Fashion

Technology

Entertainment

Recent Posts

Ustaz Arifin Ilham: Jangan Berbuat Zholim, Semoga Kapolri Diberi Hidayah untuk Bebaskan MAK


Headlineislam.com - Pimpinan Majelis Az Zikra KH Muhammad Arifin Ilham angkat bicara terkait kasus yang menimpa Sekjen Forum Umat Islam (FUI) KH Muhammad al Khaththath (MAK) yang saat ini sedang ditahan di Mako Brimob Kelapa Dua karena tuduhan makar.

Berikut kabar dari Ustaz Arifin tantang kondisi MAK yang sejak beberapa hari lalu dirawat di Rumah Sakit.

Assalaamu alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu.

SubhanAllah walhamdulillah sahabatku, kondisi guru kita tercinta fillah ustadz Khottot sudah membaik sebelumnya sempat dirawat. Semoga Allah beri kesabaran, keikhlasan, baik sangka, sejuta hikmah untuk ustadz Khottot.

Semoga ayahanda KAPOLRI tercinta diberi hidayah Allah untuk segera membebaskan guru kami tercinta, demikian pula babe Sadli dan para mahasiswa yg masih ditahan.

Ingat hidup kita sangat sebentar di dunia fana, tidak ada yg tidak dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Semua kita akan pensiun, akan wafat, jangan berbuat zholim pada siapapun. Tugas hidup kita setelah ibadah, adalah berbuat baik dan rendah hati pada saudara saudara kita.

Demi menyambut kemuliaan Ramadhon, bulan rahmat dan ampunan, semoga ayahanda KAPOLRI kita terbuka hati untuk membebaskan guru dan saudara saudara kita...aamiin. (si/headlineislam.com)

Rodja TV dan Wesal TV, Serupa Tapi Tak Sama?

Foto : Wesal TV posting Aksi Bela Islam 212 di Chanel Youtube resminya
Oleh : Maaher At-Thuwailibi

Headlineislam.com - Beberapa waktu lalu kami mengisi kajian ikhwan & akhwat di satu tempat. tema-nya, “khosho-ishu ahli sunnah wal jama’ah”. setelah kajian selesai, dibuka lah sesi tanya jawab. satu pertanyaan datang dari seorang ummahat. Pertanyaannya cukup membuat dahi ini berkerut sambil sedikit nyengir. Pasalnya, pertanyaannya disampaikan di hadapan umum secara langsung, dibacakan langsung pakai microfon tanpa di tulis di kertas.

“Ustad, bagaimana pendapat ustad tentang TV Rodja ? Dan apa nasehat ustad untuk kami para akhwat dan ummahat terhadap TV-TV dakwah yang layak di ambil ilmunya ? ”, tanya si ibu.

Maka saya jawab:

Kami (Maaher At-Thuwailibi yang faqir ini) dan semua guru-guru kami tidak pernah melarang muslim dan muslimah manapun untuk menimba ilmu dari TV atau Radio mana saja selama ilmu itu bersumber dari Al-Qur’an & As-Sunnah dengan Manhaj Salaful Ummah. TV atau Radio dakwah mana saja silahkan anda dengarkan dan anda simak kajian-kajiannya SELAMA yang di sampaikan adalah pendidikan tauhid, tuntunan ibadah, pensucian jiwa, penanaman iman dan taqwa.

PRINSIP kami simple saja: ILMU yang berbobot dan memiliki nilai adalah ilmu yang menjadikan pemiliknya TAKUT kepada Allah Ta’ala. Jika ada da’i atau ustad atau murobbi yang hobinya mencerca orang, ghibah, menggunjing keburukan orang, menebar aib orang, atau merusak nama baik orang lain atas nama agama, menjatuhkan kehormatan para da’i & aktivis dakwah; maka cukup anda pastikan bahwa ILMUNYA TIDAK MEMBUAHKAN KHASY-YAH (RASA TAKUT) kepada Rabbul ‘Izzah Wal Jalalah.!

Oleh karenanya, kami TIDAK MELARANG untuk mengambil ilmu dari media dakwah mana saja selama=> ILMU ITU MENJADIKAN ANDA TAKUT KEPADA ALLAH, DAN CINTA KEPADA SESAMA HAMBA ALLAH. Karena inilah prinsip ahlus sunnah wal jama’ah yang kami pegang teguh, yaitu: Beramal dengan Sunnah dan menetapi Jama’ah. (yaitu jama’ah kaum muslimin). Sikap fanatik buta dan membatasi orang mengambil ilmu hanya dari mejelisnya saja, atau ustadnya saja, atau media dakwahnya saja, justru ini adalah MANHAJ HIZBIYYAH yang sesat. mesti di waspadai. karena prilaku ini menyerupai aliran sesat LDII / Islam Jama’ah.

Hanya saja, kami sedikit memberikan informasi tentang RodjaTV dan WesalTV. RodjaTV ini ‘saudara kandung’ dengan InsanTV dan SurauTV. kalau WesalTV ‘bersaudara’ dengan UmmatTV. Tapi, fakta unik yang perlu anda catat adalah=> bahwa RodjaTV & WesalTV adalah dua media dakwah yang SERUPA tapi TAK SAMA.

Keserupaannya: Rodja & Wesal sama-sama media dakwah, para murobbi (narasumber) nya sama-sama berjenggot, bergamis, dll.

Ketidaksamaan-nya:

=> WesalTV menayangkan liputan aksi bela islam yang di hadiri jutaan kaum muslimin secara Live, baik di siaran TV-nya maupun di Akun resmi Wesal. Sedangkan RodjaTV tidak menayangkannya, padahal moment ini adalah moment bersejarah bagi ummat islam dan bangsa indonesia. bahkan seorang ustadnya (ustad yang seafiliasi dengan Rodja) mengeluarkan “fatwa” untuk membunuh para demostran. Alasannya, darah para demostran halal untuk di tumpahkan.

