir Amerika berupa kekuatan militer guna mengantisipasi serangan Iraq pimpinan Saddam Husein Al-Komunis???

Syaikh Al-Albani Rahimahullah mengecam keras kebijakan politik raja Saudi waktu itu. Meskipun disetujui oleh Syaikh Bin Baz, namun Syaikh Al-Albani menyelisihi Syaikh Bin Baz dalam hal ini. Beranikah anda wahai mahasiswa-mahasiswa dungu, mengatakan bahwa Syaikh Al-Albani adalah "khawarij"?

Syaikh Al-'Arifi dan para pengikutnya yang sungguh-sungguh memperjuangkan Syariat, membela Ummat, melakukan amar makruf nahi munkar, menentang penguasa zhalim (sekuler); bukanlah Khawarij. Justru mereka bisa disebut Mujahid. Kecuali kalau mereka melakukan ciri-ciri kesesatan Khawarij yang disepakati para Ulama. Demikian pula sebaliknya, orang-orang yang menentang Syariat, anti Syariat, men-'teroriskan' para pejuang Syariat, anti konsep negeri Islami; mendukung kezholiman penguasa sekuler, hakikatnya merekalah Khawarij!!! meskipun mereka bergamis, berjenggot, dan bersembunyi dibalik istilah "Salafi".

Kedua: Tuduhan konyol mereka yang lain adalah, bahwa Syaikh Al-'Arifi memiliki penyimpangan karena menerjemahkan hadits Hudzaifah, "wa in ukhidza maaluk wa dhuriba dzhahruk", dengan pemahamannya yang batil.

Tanggapan kami, kalau tidak dungu ya tidak disebut kerbau. Karena dungu makanya lebih layak disebut kerbau. Tidak cocok bila jadi mahasiswa universitas madinah. cocoknya jadi 'kerbau'. Sebab mahasiswa itu cerdas, tidak dungu seperti kerbau.

Coba bayangkan, bagaimana bisa hanya karena beda penafsiran terhadap sebuah teks hadits lantas seorang Ulama divonis "menyimpang" ?? haihaata haihaata... wahai kerbau, sayangilah tandukmu!

Betapa banyak para ulama yang menafsirkan hadits-hadits Rasulullah berbeda dengan ulama lain, apakah mereka menyimpang semua? Syaikh Al-'Arifi memiliki pemahaman berbeda dengan ulama lain dalam menafsirkan sebuah hadits, itu suatu hal yang wajar. Kalaupun dia salah, sekali lagi, kalaupun dia salah, ya dia terjatuh dalam satu kesalahan yang tidak pantas diikuti kesalahan itu dan wajib dinasihati. Tentunya para ulama kredibel yang punya otoritas mengkritik beliau secara ilmiah. Bukan berarti ketika beliau "menyimpang" lantas harus dihina, difitnah, dicaci, sampai-sampai anda halangi-halangi ummat Islam untuk menghadiri dauroh beliau.

Terkait dengan hadits-hadits tentang taat pada penguasa dan wajib menasihati penguasa secara sembunyi-sembunyi, Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i Rahimahullah (ulama besar Salafi negeri Yaman) pernah ditanya oleh Ustadz Ja'far Umar Thalib:

“Wahai Syaikh, kenapa Anda sering mencerca penguasa? Bukankah banyak hadits-hadits yang melarang mencerca penguasa di hadapan umum?” Tanya Ustadz Ja'far.

Lantas Syaikh Muqbil menjawab, "Semua hadits-hadits itu dha'if!"

-Selesai-

Wahai kerbau dungu, bagaimana pendapatmu tentang Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i (ulama kharismatik yang sempat menjadi rujukan Salafiyyun di Indonesia) yang semasa hidupnya beliau sering mengkritik dan mencerca penguasa-penguasa negeri Arab? Bahkan kritikan dan cercaan beliau demikian pedas kepada pemerintah Arab Saudi. Itu terjadi sejak beliau menuntut ilmu di universitas Islam Madinah. Sampai akhirnya beliau diusir dari Saudi, dideportase ke negaranya (Yaman), bahkan dilarang masuk Saudi, dilarang haji dan umroh selama beberapa tahun. Itu semua karena sikap kritisnya secara terang-terangan terhadap pemerintah yang beliau anggap zhalim. Apakah Anda berani mengatakan bahwa Syaikh Muqbil adalah "khawarij"??? Atau Anda sebenarnya tidak mengetahui fakta ini karena anda tergolong 'kerbau' yang lahir terlambat?

