Inilah 4 Penyebab Pengkhianatan Syiah Kepada Ahlus Sunnah



Headlineislam.com - Syiah ibarat duri dalam daging. Di mana ada Syiah, negeri tersebut tidak akan aman. Terbukti, di beberapa negara bagian yang mayoritas Islam Ahlus Sunnah menjadi ajang pergulatan, pemberontakan, pembunuhan, disebabkan oleh Syiah. Contohnya; pemberontakan yang sekarang ini terjadi seperti di Yaman, Suriah, Irak, dll. Tak terkecuali Indonesia, bila pemerintahnya tidak cepat mengambil keputusan untuk melarang penyebaran pemahaman Syiah, bisa jadi negeri ini menjadi seperti mereka.

Apa yang melatarbelakangi pengkhianatan orang-orang Syiah tersebut?

Dalam buku “Pengkhianatan-pengkhianatan Syiah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam” yang ditulis oleh DR. Imad Ali Abdus Sami’ disebutkan ada 4 penyebab:

1.      Kafir; bila tidak beriman terhadap otoritas imam itsna asyariah (imam dua belas).
2.      Syiah meyakini bahwa ahli sunnah memusuhi ahli bait.
3.      Keyakinan dan i’tiqad syiah bahwa ahli sunnah adalah najis, darah dan harta mereka dianggap halal.
4.      Keyakinan syiah mengenai keharaman jihad sebelum munculnya al-mahdi.

Keempat penyebab tersebut adalah akidah yang mereka yakini. Akidah inilah yang menjadi mesin penggerak bagi Syiah dalam setiap pengkhianatannya (memusuhi ahlus Sunnah).

Dari sini kita dapat melihat bahwa pengkhianatan Syiah kepada Ahlus Sunnah merupakan bagian dari sikap keagamaan mereka. Bahkan bagi mereka, hal itu merupakan sebuah jalan pendekatan menuhu ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berikut rincian mengenai keempat akidah Syiah di atas.

1.      Kafir; Bila Tidak Beriman Terhadap Otoritas Imam Itsna Asyariah (Imam Dua Belas)

Dalam buku-buku rujukan Syiah dikatakan bahwa imamah adalah salah satu dasar dari beberapa dasar agama, dan siapa yang mengingkari imamah atau mengingkar salah seorang imam yang ada, maka orang tersebut dinyatakan telah kafir.

Berikut ini perkataan imam mereka mengenai imamah:


A.    Al-Mulla Muhammad Bakir Al-Majlisi berkata; “Ketahuilah, bahwa syirik dan kufur yang sebenar-benarnya ditujukan terhadap orang yang tidak mengitikadkan imamah amirul muminin dan para imam dari keturunannya dan meyakini bahwa mereka memiliki derajat keutamaan atas selainnya. Bagi orang yang tidak beritikad demikian, maka mereka akan kekal di dalam neraka.”[1]

Yang dimaksud dengan imama amirul muminin adalah Ali. Mengapa mereka lebih mengutamakan Ali daripada Abu Bakr, Umar dan Utsman? Dan mengapa pula mereka menjadikan dari keturunan Ali sebagai imam? Pembahasan ini akan dibahas dipertemuan yang akan datang, in sya Allah.

B.     Syaikh Muhsin At-Thabathaba’I berkata; “Kafir hukumnya bagi orang yang menyalahi para imam, dan ini tanpa ada perselisihan di antara mereka.”[2]

C.     Syaikh Muhammad Hassan An-Najfi mengeluarkan pernyataan dengan lantang mengenai permusuhan Syiah dengan Ahlus Sunnah; “Sudah sama-sama kita ketahui, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengikat tali persaudaraan di antara kaum mukminin, sebagaimana firmannya:

“Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujraat: 10)

Tetapi tidak dengan mereka, bagaiman mungkin kita bisa membayangkan adanya persaudaraan di antara kaum mukminin dan orang yang menyalahi otoritas imam, karena hadits-hadits yang mutawatir dan ayat-ayat Al-Qur’an telah begitu banyak mewajibkan kita untuk memerangi mereka dan berlepas diri dari mereka.”[3]

D.    Al-Allamah As-Sayyid Abdullah Syabr berkata; “Adapun semua orang yang menyalahi imam dan orang yang tidak loyal dan tidak mendukung, serta tidak fanatik terhadap para imam, semisal Sayid Al-Murtadha, maka mereka telah kafir di dunia dan di akhirat, dan mereka termasuk orang kafir yang kekal di neraka kelak.”[4]

Dan masih banyak lagi perkataan imam mereka bagi orang yang tidak meyakini keimamahan dihukumi kafir.