=> Wesal TV menayangkan liputan tabligh akbar /safari dakwah  Dr. Zakir Naik di indonesia beberapa waktu lalu, demikian pula UmmatTV. Sedangkan RodjaTV tidak sama sekali. Mata dunia mengakui kredibilitas seorang Dr.Zakir Naik dalam ilmu kristologi & perbandingan agama yang sudah meng-islamkan jutaan orang walillahil hamd.

=> Wesal TV, diantara da’i atau narasumbernya adalah Ustad Dr. Khalid Basalamah,Lc.MA. seorang dai yang berhubungan baik dengan da’i-da’i Wahdah Islamiyyah (WI). bahkan beliau (Ustad Khalid Basalamah) pernah mengajar menjadi dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Islam & Bahasa Arab (STIBA) makassar milik Wahdah Islamiyyah (WI). Sedangkam RodjaTV, salah satu da’i nya bernama Ustad Abdullah Taslim,MA. Ustad Abdullah Taslim,MA justru menyatakan bahwa Wahdah Islamiyyah adalah oraganisasi menyimpang, mentahdzir para da’inya, dan melarang ummat islam menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah milik Wahdah Islamiyyah.

Apapun komentar anda, inilah faktanya.
Sebelum dan sesudahnya kami mohon maaf. Selebihnya, silahkan analisa sendiri. kebenaran datangnya dari Allah.

Intinya, ambil ilmu dari media dakwah mana saja selama berada di atas titi ahlus sunnah wal jama’ah. Selain menyimak Wesal TV, UmmatTV, dll....., kami sarankan juga untuk mendengarkan kajian-kajian ilmiah di Radio Fajri FM , AkhyarTV, Syameela, Al-Ghifari Channel, IsykarimaTV,  SahabatYamimaTV, dll.

Wallahu A’lam bis Shawab. (mt/headlineislam.com)

Kriminalisasi Ulama dan Upaya Bubarkan Ormas Islam Mirip Cara-cara PKI


Headlineislam.com - Tokoh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Bogor Raya Muhammad Nur Sukma menilai kriminalisasi ulama serta upaya pembubaran organisasi massa (ormas) Islam saat ini mirip dengan situasi pada zaman Partai Komunis Indonesia (PKI) sedang kuat di masa silam.

"Kriminalisasi ulama dan upaya tekanan serta pembubaran terhadap ormas Islam mirip situasi di zaman PKI ketika menuntut pembubaran Masyumi dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)," ujar Nur Sukma kepada Suara Islam Online, Kamis (11/9/2017).

Situasi sekarang ini, kata Nur Sukma, menuntut umat Islam agar lebih waspada lagi. "Dengan semangat 212 kita juga harus terus menyuarakan kebenaran serta melawan segala bentuk kezaliman dan juga tidak memberi ruang kepada PKI untuk bangkit kembali," tegasnya.

Senada dengan Nur Sukma, sebelumnya ulama sepuh Bogor KH Muhammad Husni Thamrin juga mengutarakan bahwa kriminalisasi ulama mirip seperti cara-cara PKI.

"Saat jelang tanggal 30 September 65, sejumlah ulama yang vokal menolak kelompok anti Tuhan itu dikriminalisasi. Saat itu Buya Hamka ditahan karena tidak setuju dengan gerakan PKI, KH Zaenal Mutaqin di Bandung ditangkap, KH Ahmad Anshori tokoh Persis ditangkap, Jenderal Zulkifli Lubis orang sholeh yang dituduh meledakkan bom juga ditangkap. Semuanya cerita sama Abi tentang kejahatan PKI," ujar ulama yang akrab disapa Abi Thamrin itu.

Dan sekarang, kata Abi, sejumlah ulama seperti Habib Rizieq, KH Muhammad al Khaththath, Ustaz Bachtiar Nasir juga dikriminalisasi. "Habib Rizieq, sebentar-sebantar dipanggil polisi, katanya makar lah, serobot tanah negara lah, atau apa lah. ini ada apa?" ungkapnya.

"Sementara yang jelas-jelas penjahat seperti kelompok komunis gaya baru itu dibiarkan. Ini tidak boleh dibiarkan oleh kita," tandas Abi. (si/headlineislam.com)

Ini Penjelasan HTI tentang Khilafah

Konferensi Pers HTI, Selasa (9/5/2017). Foto: Salam-online.com
Headlineislam.com - Perjuangan penerapan khilafah oleh Hizbut Tahrir (HT), setidaknya menurut Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto, adalah untuk membangun sistem Islam yang akan bermanfaat bagi dunia.

Ia menegaskan, sistem humanis komunis maupun kapitalis demokratis ala barat, telah menyengsarakan umat manusia, khususnya di negeri-negeri Islam yang menerapkannya. Oleh karenanya, dia menilai kedua sistem itu gagal, sehingga perlunya penerapan sistem khilafah.

“Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslimin di dunia untuk menerapkan hukum syariat Islam secara kaaffah dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia,” ungkap Ismail di Kantor DPP HTI, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (9/5).

Diterapkannya sistem Nation State atau negara kebangsaan, bagi HTI, telah memecah belah persatuan umat Islam. Karena itu, sistem khilafah, terang Ismail, akan bisa mempersatukan barisan kaum Muslimin yang saat ini terpecah belah.

“Seperti yang kita tahu bahwa persaudaran di kalangan umat Islam itu berlangsung tidak efektif. Buktinya kita tidak bisa melakukan hal yang diperlukan, misalnya menolong saudara-saudara kita yang mengalami penindasan luar biasa di berbagai tempat. Karena kita tidak mempunyai kekuatan,” jelasnya.