Syaikh Muqbil mendha'ifkan hadits-hadits yang berkaitan dengan larangan mencerca penguasa secara terbuka, apakah Syaikh Muqbil menyimpang?  Sebagaimana Anda menuduh Syaikh Al-'Arifi menyimpang?

Sekalian saja Anda umumkan di internet tidak boleh menuntut ilmu ke Markaz Syaikh Muqbil di Dammaj karena Syaikh Muqbil "menyimpang"! Biar sekalian Anda disembelih oleh para pengikut Syaikh Muqbil.

Ketiga: mereka mengatakan bahwa kebatilan Syaikh Al-'Arifi telah dibantah oleh para Ulama, di antaranya; Syaikh Abdul 'Aziz Alu Syaikh, Syaikh Shalih Al-Fawzan dalam website resmi beliau, Syaikh 'Ubaid Al-Jabiri, dll.

Tanggapan kami, demikianlah potret kedunguan dari segerombolan mahasiswa bermental 'kerbau' ini.

Syaikh Al-'Arifi keliru dalam berpendapat tentu itu suatu hal yang wajar, sebab beliau manusia bukan malaikat. Dan lebih wajar lagi ketika ulama-ulama itu meluruskan kesalahan Syaikh Al-'Arifi. Wajar... Semua Ulama ya begitu. Saling lurus meluruskan dan saling membangun dalam mewujudkan kebenaran. Syaikh Shalih Fauzan menasihati Syaikh Al-'Arifi, dan Syaikh Al-'Arifi pun sudah menemui Syaikh Shalih Fauzan. Demikian pula Mufti Saudi, Syaikh Abdul Aziz Aalu Syaikh. Para Ulama itu tidak ada yang memvonis Syaikh Al-'Arifi sebagai ahlu bid'ah, sesat, dll. Kalau konsekuensi dari ucapan keliru Syaikh Al-'Arifi itu bisa berindikasi sesat, iya. Namun bukan serta merta Syaikh Al-'Arifi itu seorang yang sesat seutuhnya. Sekali lagi, itu lebay!

Fakta yang tidak diketahui pemuda-pemuda ingusan ini ialah, Syaikh Al-'Arifi memiliki kedekatan dengan para Ulama, termasuk Syaikh Abdul Aziz Aalu Syaikh. Di antara bentuk pemandangan yang indah di tengah-tengah mereka adalah saat Syaikh Al-'Arifi di rawat di rumah sakit, Syaikh Abdul Aziz Aalu Syaikh (Mufti besar Arab Saudi) menjenguknya. Beliau mencium Syaikh Al-'Arifi dan mendoakannya. Duduk di hadapan Syaikh Al-'Arifi yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Tidak ada kebencian dan permusuhan di antara para ulama itu seperti yang dikesankan oleh kerbau-kerbau setengah gila ini.

Kalau urusan bantah-membantah, Syaikh Ubaid Al-Jabiri pun dibantah oleh Ulama Salafi lainnya, semisal Syaikh Muhammad Al-Imam, Syaikh Abdurrahman Al-Mar'ie, Syaikh Yahya Al-Hajuri, dll. Yang mereka semua itu adalah murid-murid senior Syaikh Muqbil.

Kalau ngurusin "bantah-membantah", kapan habisnya?

Ustadz Firanda juga dibantah oleh Syaikh Abdullah Al-Bukhari, bahkan dikatakan "Dajjal". Lalu apakah Ustadz Firanda "sesat" ? "Menyimpang"?

Tidak ada yang selamat dari "tahdzir mentahdzir" ini wahai kerbau dungu. Itu budaya basi yang sudah sekian lama membusuk!

Mau ngurusin bantah membantah lagi?

Syaikh Robi' bin Hadi Al-Madkhali pun dibantah oleh ratusan ulama.

