Kau Ingin Mencari Wanita yang Seperti Apa?


Oleh: Arief Siddiq Razaan
Headlineislam.com – “Anakku engkau ingin mencari wanita yang seperti apa untuk menjadi istrimu? Adakah ia seperti Khadijah RA, wanita solehah yang dicintai Allah serta mendapat salam khusus dari-Nya? Adakah ia seperti Aisyah RA yang dinyatakan lebih mulia dibanding wanita sejagad oleh Nabi Muhammad?” Ujar perempuan yang melahirkanku dari rahimnya. Ialah ibu, penuntunku dalam kebijaksanaan, kesantunan dan kebenaran.
“Tidak, Bu. Celakalah diriku apabila menyejajarkan diri dengan Nabi sehingga berhak mendapatkan wanita-wanita yang demikian mulianya di sisi Allah.”
“Apa mungkin dirimu ingin mencari istri yang seperti ibu? Mengasuh dan membesarkanmu dengan kasih sayang tanpa batas waktu?”
“Tidak, Bu. Celakalah diriku apabila menyejajarkan calon istriku seperti ibu. Bagiku tak ada yang bisa melampaui kasih sayang ibu, sebab limpahan doa-doamu serta belaian abdi tulusmu ialah karomah terbaik dalam hidupku.”
“Lalu, wanita seperti apa yang dirimu cari anakku?”
“Wanita yang menjadi dirinya sendiri. Memuliakan Allah dengan kemandirian hati, tidak terikut pengaruh lembaga atau pun organisasi, tetapi mengikut Al-Qur’an dan Hadis dengan sepenuh nurani. Wanita yang mencintaiku dengan hati setelah kami menikah nanti, tidak karena pengaruh hasrat birahi sebelum direstui, tetapi berpedoman pada kesadaran cinta itu penyempurna separuh agama sehingga mesti disyiarkan secara syari.”
“Sulit sekali menemukan wanita seperti itu di zaman sekarang, Nak.”
“Apakah untuk menjadi wanita yang memiliki kemandirian hati dalam beriman serta mencintai suaminya dengan hati setelah pernikahan itu pekerjaan yang sulit, Bu?”
“Bekerja memandirikan hati dalam beriman pada Illahi seharusnya tidak sulit, sebab setiap manusia beragama pasti mengimani adanya Allah dalam hatinya. Hanya saja, banyak di antara mereka yang menyulitkan diri sendiri dengan memasukkan hal-hal yang dapat mempengaruhi kadar keimanan kepada Allah dalam hatinya, misalnya masih suka berhias untuk dipuji lelaki yang bukan suaminya, lalu pujian itu dimasukkan dalam hatinya.”
“Apakah memasukkan pujian ke dalam hati itu tidak boleh?”
“Pujian itu musibah yang paling melemahkan, banyak orang berlomba-lomba mengharap dipuji orang lain sehingga kerap menyalahi aturan. Kalaulah wanita dipuji karena kemahirannya menghias diri oleh orang lain, padahal lelaki yang memujinya itu bukan suaminya, tentu jangan sampai dimasukkan ke hati. Sebab kekaguman itu timbul atas dasar birahi, sehingga dengan memasukkan unsur pujian yang mengandung birahi ke dalam hati tentu sebuah kesalahan.”
“Lalu, bagaimana caranya seorang wanita dalam menanggapi pujian yang demikian?”
“Baiknya segera istigfar, dan cobalah pandangi diri sendiri. Adakah dirinya sudah berdandan secara berlebihan sehingga menimbulkan zina mata bagi yang memandangnya sampai-sampai lelaki itu memuji untuk sesuatu yang belum halal, agar lain kali dapat mengubah penampilannya dengan hiasan yang biasa saja untuk menghindarkan potensi birahi para lelaki yang memandangnya.”
“Untuk wanita yang mencintai seorang lelaki setelah menikah apakah itu juga sulit?”
“Seharusnya tidak sulit, jika wanita itu mengerti bahwa rasa cinta terindah itu bukan kekaguman tetapi pengabdian yang dilandasi ikhtiar kesanggupan memuliakan kasih, sayang, dan setia dalam ikatan pernikahan. Namun sayangnya, banyak wanita yang ingin menguji kesetiaan, kasih sayang dan cinta dari lelaki yang mengaguminya sebelum adanya pernikahan dengan alasan agar tidak salah pilih, padahal dengan tindakan yang demikian justru dirinya sudah merendahkan derajatnya pada kadar terendah sebuah hubungan, yaitu dengan pacaran.”
“Terima kasih atas nasehatnya, Bu. Insya Allah apa yang Ibu sampaikan akan menjadi penguatan bagiku dalam menemukan jodoh terbaik.” [ar/islampos/headlineislam.com]

Headlineislam.com adalah portal media Islam yang berpihak kepada kebenaran dan kaum Musliman Ahlussannah wal Jama’ah. Dan juga sebagai wadah yang menampung berita dan artikel-artikel bermanfaaat untuk dijadikan konsumsi bacaan maupun referensi.