Khilafah juga, menurutnya, di tengah sistem dunia saat ini yang dinilai tidak adil, akan memberikan manfaat, bukan hanya bagi umat Islam. Namun, kata dia, syariat Islam adalah rahmatan lil ‘aalamiin, memberikan manfaat bagi seluruh alam.

“Nah di situlah kita sebenarnya memerlukan satu tatanan yang baik. Persoalannya tatanan yang baik itu dari mana, bagaimana setelah kita secara rasional menilai bahwa kapitalisme itu telah menimbulkan berbagai dampak yang sangat mengerikan. Jadi tawaran syariah itu tawaran rasional yang bisa didiskusikan,” papar Ismail.

Selain itu, HTI, kata Ismail, akan memeberikan peran banyak terhadap dakwah Islam. “Dan inilah yang disampaikan oleh Hizbut Tahrir dalam berbagai kesempatan. Baik dalam bentuk lisan, tulisan maupun penjelasan dalam berbagai forum yang ada. Hizbut Tahrir tidak pernah menutup-nutupi, apa yang disampaikan semunya terbuka,” jelasnya. (so/headlineislam.com)

Penguasa Anti Islam Bila HTI Dibubarkan


Headlineislam.com - Sehari usai Menkopolhukam Wiranto menyatakan pemerintah akan melarang dan membubarkan ormas Hizbut Tahrir Indonesia, Ismail Yusanto selaku Jubir HTI pun melakukan hal serupa. Tujuannya untuk menjelaskan kepada masyarakat bagaimana HTI sesungguhnya.

“Kami melalui kegiatan dakwah di seluruh Indonesia memberikan perhatian penting bagi pembangunan SDM yang bertakwa dan berkarakter, melihat kebutuhan SDM tersebut diperlukan di tengah berbagai terpaan ujian yang tengah dialami oleh negara seperti korupsi yang pada yang ada,” ungkapnya di gedung DPP HTI Jakarta Selatan, Selasa (09/05).

Selain itu, berbagai peraturan perundangan liberal yang bakal merugikan bangsa dan negara seperti UU Migas, UU SDA, UU Penanaman Modal, juga UU Sisdiknas dan lainnya ; sosialisasi anti narkoba; menentang gerakan separatisme dan upaya disintegrasi.

Ismail menambahkan HTI juga terlibat dalam usaha membantu para korban bencana alam di berbagai tempat, seperti tsunami Aceh 2004), gempa Jogjakarta (2006) dan lainnya.

“Oleh karena itu, tudingan bahwa HTI tidak memiliki peran positif tidaklah benar,”tegasnya.

Berdasarkan itu, HTI meminta pemerintah menghentikan rencana pembubaran tersebut. “Bila diteruskan publik akan semakin mendapatkan bukti bahwa rezim yang tengah berkuasa saat ini adalah rezim represif anti Islam,” ungkapnya.

Buktinya, ia menerangkan, setelah pemerintah telah melakukan kriminalisasi terhadap para ulama, bahkan diantaranya ada yang masih ditahan hingga sekarang, lalu melakukan pembubaran atau penghalangan terhadap kegiatan dakwah di sejumlah tempat, kini pemerintah melakukan langkah guna membubarkan
ormas Islam.

“Sementara di saat yang sama, rezim justru dengan sekuat tenaga melindungi penista al Quran, termasuk melalui sidang peradilan yang tampak sekali dilihat oleh publik berjalan sangat tidak adil,” tutupnya. (kt/headlineislam.com)

FPI: Kami Hormati Keputasan Hakim Penjarakan Ahok 2 Tahun Penjara


Headlineislam.com - Front Pembela Islam (FPI) menghormati keputusan majelis hakim yang telah memvonis terdakwa penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dengan hukuman dua tahun penjara.

"FPI menghormati dan menerima keputusan majelis hakim yang memvonis Ahok 2 tahun penjara walaupun kami berharap hukuman 5 tahun," ujar Juru Bicara DPP FPI Ustaz Slamet Maarif melalui pernyataannya yang diterima Suara Islam Online, Selasa (9/5/2017).

Selain itu, FPI mengimbau umat Islam untuk senantiasa menjaga ketenangan dan kedamaian dalam ikatan ukhuwah Islamiyyah serta terus menjaga NKRI.

Ahok divonis hukuman pidana penjara selama 2 tahun karena dianggap terbukti melakukan penistaan agama. Majelis hakim menyebut Ahok selama ini merupakan pelaku yang menyebabkan kegaduhan yang terjadi. Ahok pun dibawa ke Rutan Cipinang untuk dijebloskan ke penjara. (si/headlineislam.com)

Inilah Ciri-Ciri Suami Ideal dalam Rumah Tangga


Headlineislam.com – Menjadi suami dan bapak ideal dalam rumah tangga? Tentu ini dambaan setiap lelaki, khususnya yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir. Dan tentu saja ini tidak mudah kecuali bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala.