Dari pendapat-pendapat tersebut, kita bisa mengetahui bahwa akidah Syiah telah jelas-jelas mengkafirkan kaum Ahlus Sunnah. Karena itu mereka bebas memusuhi dan mengkhianati Ahlus Sunnah dan menghalalkan darah serta benda kaum Ahlus Sunnah.

2.      Syiah Meyakini Bahwa Ahli Sunnah Memusuhi Ahli Bait

Akidah yang paling berbahaya yang menyulut api pengkhianatan dalam dada kaum Syiah adalah keyakinan mereka bahwa Ahli Sunnah memusuhi Ahli Bait Rasulullah Shallahu ‘Alahi wa Sallam, membencinya, dan mencelanya. Karena itu, mereka menyebut Ahlus Sunnah dengan gelar An-Nawasib yaitu orang –orang yang sangat bersungguh-sungguh dalam memusuhi Ahli Bait.

Berikut pernyataan kaum Syiah yang menerangkan bahwa musuh kaum Syiah yang sebenarnya adlaah Ahli Sunnah, bukan yang lain.

A.    Syaikh Husain bin As-Syaikh Muhammad Ali Ushfuur Ad-Daraazi Al-Bahrani As-Syi’I; “Bahkan imam-imam kaum Syiah menyebutkan, bahwa An-Nasib (orang-orang yang sangat memusuhi Syiah) adalah yang mereka kenal dengan sebutan Sunni, dan tidak ada satu punpendapat yang menunjukkan bahwa lafal An-Nasib dimaksudkan sebagai orang yang melaksanakan Sunnah.”[5]

B.     Berkata Asy-Syaikh Ali Alu Muhsin; “Adapun An-Nawasib (orang yang sangat memusuhi) dari ulama Ahli Sunnah berkumlah sangat banyak, di antara mereka adalah Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir Ad-Dimasyq, Ibnul Jauzi, Syamsudin Adz-Dzahabi, Ibnu Hazm Al-Andalusi, dan lain-lain.[6]

C.     DR. As-Sy’I Muhammad At-Tijani berkata; “Jika kita ingin memperluas pembahasan, niscaya kita akan mengatakan bahwa kaum Ahli Sunnah wal Jamaahlah yang telah memerangi Ahli Bait Nabi dengan pimpinan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah.”[7]

Ketiga penyataan tersebut hanyalah segelintir dari begitu banyaknya bukti ucapan yang menjelaskan kepada kita tentang akidah Syiah yang berisi keyakinan adanya permusuhan Ahli Sunnah kepada Ahli Bait.

Sebenarnya, Ahli Sunnah tidak membenci Ahli Bait, akan tetapi, yang Ahli Sunnah benci adalah orang-orang yang membenci dan menjelek-jelekkan Ahli Bait Rasulullah Shallallhu ‘Alaihi wa Sallam, dengan mengatakan sesuatu atas nama Ahli Bait dan menisbatkan diri kepada mereka dengan penuh kebohongan.

3.      Keyakinan Dan I’tiqad Syiah Bahwa Ahli Sunnah Adalah Najis, Darah Dan Harta Mereka Dianggap Halal

Menumpahkan darah seseorang dengan cara yang batil adalah haram hukumnya. Walaupun, darah tersebut darah orang yang kafir kepada Allah. Rasulullah Shallallhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang menjaga darah seorang kafir kemudian ia mengkhianatinya, maka saya berlepas diri dari sang pembunuh walaupun ia seorang muslim.”

Walaupun Rasulullah sudah mensabdakan demikian, kaum Syiah tetap menghalalkan darah dan harta Ahli USnnah, dan para ulama mereka memfatwakan hal yang demikian.

Berikut ini pernyataan ulama syiah mengenai Ahli Sunnah bahwa mereka itu najis, darah dan hartanya halal.

A.    Syaikh Muhammad bin Ali bin Bawabih Al-Qummi berkata: “Aku berkata kepada Abi Abdillah Alaihissalam, ‘apa pendapat Anda mengenai hukum membunuh kaum An-Nasib (Ahli Sunnah)?” Beliau menjawab; “Darah kaum Sunni itu halal, akan tetapi saya mengingatkan Anda, jika Anda mampu untuk memendamnya di bawah dinding, atau menenggelamkannya di dalam air agar mereka tidak menyaksukan hal tersebut, maka lakukanlah!” Kemudian aku bertanya kembali mengenai hukum harta orang Ahli Sunnah? Ia menjawab; “Binasakanlah semampu Anda.”[8]