Dalam risalah berjudul Al-Majmu'ul Badi' Fii Raddi 'Ala Rabi' Al-Madkhali terdapat 186 tulisan para ulama dan para Syaikh yang membantah penyimpangan pemikiran Syaikh Robi'.

Belum cukup?

Dalam kitab berjudul Al-Watsaa'iqul Jaliyyah Allatiy Yata'aama 'anha Ad'iyyah As-Salafiyyah terdapat kumpulan fatwa para Ulama berjumlah 120 judul yang seluruhnya membantah pemikiran Syaikh Robi'.

Ada lagi kitab karya Syaikh Abu Abdillah Shalih An-Najdi yang berjudul Nazharat Salafiyyah Fii Ar-Raa'i Syaikh Robi', isinya membantah pemikiran Syaikh Robi'.

Yaa salaam... Ada ratusan bantahan para ulama terhadap Syaikh Robi'.

Kira-kira, siapa yang selamat dari "bantah-membantah" ini wahai pemuda ingusan ?

Saya cukupkan sampai di sini dulu, sebenarnya masih terlalu banyak yang mesti saya jelaskan tentang fitnah-fitnah konyol mahasiswa-mahasiswa yang "kurang kerjaan" ini. Di antaranya masalah Syaikh Salman Al-Audah, Syaikh Safar Al-Hawali, Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq, Sayyid Quthub, dll. yang semuanya itu sebenarnya "budaya basi" yang coba-coba didaur ulang oleh gembel-gembel kampus yang "sok imut" ini. Tapi, setidaknya saya cukupkan sampai di sini dulu karena fokus kita kepada masalah Syaikh Al-'Arifi. Untuk masalah Syaikh Salman, Syaikh Safar, dll, akan saya bahas dalam tulisan tersendiri.

Terakhir sebagai penutup, saya ingin sampaikan secara terbuka kepada anak-anak ingusan ini di manapun Anda berada, untuk apa Anda sibuk dan menghabiskan energi hanya demi merusak kehormatan seorang da'i dan Mujahid yang dicintai ummat ??

Kenapa kau begitu "percaya diri" menyebarkan kesalahan Syaikh Al-'Arifi yang kesalahan itu bersifat ijtihadi dan tidak sampai membuat Dewan Ulama Saudi harus menetapkan secara remi bahwa Syaikh Al-'Arifi sebagai orang yang sesat? Padahal Syaikh Al-'Arifi sendiri berhubungan baik dengan para ulama dan masyayikh di negerinya.

Kenapa kau tidak sibuk menyebarkan Fatwa Dewan Ulama Saudi (Lajnah Da'imah) yang memfatwakan secara resmi bahwa seorang Ulama dari Yordan (yang mengatakan tidak boleh membunuh orang Yahudi di Palestina) sebagai pembawa pemikiran MURJI'AH YANG SESAT? Kenapa kau diam!? Bahkan tidak sedikit di antara kalian yang mengidolakannya bahkan mengundangnya ke Masjid Istiqlal Jakarta. Padahal di negeri Saudi beliau itu dicekal dan buku-bukunya di beredel oleh pemerintah Saudi.

Namun, saat Syaikh Al-'Arifi ingin datang ke Indonesia dan membimbing ummat dalam acara tabligh akbar di masjid Istiqlal, kau sebarkan tuduhan-tuduhan kotor yang tak keluar kecuali dari tong sampah. Padahal, Syaikh Al-'Arifi tidak difatwakan sesat atau menyimpang oleh Dewan Ulama Resmi Arab Saudi (yakni Lajnah Da'imah), lantas mengapa kau begitu semangat menyebarkan tuduhan dusta tentangnya dan menebar kebencian di tengah kehidupan ummat?

-     Ketika datang suatu fatwa dari Lajnah Da'imah kerajaan Saudi, di mana lembaga ini sangat diperhitungkan oleh Ahlus Sunnah di seluruh dunia, apa yang kau lakukan? Apakah kau menerima fatwa itu, menimbang-nimbangnya dulu, atau menolak? Jika kau menerimanya, maka hal itu wajar, karena kau sudah biasa merujuk fatwa-fatwa Lajnah Da'imah. Jika kau menimbang-nimbangnya dulu, pernahkah kau lakukan itu sebelumnya wahai pemuda dungu? Jika kau ingin menolaknya, lalu otoritas dewan ulama seperti apa lagi yang bisa memuaskan "dahaga ilmiah" mu??? Apakah semua fatwa Lajnah Da'imah bisa kau terima, kecuali yang merugikan kelompokmu??