Sosok kepala rumah tangga ideal yang sejati, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik (dalam bergaul) dengan keluargaku.” (HR. at-Tirmidzi (no. 3895) dan Ibnu Hibban (no. 4177), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani)

Karena kalau bukan kepada anggota keluarganya seseorang berbuat baik, maka kepada siapa lagi dia akan berbuat baik? Bukankah mereka yang paling berhak mendapatkan kebaikan dan kasih sayang dari suami dan bapak mereka karena kelemahan dan ketergantungan mereka kepadanya?. Kalau bukan kepada orang-orang yang terdekat dan dicintainya seorang kepala rumah tangga bersabar menghadapi perlakuan buruk, maka kepada siapa lagi dia bersabar?. (Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (4/273)

Imam al-Munawi berkata: “Dalam hadits ini terdapat argumentasi yang menunjukkan (wajibnya) bergaul dengan baik terhadap istri dan anak-anak, terlebih lagi anak-anak perempuan, (dengan) bersabar menghadapi perlakuan buruk, akhlak kurang sopan dan kelemahan akal mereka, serta (berusaha selalu) menyayangi mereka.” (Kitab “Faidul Qadiir” (3/498)

Potret Kepala Keluarga Ideal Dalam Al-Qur-an

Allah Ta’ala menggambarkan sosok dan sifat kepala keluarga ideal dalam beberapa ayat al-Qur-an, di antaranya dalam firman-Nya:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS an-Nisaa’: 34).

Inilah sosok suami ideal, dialah lelaki yang mampu menjadi pemimpin dalam arti yang sebenarnya bagi istri dan anak-anaknya. Memimpin mereka artinya mengatur urusan mereka, memberikan nafkah untuk kebutuhan hidup mereka, mendidik dan membimbing mereka dalam kebaikan, dengan memerintahkan mereka menunaikan kewajiban-kewajiban dalam agama dan melarang mereka dari hal-hal yang diharamkan dalam Islam, serta meluruskan penyimpangan yang ada pada diri mereka. (Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (1/653) dan “Taissirul kariimir Rahmaan” (hal. 177)

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولا نَبِيًّا. وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia (selalu) memerintahkan kepada keluarganya untuk (menunaikan) shalat dan (membayar) zakat, dan dia adalah seorang yang di ridhoi di sisi Allah” (QS Maryam: 54-55).

Inilah potret hamba yang mulia dan kepala rumah tangga ideal, Nabi Ismail ‘alaihissalam, sempurna imannya kepada Allah, shaleh dan kuat dalam menunaikan ketaatan kepada-Nya, sehingga beliau ‘alaihissalam meraih keridhaan-Nya. Tidak cukup sampai di situ, beliau ‘alaihissalam juga selalu membimbing dan memotivasi anggota keluarganya untuk taat kepada Allah, karena mereka yang paling pertama berhak mendapatkan bimbingannya. (Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/169) dan “Taissirul kariimir Rahmaan” (hal. 496)

Demukian pula dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam (panutan) bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqaan: 74).

Dalam ayat ini Allah Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang beriman karena mereka selalu mendokan dan mengusahakan kebaikan dalam agama bagi anak-anak dan istri-istri mereka. Inilah makna “qurratul ‘ain” (penyejuk hati) bagi orang-orang yang beriman di dunia dan akhirat. (Lihat kitab “Fathul Qadiir” (4/131)

Imam Hasan al-Bashri ketika ditanya tentang makna ayat di atas, beliau berkata: “Allah akan memperlihatkan kepada hambanya yang beriman pada diri istri, saudara dan orang-orang yang dicintainya ketaatan (mereka) kepada Allah. Demi Allah, tidak ada sesuatupun yang lebih menyejukkan pandangan mata (hati) seorang muslim dari pada ketika dia melihat anak, cucu, saudara dan orang-orang yang dicintainya taat kepada Allah Ta’ala.” (Dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (3/439)

Beberapa Sifat Kepala Rumah Tangga Ideal

1.    Shalih Dan Taat Beribadah

Keshalehan dan ketakwaan seorang hamba adalah ukuran kemuliaannya di sisi Allah Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu” (QS al-Hujuraat: 13).

Seorang kepala rumah tangga yang selalu taat kepada Allah Ta’ala akan dimudahkan segala urusannya, baik yang berhubungan dengan dirinya sendiri maupun yang berhubungan dengan anggota keluarganya. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (QS. ath-Thalaaq:2-3).

Dalam ayat berikutnya Allah berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya” (QS. ath-Thalaaq:4).

Artinya: Allah Ta’ala akan meringankan dan memudahkan (semua) urusannya, serta menjadikan baginya jalan keluar dan solusi yang segera (menyelesaikan masalah yang dihadapinya). (Tafsir Ibnu Katsir (4/489)

Bahkan dengan ketakwaan seorang kepala rumah tangga, dengan menjaga batasan-batasan syariat-Nya, Allah Ta’ala akan memudahkan penjagaan dan taufik-Nya untuk dirinya dan keluarganya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

“Jagalah (batasan-batasan/syariat) Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan/syariat) Allah maka kamu akan mendapati-Nya dihadapanmu”. (HR at-Tirmidzi (no. 2516), Ahmad (1/293) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “Shahihul jaami’ish shagiir” (no. 7957)

Makna “menjaga (batasan-batasan/syariat) Allah” adalah menunaikan hak-hak-Nya dengan selalu beribadah kepada-Nya, serta menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan makna “kamu akan mendapati-Nya dihadapanmu”: Dia akan selalu bersamamu dengan selalu memberi pertolongan dan taufik-Nya kepadamu.

Penjagaan Allah Ta’ala dalam hadits ini juga mencakup penjagaan terhadap anggota keluarga hamba yang bertakwa tersebut. (Lihat penjelasan Ibnu Rajab al-Hambali dalam “Jaami’ul uluumi wal hikam” (hal. 229)

2.    Bertanggung Jawab Memberi Nafkah Untuk Keluarga

Menafkahi keluarga dengan benar adalah salah satu kewajiban utama seorang kepala keluarga dan dengan inilah di antaranya dia disebut pemimpin bagi anggota keluarganya. Allah Ta’ala berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS an-Nisaa’: 34).

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf” (QS al-Baqarah: 233).

