MUI: Pemkab Harus Bongkar Rumah Ibadah yang Tak Penuhi Syarat


Jakarta (Headlineislam.com) – Bentrok antar warga di Aceh Singkil yang dilatarbelakangi oleh Kristenisasi dan pembangunan gereja tanpa izin pemerintah membuat MUI Pusat melakukan rapat.
“Jika ada bangunan yang tidak memenuhi syarat sebaiknya dibongkar. Kenapa harus permanen dulu, kemudian dimasalahkan. Itu kesalahan yang tak boleh terulang,” ujar Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr. H. Nadjamuddin Ramly, M.Si kepada wartawan di kantor MUI, Jakarta, Rabu (14/10). Lansir islampos.com
Yang terjadi adalah, aturan sering tidak diindahkan. Mulai dari mengumpulkan tanda tangan palsu, hingga membayar orang yang melakukan tanda tanda masyarakat sebagai syarat pendirian rumah ibadah.
Umat beragama, beserta tokoh-tokohnya, harus mematuhi regulasi SKB 2 Menteri, kecuali dibatalkan oleh peraturan yang baru. Begitu juga dengan Pemkab setempat harus menegakkan hukum.
Nadjamuddin menegaskan tentu kita tak ingin kasus Aceh Singkil berdampak luas sehingga terjadi pembalasan di tempat lain. Jika umat beragama saling melakukan pembalasan, pasti ada pembalasan serupa di tempat lain.
“Maka stop pelanggaran hukum. Tegakkan hukum sebagaimana mestinya.”
Nadjamuddin menyayangkan, kelompok minoritas kadang suka mem-blow up kasus-kasus  konflik beragama ini untuk dilaporkan, mulai dari Komnas HAM hingga ke Uni Eropa dan PBB. Pemerintah dibuat ketar ketir, sehingga dimunculkan kesan, umat Islam Indonesia dianggap tidak toleran.
“Padahal, peristiwa Aceh Singkil dipicu oleh pelanggaran hukum, akibat belum terpenuhinya syarat pendirian bangunan rumah ibadah berdasarkan regulasi SKB Dua Menteri. Akibat Pemkab tidak menegakkan hukum, elemen masyarakat menyelesaikan masalah dengan pelanggaran hukum pula,” kata Nadjamuddin menyesalkan. [em/headlineislam.com]

Headlineislam.com adalah portal media Islam yang berpihak kepada kebenaran dan kaum Musliman Ahlussannah wal Jama’ah. Dan juga sebagai wadah yang menampung berita dan artikel-artikel bermanfaaat untuk dijadikan konsumsi bacaan maupun referensi.