B.     Ruhullah Khumaini berkata; “Yang paling tepa adalah menmghukumi para An-Nawasib (Ahli Sunnah) sebagaimana ahli harb yang boleh diambil hartanya sebagai harta rampasan perang (ghanimah) dan diambil 1/5 (khumus) darinya, bahkan secara terang-terangan boleh mengambil harta mereka dimanapun harta tersebut terdapat, dan wajib mengeluarkan khumusnya.”[9]

C.     Marja’ Al-Ha’iri AL-Ihqaqi berkata; “Orang-orang yang najis berjumlah 12 golongan; termasuk di dalamnya para orang kafir dan para An-Nawasib (Ahli Sunnah) terhitung sebagai golongan yang kair.”[10]

Pernyataan di atas sudah menjadi akidah Syiah yaitu dengan mengkafirkan kaum Ahli Sunnah, menghalalkan darah dan harta mereka, serta memberikan predikat najis kepada mereka. Dan pernyataan terakhir ini yang akan membuat kita terheran-heran.

D.    Ahli fikih mereka berkata; “Apabila Anda mendapat kesempatan untuk bekerjasama walaupun dengan setan untuk membunuh Ahli Sunnah, maka lihatlah itu sebagai suatu kesempatan emas dan jangan dilewatkan. Tidak masalah apabila hal itu Anda lakukan walaupun bekerjasama dengan para setan, semisal; setan Tatar, setan kaum salibis, setan Amerika, dan setang Inggris.”

4.      Keyakinan Syiah Mengenai Keharaman Jihad Sebelum Munculnya Al-Mahdi

Tidak tercatat dalam sejarah bahwa Syiah pernah berjuang dan berjihad melawan tentara kafir, kecuali hanya melawan Ahli Sunnah dengan cara pengkhianatan, baik masa lampau maupun saat ini.

Kitab-kitab Syiah banyak sekali mengandung riwayat yang menopang keyakinan mereka ini, di antaranya:

A.    Abi Abdillah berkata; “Setiap bendera yang dikibarkan sebelum bangkitnya Al-Qa’im Al-Mahdi (imam ke-12) maka pengibarnya adalah Thagut, dan beribadah tidak pada Allah Azza wa Jalla.”[11]

B.     Abi Ja’far berkata; “Perumpamaan orang yang keluar dari kita para pengagum Ahli Bait sebelum dibangkitkan Al-Qa’im, laksana anak burung yang terbang dan terjatuh dari sarangnya lalu dipermainkan oleh anak-anak.”[12]

C.     Mereka bahkan mencaci Ahli Sunnah yang melakukan Jihad. Abdillah bin Sinan berkata; “Aku berkata kepada abi Abdilla Alaihissalam; apa yang Anda katakan mengenai orang-orang yang melakukan peperangan di daerah Tsughur? Maka ia menjawab; “Celakalah bagi orang yang mempercepat peperangan baik di dunia maupun di akhirat. Demi Allah mereka tidak syahid, kecuali hanya untuk kelompok kita, walaupun mereka mati di atas tempat tidur.”

Mengenai pengkhianatan-pengkhianatan syiah terhadap Ahli Sunnah in sya Allah akan kita bahas pada pertemuan yang akan datang. Wallahua’lam.

Diringkas dari buku: “Pengkhianatan-pengkhianatan Syiah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam” yang ditulis oleh DR. Imad Ali Abdus Sami’.

“Ambillah pelajaran hai orang yang mempunyai akal”

Oleh : @ekomustaqiim | Headlineislam.com

---------------------------------------

[1] Kitab Bihar Al-Anwar, 23/390.
[2] Kitab Mustamsik Al-Urwah Al-Wustqa, 1/392.
[3] Kitab Jawahir Al-Kalam Fi Syarai’ Al-Islam, 22/62.
[4] Kitab Haqqul Yakin Fi Ma’rifati Ushuliddin, 21/88.
[5] Kitab Al-Muhaasin An-Nafsaaniyah fi Al-Masa’il AL-Khurasaniyah, hal. 147.
[6] Kitab Kasyful Al-Haqa’id, hal. 249.
[7] Kitab As-Syiah Hum Ahlus Sunnah, hal. 163.
[8] Kitab Ilal As-Syari’i, hal. 601.
[9] Kitab Tahrir Al-Wasilah, 1/352.
[10] Kitab Ahkam Asy-Syiah, 1/137.
[11] Kitab Al-Kaafi, 8/825.
[12] Kitab Al-Mustadrak Al-Wasa’il, 2/248.

Headlineislam.com adalah portal media Islam yang berpihak kepada kebenaran dan kaum Musliman Ahlussannah wal Jama’ah. Dan juga sebagai wadah yang menampung berita dan artikel-artikel bermanfaaat untuk dijadikan konsumsi bacaan maupun referensi.