Dalam hadits yang shahih, ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ditanya tentang hak seorang istri atas suaminya, beliau bersabda: “Hendaknya dia memberi (nafkah untuk) makanan bagi istrinya sebagaimana yang dimakannya, memberi (nafkah untuk) pakaian baginya sebagaimana yang dipakainya, tidak memukul wajahnya, tidak mendokan keburukan baginya (mencelanya), dan tidak memboikotnya kecuali di dalam rumah (saja).” (HR Abu Dawud (no. 2142) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani)

Tentu saja maksud pemberian nafkah di sini adalah yang mencukupi dan sesuai dengan kebutuhan, tidak berlebihan dan tidak kurang. Karena termasuk sifat hamba-hamba Allah Ta’ala yang bertakwa adalah mereka selalu mengatur pengeluaran harta mereka agar tidak terlalu boros adan tidak juga kikir. Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

“Dan (hamba-hamba Allah yang beriman adalah) orang-orang yang apabila mereka membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan mereka) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS al-Furqaan: 67).

Artinya: mereka tidak mubazir (berlebihan) dalam membelanjakan harta sehingga melebihi kebutuhan, dan (bersamaan dengan itu) mereka juga tidak kikir terhadap keluarga mereka sehingga kurang dalam (menunaikan) hak-hak mereka dan tidak mencukupi (keperluan) mereka, tetapi mereka (bersikap) adil (seimbang) dan moderat (dalam pengeluaran), dan sebaik-baik perkara adalah yang moderat (pertengahan). (Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/433)

Ini semua mereka lakukan bukan karena cinta yang berlebihan kepada harta, tapi kerena mereka takut akan pertanggungjawaban harta tersebut di hadapan Allah Ta’ala di hari kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.” (HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam “as-Shahiihah” (no. 946) karena banyak jalurnya yang saling menguatkan)

3.    Memperhatikan Pendidikan Agama Bagi Keluarga

Ini adalah kewajiban utama seorang kepala rumah tangga terhadap anggota keluarganya. Allah Ta’ala berfirman:

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).

Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata: “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu sendiri dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam “Al-Mustadrak” (2/535), dishahihkan oleh al-Hakim sendiri dan disepakati oleh adz-Dzahabi)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata: “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya.” (Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 640)

Dalam sebuah hadits shahih, ketika shahabat yang mulia, Malik bin al-Huwairits radhiallahu’anhu dan kaumnya mengunjungi Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam selama dua puluh hari untuk mempelajari al-Qur-an dan sunnah beliau, kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda kepada mereka: “Pulanglah kepada keluargamu, tinggallah bersama mereka dan ajarkanlah (petunjuk Allah Ta’ala) kepada mereka.” (HSR al-Bukhari (no. 602)

4.    Pembimbing Dan Motivator

Seorang kepala keluarga adalah pemimpin dalam rumah tangganya, ini berarti dialah yang bertanggung jawab atas semua kebaikan dan keburukan dalam rumah tangganya dan dialah yang punya kekuasaan, dengan izin Allah Ta’ala, untuk membimbing dan memotivasi anggota keluarganya dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya…seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka.” (HR. al-Bukhari (no. 2278) dan Muslim (no. 1829)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mencontohkan sebaik-baik teladan sebagai pembimbing dan motivator. Dalam banyak hadits yang shahih, beliau Shallallahu’alaihi Wasallam selalu memberikan bimbingan yang baik kepada orang-orang yang berbuat salah, sampaipun kepada anak yang masih kecil.

Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam pernah melihat seorang anak kecil yang berlaku kurang sopan ketika makan, maka beliau Shallallahu’alaihi Wasallam menegur dan membimbing anak tersebut, beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (ketika hendak makan), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah (makanan) yang ada di depanmu.” (HR. al-Bukhari (no. 5061) dan Muslim (no. 2022)

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah melarang cucu beliau, Hasan bin ‘Ali radhiallahu’anhu memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan masih kecil, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Hekh hekh” agar Hasan membuang kurma tersebut, kemudian beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kita (Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan keturunannya) tidak boleh memakan sedekah?.” (HSR al-Bukhari (no. 1420) dan Muslim (no. 1069)

Imam Ibnu Hajar menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah bolehnya membawa anak kecil ke mesjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut. (Fathul Baari (3/355)

Memotivasi anggota keluarga dalam kebaikan juga dilakukan dengan mencontohkan dan mengajak anggota keluarga mengerjakan amal-amal kebaikan yang disyariatkan dalam Islam.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam hari lalu dia melaksanakan shalat (malam), kemudian dia membangunkan istrinya, kalau istrinya enggan maka dia akan memercikkan air pada wajahnya…” (HR Abu Dawud (no. 1308) dan Ibnu Majah (no. 1336), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani)

Teladan baik yang dicontohkan seorang kepala keluarga kepada anggota keluarganya merupakan sebab, setelah taufik dari Allah Ta’ala untuk memudahkan mereka menerima nasehat dan bimbingannya. Sebaliknya, contoh buruk yang ditampilkannya merupakan sebab besar jatuhnya wibawanya di mata mereka.

Imam Ibnul Jauzi membawakan sebuah ucapan seorang ulama salaf yang terkenal, Ibrahim al-Harbi.[1] Dari Muqatil bin Muhammad al-‘Ataki, beliau berkata: Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim al-Harbi, maka beliau bertanya kepada ayahku: “Mereka ini anak-anakmu?”. Ayahku menjawab: “Iya”. (Maka) beliau berkata (kepada ayahku): “Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka.” (Shifatush shafwah (2/409)

5.    Bersikap Baik Dan Sabar Dalam Menghadapi Perlakuan Buruk Anggota Keluarganya

Seorang pemimpin keluarga yang bijak tentu mampu memaklumi kekurangan dan kelemahan yang ada pada anggota keluarganya, kemudian bersabar dalam menghadapi dan meluruskannya.

