Inilah Motif Sebenarnya Dibalik Intervensi Militer Rusia Di Suriah


New York (Headlineislam.com) – Sejak awal intervensi Vladimir Putin di Suriah telah memunculkan kontroversi tentang motif sebenarnya dibalik intervensi militer tersebut.
James Nixy, kepala program Rusia dan Eurasia di institute “Chatham House” dan Xenia Wickets, direktur proyek amerika serikat di institute yang sama, menuliskan dalam artikel yang di publikasikan oleh majalah “foreign Affairs”, “apakah logis sebuah Negara yang hidup di bawah tekanan perekonomian yang lumpuh dan telah menjadi korban dari kekerasan ekstrimis, kemudian membuka front kedua berupa operasi militer yang jauh dari yang biasanya dilakukan oleh soviet ?maka motivasi apa, selain motiv yang dikeluarkan secara resmi, di balik keputusan Rusia menargetkan kelompok ISIS ?
“Hanya ada satu jawaban atas pertanyaan itu semua,” lanjutnya, “yaitu gas alam, terutama karena sebagian besar pihak yang berperang di Suriah adalah Negara-negara pengekspor gas yang memiliki kepentingan di salah satu jalur pipa gas yang melewati wilayah Suriah untuk mengangkut gas baik Qatar ataupun Iran menuju Eropa.
Pada tahun 1989 Qatar dan Iran memulai pengembangan “ladang gas” di Pars selatan atas nama Iran dan di Utara atas nama Qatar. Ladang gas tersebut terletak pada 3.000 meter di bawah permukaan tanah Teluk. “ini adalah ladang gas terbesar di dunia dimana terkandung simpanan gas mencapi sekitar 51 Triliyun meter kubik dan sekitar 50 miliyar meter kubik kondesat cair. Dan ini terletak di sepertiga dari kekayaan di perairan Iran damn dua pertiga lainnya di perairan Qatar.
Sejak penemuannya, Qatar telah banyak berinvestasi di pabrik-pabrik dan pembangkit gas alam cair (LNG) agar ia bisa mengangkut gas ke seluruh belahan dunia dengan kapal tanker.
Kemudian “setelah kenaikan total pencairan dan pengiriman biaya dan khususnya dengan turunnya harga gas, Qatar menjadi lebih sulit untuk masuk ke pasar Eropa, hal itu karena jalur pipa gas dari Rusia dan lainnya lebih murah.”
Dalam artikel tersebut di jelaskan, “pada tahun 2009, Qatar telah mengusulkan untuk membangun saluan pipa agar bisa mengirim gas melalui laut Arab Saudi, Yodania dan Suriah ke Turki, investasi miliyaran dolar akan mengurangi biaya Transporrtasi dalam jangka panjang.” Namun, Bashar Assad menolak rencana tersebut, sedangkan Rusia yang tidak ingin berbagi posisinya di pasar gas Eropa memberikan tekanan yang kuat untuk menolak rencana tersebut.
Pada saat yang sama Iran yang menemukan kesempatan meskipun tidak memiliki infrastruktur untuk mengekspor cadangan gas yang besar,mengusulkan membuat pipa alternative yang menghubungkan antara Iran dan Irak serta Suriah untuk memompa gas Iran dari ladang gas yang sama melalui pelabuhan Suriah seperti Latakia dan trans Mediterania.
Dan Moskow menyetujui rencan ini, mungkin Karena mereka yakin akan lebih mudah untuk menangani Iran (tidak seperti Qatar) dalam mengendalikan impor gas ke Eropa dari Iran dan laut Kaspia serta Asia tengah. Maka pada tahun 2011 di umumkanlah tentang rencana ini yang disepakati oleh Irak, Iran dan Suriah. Setiap pihak menandatangani dokumen tersebut pada tahun 2012. Rencananya proyek ini akan selesai pada tahun 2016, namun peristiwa musim semi Arab (Arabic spring) yang merembet ke Suriah ini menghambat proyek tersebut.
Melihat kondisi ini, intervensi Rusia hanya menambahkan lapisan konflik baru, sedangkan Rusia apakah proyek tersebut berjalan ataupun tidak ia masih tetap bisa mengontrol pasokan gas ke Eropa. Sedangkan bagi Qatar kondisi Suriah saat ini adalah kesempatan untuk memindahkan gas ke pasar dengan harga murah atau setidaknya dapat mencegah Iran mendominasi ekspor dari ladang gas antara keduanya.
Pada saat yang sama, Amerika Serikat mendukung renca pipa Qatar sebagai cara untuk mencapai keseimbangan antara Iran dan diversifikasi pasokan gas ke Eropa. Jauh dari dominasi Rusia. Hal yang sama juga terlihat dari pihak Turki, yang percaya bahwa pipa Qatar ini akan membantu diversifikasi pasokan gas jauh dari dominasi Rusia selain itu pipa tersebut juga membantu Turki dalam mewujudkan cita-citanya untuk menjadi pusat transfer gas antara Asia dan Eropa.
Dengan kata lain, setiap penyelesaian politik terkait konflik Suriah juga harus mendamaikan kepeentingan yang saling bertentangan ini. Menurut beberapa penliti, ada cara untuk mengatasi hal ini, yaitu membangun pipa unuk masing-masing Negara sehingga pemasaran gas Qatar dan Iran menjadi murah.
Hal ini pada kenyataannya akan melayani kepentingan semua pihak yang bertikai, kecuali bagi Rusia. Pembangunan dua pipa akan menjadi masalah bagi Kremlin, karena Rusia memiliki kepentingan yang sangat vital dalam mengendalikan pasokan gas ke Eropa melalui perusahaan “Gazprom” yang menjual 80% dari kebutuhan gas Eropa.
Tidak sekali ini, sebelumnya Rusia juga meenunjukkan kesediaannya untuk pergi perang ketika kepentingannya terkait gas ini terancam. Sebelumnya Rusia pernah melancarkan peperangan ke Georgia untuk menggagalkan rencana Barat untuk ekspor gas dari wilayah kaspia ke Barat melalui Azerbaijan dan Georgia ke Turki.
Rusia juga pernah berperang di Ukraina untuk mngontrol persimpangan penting antara Rusia dan Eropa. Semua ini menjadi sangat logis bagi Rusia untuk mengirim pasukannya ke Suriah dalam rangka mencegah pipa gas yang melintasi Suriah menuju Eropa, ini juga menjelaskan mngapa Rusia telah memilih untuk menargetkan kelompok pejuang di Suriah yang di danai oleh Arab Saudi dan Qatar.
Dari sini tampak jelas bahwa Suriah sangat tergantung pada kepentingan Rusia dan Iran, sebagaimana perbincangan yang beredar dalam media beberapa pekan terakhir. Tapi tentu negosiasi untuk mencari solusi itu akan menjadi sangat sulit ketika pertentangan antara kepentingan Amerika dan Rusia semakin hari semakin meruncing. [em/eramuslim/headlineislam.com]

Headlineislam.com adalah portal media Islam yang berpihak kepada kebenaran dan kaum Musliman Ahlussannah wal Jama’ah. Dan juga sebagai wadah yang menampung berita dan artikel-artikel bermanfaaat untuk dijadikan konsumsi bacaan maupun referensi.