-     Fatwa Lajnah Da'imah itu dikeluarkan pada tahun 1421 Hijriyyah atau sekitar 16 tahun yang lalu. Sampai saat ini fatwa itu tetap berlaku dan tidak pernah dicabut. Termasuk ketentuan di dalamnya juga berlaku, yaitu pelarangan percetakan dan pengedaran buku-buku murji'ah itu.

-     Memang, menolak fatwa Ulama juga tidak dilarang. Tidak ada satupun dalil syar'i yang mengharuskan kita menerima  seluruh fatwa ulama. Hal ini termasuk kebebasan berijtihad (bagi ulama) dan kebebasan mengikuti ijtihad (bagi ummat). Namun, untuk menolak fatwa ulama diperlukan hujjah qawiyyah (argumentasi yang kuat) dan kesepadanan martabat. Tidak mungkin fatwa ulama yang kredibel harus dilawan oleh fatwa "ustadz-ustadz" muda alumni universitas madinah yang baru mampu baca kitab dan bahasa arab, atau tholib-tholib yang baru pandai menukil dan copy paste, apalagi fatwa facebooker-facebooker kerdil semacam Fikri Abu Hasan dan Fauzi Rifaldi yang dungu itu.

-     Seharusnya, pemuda-pemuda bergamis yang merasa paling "Salafi" itu bersikap adil ketika datang fatwa dari Dewan Ulama Ahlus Sunnah. Ketika mereka bersemangat menyebarkan kritik para Ulama tentang Syaikh Muhammad Al-'Arifi, maka fatwa resmi dewan ulama tentang pembawa pemikiran murji'ah dari Yordan itu juga perlu diketahui oleh ummat. Bahkan fatwa terhadap murji'ah pendusta itu lebih kuat, sebab ia merupakan fatwa resmi dari sebuah lembaga resmi dan disebarkan secara terbuka. Sedangkan kritik untuk Syaikh Al-'Arifi hanya berasal dari satu dua ulama dan bukan fatwa resmi. Meskipun begitu, cecunguk-cecunguk mulukiyyah itu sangat bersemangat menyebarkannya. Seharusnya mereka juga bersemangat ketika datang fatwa Lajnah Da'imah tentang penyimpangan Syaikh dari Yordan itu, lalu menyebarkannya sekuat kemampuan ke lingkungan sekitar, sebagai bentuk sikap memuliakan pendapat ulama. Jika kemudian mereka membabi buta membela habis-habisan tokoh "pujaannya" dan tidak segan menentang fatwa dewan ulama terhormat seperti Lajnah Da'imah, justru merekalah yang terjerumus pada sikap Hizbiyyah! Bukan lagi ilmiah !!!

Mari kita dengarkan nasihat Syaikh Shalih Fauzan untuk menghadiri ceramah Syaikh Muhammad Al-Arifi dan Syaikh A'idh Al-Qarniy dan pernyataan beliau bahwa orang-orang yang mentahdzir dan mencela mereka berdua, adalah dai-dai perusak dan penebar fitnah. Anda bisa dengarkan suara Syaikh Shalih Fauzan pada link Yotube ini:

Watch "(جديد) الشيخ صالح الفوزان: الذين يُحَذِّرُون من العريفي والقرني هم دعاة تحريش وفتنة" on YouTube - https://youtu.be/390cbQNKcEo

Baarakallahufiikum Jamii'an.
Semoga Allah menjaga agama ini dari para pemerkosa-pemerkosa persatuan dan ukhuwah. Aamiin...

Allahu A'lam. 

Artikel : Headlineislam.com

Headlineislam.com adalah portal media Islam yang berpihak kepada kebenaran dan kaum Musliman Ahlussannah wal Jama’ah. Dan juga sebagai wadah yang menampung berita dan artikel-artikel bermanfaaat untuk dijadikan konsumsi bacaan maupun referensi.