Ini termasuk pergaulan baik terhadap keluarga yang diperintahkan dalam firman Allah Ta’ala:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (QS an-Nisaa’: 19).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Berwasiatlah untuk berbuat baik kepada kaum wanita, karena sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok), dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atas, maka jika kamu meluruskannya (berarti) kamu mematahkannya, dan kalau kamu membiarkannya maka dia akan terus bemgkok, maka berwasiatlah (untuk berbuat baik) kepada kaum wanita.” (HR. al-Bukhari (no. 3153) dan Muslim (no. 1468)

Seorang istri bagaimanapun baik sifat asalnya, tetap saja dia adalah seorang perempuan yang lemah dan asalnya susah untuk diluruskan, karena diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, ditambah lagi dengan kekurangan pada akalnya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إن المرأة خلقت من ضلع لن تستقيم لك على طريقة

“Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok), (sehingga) dia tidak bisa terus-menerus (dalam keadaan) lurus jalan (hidup)nya.” (HR. Muslim (no. 1468)

Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyifati perempuan sebagai:

ناقصات عقل ودين

“…Orang-orang yang kurang (lemah) akal dan agamanya.” (HR. al-Bukhari (no. 298) dan Muslim (no. 132)

Maka seorang istri yang demikian keadaannya tentu sangat membutuhkan bimbingan dan pengarahan dari seorang laki-laki yang memiliki akal, kekuatan, kesabaran, dan keteguhan pendirian yang melebihi perempuan. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala menjadikan kaum laki-laki sebagai pemimpin dan penegak urusan kaum perempuan. (Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 101)

Seorang laki-laki yang beriman tentu akan selalu menggunakan pertimbangan akal sehatnya ketika menghadapi perlakuan kurang baik dari orang lain, untuk kemudian dia berusaha menasehati dan meluruskannya dengan cara yang baik dan bijak, terlebih lagi jika orang tersebut adalah orang yang terdekat dengannya, yaitu istri dan anak-anaknya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah seorang lelaki beriman membenci seorang wanita beriman, kalau dia tidak menyukai satu akhlaknya, maka dia akan meridhai/menyukai akhlaknya yang lain.” (HR. Muslim (no. 1469)

6.    Selalu Mendoakan Kebaikan Bagi Anak Dan Istrinya

Termasuk sifat hamba-hamba Allah Ta’ala yang beriman adalah selalu mendoakan kebaikan bagi dirinya dan anggota keluarganya. Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam (panutan) bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqaan: 74).

Dalam hadits yang shahih, ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjelaskan tentang kewajiban seorang suami terhadap istrinya, diantaranya: “…Dan tidak mendokan keburukan baginya.” (HR Abu Dawud (no. 2142) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani)

Maka kepala keluarga yang ideal tentu akan selalu mengusahakan dan mendoakan kebaikan bagi anggota keluarganya, istri dan anak-anaknya, bahkan inilah yang menjadi sebab terhiburnya hatinya, yaitu ketika menyaksikan orang-orang yang dicintainya selalu menunaikan ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Penutup

Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi orang-orang yang beriman, khusunya para kepala keluarga, untuk menghiasi dirinya dengan akhlak yang terpuji ini, untuk menjadikan mereka meraih kemuliaan dan kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat bersama anggota keluarga mereka, dengan taufik dari Allah Ta’ala.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni, MA. (Kota Kendari, 9 Rajab 1434 H)
(ms/headlineislam.com)



[1] Beliau adalah Imam besar, penghafal hadits, Syaikhul Islam Ibrahim bin Ishak bin Ibrahim bin Basyir al-Baghdadi al-Harbi (wafat 285 H), biografi beliau dalam “Siyaru a’alamin nubala‘” (13/356)

HTI Dibubarkan, Kok Syiah Tidak?


Headlineislam.com - Hari Senin, 8 Mei 2017, pemerintah melalui Menko Polhukam, Wiranto mengumumkan pelarangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan alasan organisasi yang gencar mewacanakan pentingnya khilafah internasional untuk menyatukan umat Islam dianggap melahirkan ‘benturan di masyarakat yang dapat mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat, serta membahayakan keutuhan NKRI’.

Hidayatullah.com mewawancarai Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat periode 2015-2020 yang juga Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah 2015-2020. Inilah hasilnya.

Pemerintah baru saja mengumumkan pembubaran HTI, pendapat Anda?

Saya tidak setuju dengan Menkopolhukam yang membubarkan ormas yang seharusnya sesuai Undang-Undang harus lewat putusan pengadilan, bukan dengan model pernyataan pers.

Maksudnya?                    

Pembubaran ormas harus dengan pembuktian fakta hukum di pengadilan bukan dengan opini publik yang dikembangkan sepihak.

Bagaimana tanggapan Anda sendiri terkait wacana khilafah ini?

Secara substansi kita harus mendukung keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU) yang memutuskan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila  sesuai kondisi Indonesia.

Namun pemerintah dan seluruh komponen bangsa harus menjamin pelaksanaan Pancasila yang benar melahirkan kesejahteraan lahir batin warganya sesuai dengan nilai luhur agama, bukan yang sudah direduksi diselewengkan dengan menerapkan neolib ekonomi politik dan social budaya (Sosbud).

Ustadz Fahmi Salim
Bisa dijelaskan?

Tuntutan dan gagasan mencari alternatif selain NKRI dan Pancasila hanya akan muncul di tengah ketimpangan sosial, ketidakadilan ekonomi, tidak terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selama ini ide HTI kan masih taraf gagasan, apakah tepat langsung dibubarkan?

Jika ingin bersikap tegas dengan organisasi yang berorientasi transnasional, tidak boleh tebang piling HTI saja, ini dzolim namanya. Jadi harus juga diterapkan kepada ormas yang jelas-jelas transnasional yang mereka komandonya menginduk kepada negara luar, yang tunduk pada otoritas keagamaan dan politik yang bersifat pada totaliter.

Bisa diberi contoh?

Misalnya organ-organ komunisme yang ditengarai yang bangkit, juga organ-organ Syiah di Indonesia yang menginduk pada gerakan transnasional (tunduk Syiah Iran).

Apa bahayanya ideologi Syiah bagi NKRI?

Mereka memiliki konsep imamah, konsep politik yang menyatukan agama dan negara yang dikontrol dari luar negeri (Iran, red). Dan untuk mengabdi pada kepentiangan Syiah-Iran. Jika perlu ini perlu ditertibkan karena mereka juga memiliki konsep imamah internasional mirip HTI selama ini mewacana konsep khilafah internasional. Syiah ini malah lebih berbahaya, malah mengancam sendi-sendi bernegara, karena konsep politiknya totaliter. Dimana menyatukan agama dan negara dibawah kendali imam yang terpusat kekuasaannya di Iran. Syiah mengancam akidah ahlusunnah wal jamaah di Indonesia yang dihuni mayoritas penduduk Indonesia.

Separah apa bahaya Syiah bagi NKRI?

Dengan ideology imamahnya yang dikontrol Iran, Syiah banyak mengangkat senjata dan melakukan pemberontakan di mana-mana. Dari Iraq, Libanon, Yaman sampai Bahrain.

Di Bahrain, tokoh Syiah yang juga peminpin Partai Al-Wafa’a Islam,  Murtadha Al-Sanadi mengajak rakyat melawan Negara dan mendorong anak-anak muda Syiah Bahrain untuk terus menyerang aparat keamanan, dan mengangkat senjata melawan pemerintah.

Pemberontakan di Arab Saudi membuat tokoh Syiah Syekh Nimr dihukum mati karena dianggap menghasut rakyat melawan pemerintah Saudi.

Syiah menimbulkan keresahan di mana-mana, termasuk di Nigeria dimana bentrok antara militer Negara dengan milisi Syiah. Jangan lupa di Filipina,  kasus penembakan terhadap rombongan Syekih Aid Alqarny. Di Bogor aktivis Syiah melakukan penyerangan terhadap Azzikra Sentul, yang dipimpin Ustad Arifin Ilham, dll.

Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar (hy/headlineislam.com)

Suami - Inilah Ciri-Ciri Istri Sholihah


Headlineislam.com - Ciri-ciri Istri Sholihah itu siperti apa?... Yuk kita baca ciri-cirinya dibawah ini :

1)        Istri yang sholihah taat pada suami. Dalam hal melayani suami, khususnya dalam memenuhi hasrat suami. Hasrat suami adalah kewajiban yang harus segera ditunaikan. Jika seorang suami mengajak sang istri ke ranjang, sang istri harus segera memenuhinya. Kecuali ada halangan yang bersifat syar’i.

2)        Istri yang sholihah tidak membantah perintah suami selama tidak bertentangan dengan syariat. Seperti halnya ketika ada beda pendapat antara suami dan istri, karena suami sebagai pemimpin, suami lah yang berhak berkeputusan. Sang istri boleh memberi masukan, tapi keputusan akhir tetap keputusan suami. Ketika seorang istri bisa taat pada suami, tentu akan sangat disukai oleh Allah subhanahu wata’ala.

3)        Istri yang sholihah berusaha untuk tidak bermuka masam di hadapan suami. Apa lagi ketika suami tidak bawa uang, muka nya jadi masam, bukannya muka nya harusnya berseri-seri? Dalam hal ini, perkara yang penting adalah ketika istri mendapat ridho dari suaminya. Bermanis muka di hadapan suami adalah ibadah.

4)        Istri yang sholihah berusaha memilih kata-kata yang terbaik saat berbicara dengan suaminya. Sebagai seorang istri hendaknya memilih kata-kata yang indah dan membuat hati suami senang. Jangan sampai menyakiti hati suami. Jangan sampai salah omongan sehingga terkesan merendahkan suami,atau pun suami merasa dibandingkan dengan suami orang lain.

5)        Istri yang sholihah tidak memerintahkan suami untuk melakukan pekerjaan wanita seperti mencuci, menyapu, dan mencebok anak. Sebisa mungkin untuk tidak menyuruh suami, kecuali dalam keadaan darurot yang benar-benar membutuhkan bantuan suami. Seharusnya sang istri bisa menghargai suami, yang sudah berlelah-lelahan di luar rumah untuk mencari nafkah. Seharusnya, saat di rumah, suami full dimanjakan ♥ ^^

6)        Istri yang sholihah keluar rumah hanya dengan ijin suami. Sempatkan untuk mengabari suami melalui sms atau telfon untuk meminta ijin. Tatkala ketika istri menghargai suami, tentu suami akan bahagia dan senang ketika diperlakukan demikian. Memang ini perkala sepele, namun ini sangat bisa membuat suami bahagia. Suami itu butuh seorang istri yang dapat menghargai kehadirannya. Hal ini yang semakin membuat suami, makin sayang & cinta kepada istrinya.

7)        Istri yang sholihah berhias hanya untuk suami. Perhatikan wangi tubuh tatkala dihadapan suami. Pakai parfum di rumah, jangan untuk orang lain sehingga menjadi santapan mata jelalatan di luar sana. Nah! Suami akan senang ketika istri mau berhias dan mampu memanjakan suami. Menghias diri, membersihkan tempat tidur, memilih sprei tempat tidur yang nyaman supaya suami betah di rumah. Ketika suami betah di kamar, istri insyaa Allah dapat pahala dari sisi Allah subhanahu wata’ala. Perhatian terhadap suami adalah perkara yang penting. Niatkan saya berhias, merapikan tempat tidur, memasak yang enak untuk ibadah karena Allah subhanahu wata’ala.  

8)        Istri yang sholihah menuruti perkataan suami tatkala tidak diijinkannya orang lain untuk bertamu ke dalam rumah tanpa seijin suami. Misalnya suami mengatakan saya tidak suka dengan Ummu Fulanah, turutilah. Tidak usah banyak membantah. Jika istri membangkang tentu akan menyakiti hati suami.

9)        Istri yang sholihah mampu menjaga waktu makan dan waktu istirahatnya suami. Alangkah indahnya, ketika istri menanyakan suami, esok hari ingin makan apa mas? Betapa senangnya hati suami. Ketahuilah makanan favorit-nya suami. Berusahalah mesra kepada suami. Manjakan dia. Pahamilah jadwal makan suami, jangan sampai terlambat. Perhatikan waktu istirahat suami, jangan sampai terganggu, sehingga membuat suami tidak fit.

10)    Istri yang sholihah hendaknya menghormati mertua serta kerabat suami. Terutama ibunya suami, dan tidak menutup kemungkinan terjadi cek cok antara ibu mertua dan menantu. Apa lagi ketika seorang menantu yang tinggal serumah dengan mertua. Rawan perkelahian, maupun perdebatan. Masalah cek cok ini pada dasarnya yang memiliki peran atau islah adalah suami tersebut dalam berperan untuk mendamaikan.

11)    Istri yang sholihah berusaha untuk menenangkan hati suami karena galau. Berusaha tenangkan hati suami saat pulang ke rumah ketika sedang emosi saat menghadapi Si Fulan. Katakan, sabar mas.. Mas harus sabar.. Redamlah hati suami. Seperti yang dilakukan Khadijah kepada Rasulullah.

12)    Istri yang sholihah segera minta maaf ketika berbuat salah, dan tidak menundanya. Jangan angkuh, dan gengsi untuk minta maaf. Jangan sampai sebagai seorang istri ngambek dengan suami. Segeralah minta maaf, dan cium tangannya dengan sungguh-sungguh.

13)    Istri yang sholihah mencium tangan suami saat suami hendak bekerja maupun pulang bekerja. Memijit suami setelah pulang kerja. Maa Syaa Allaah. Hilang penatnya, ia pun makin sayang dengan istri ^^

14)    Istri yang sholihah mau untuk diajak suami untuk sholat malam, bahkan lebih baik lagi ketika seorang istri mau membangunkan suami untuk sholat tahajudd. Menjadikan akhirat sebagai tujuan utama dalam kehidupan rumah tangga. Intinya saling mengingatkan untuk melakukan ibadah tahajjud.

15)    Istri yang sholihah berusaha menutup aib suaminya maupun aib rumah tangga, khususnya perkara rahasia mereka saat di ranjang. Tidak perlu di umbar kemana-mana. Cukup mereka dan Allah yang tahu.

16)    Istri yang sholihah tidak membentak dan berkata keras di hadapan suami. Berlemah lembutlah wahai istri.

17)    Istri yang sholihah baiknya selalu menerima rezeki yang diberikan Allah dan bersifat qona’ah terhadap apa yang diberikan suami. Selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki.

18)    Istri yang sholihah tidak menunjukkan kesedihan saat suami sedih, namun juga sebaliknya saat suami gembira istri malah sedih. Intinya istri hendaknya pandai mengkondisikan diri mengikuti alur hati suami.

19)    Istri yang sholihah berusaha memperhatikan apa yang disukai suami dalam segala hal. Misal membeli pakaian tidur sesuai selera suami. Mas, kamu senangnya saya berbaju warna apa? ;p Menjaga kebersihan diri saat ingin dekat-dekat dan bermanja-manja dengan suami.

20)    Istri yang sholihah akan pandai dalam membelanjakan uang pemberian suami, prinsip skala prioritas, tidak boros, dan jangan menggampangkan hutang. Harta suami adalah amanah dan istri akan diminta pertanggungjawaban Allah tentangnya.

21)    Istri yang sholihah tidak menceritakan kecantikan wanita lain di depan suami. Sehingga membuat suami membayangkan kecantikan wanita lain. Ini hukumnya haram. nah! kudu waspada nih para istri.

22)    Istri yang sholihah berusaha menasihati suami saat terjerumus dalam kemaksiatan. Mengingatkan dalam kebaikan.

23)    Istri yang sholihah berusaha untuk menjaga pandangannya, bahwa seorang istri hanya fokus dengan ketampanan suaminya saja. Dilarang memperbincangkan ketampanan lelaki lain. its a BIG NO NO!

24)    Istri yang sholihah lebih suka menetap di rumah. Boleh keluar rumah jika benar-benar dibutuhkan. Tetaplah kalian di rumah kalian dan juga seorang wanita semakin baik sholat di rumah daripada di masjid.

25)    Istri yang sholihah jika suami melakukan kesalahan, mereka tidak mengingkari ataupun tidak melupakan kebaikan-kebaikan suami. Jangan kufur terhadap kebaikan suami.

Sudah berapa banyak ciri-ciri yang sudah dimiliki para istri??? Kita semua berharap agar rumah tangga semuanya bahagia, harmonis, selamat dunia dan akhirat. Pada akhirnya dapat berkumpul kembali di Jannah-Nya kelak. Aamiin..

Demikian diantara faedah dari rekaman kajian ust Firanda Andirja tentang Ciri-ciri Istri Shalihah. Sebagai muslimah, yuk kita terus memperbaiki diri.

Video lengkapnya silahkan ditonton dibawah ini :


Diringkas oleh : An-Nashihah