Ratusan Ribu Santri Cianjur Siap Syahid Membela Ulama


Headlineislam.com - Penetapan Ketua Umum FPI Habib Rizieq sebagai tersangka di Polda Jabar membuat Forum Pondok Pesantren (FPP) Kabupaten Cianjur mengambil sikap. Mereka murka melihat situasi politik nasional yang dinilai semakin menyudutkan para ulama.

FPP beserta asetnya yaitu, 121 ribu santri berencana akan melakukan tindakan, jika situasi tersebut tak kunjung mereda. Pengurus FPP Kabupaten Cianjur, Abdul wahid Al Qudsih menegaskan, umat Islam tidak membenci Pancasila dan NKRI. Hanya saja umat Islam merasa miris dengan penangkapan dan diskriminasi yang dilakukan terhadap para ulama.

“Habib, semuanya cinta Pancasila dan NKRI. Bahkan, jika melihat sejarah, seseorang yang menciptakan lambang Garuda juga ulama,” kata Wahid Radar Cianjur (Jawa Pos Group).

Namun, saat ini seakan-akan ulama dimarginalkan. Semua pengikut dan yang membelanya juga dianggap sama. Padahal, jauh sebelum kemerdekaan diumumkan, umat Islam beserta para ulama berperan besar dalam perjuangannya.

“Jangan ada distorsi sejarah. Perlu diketahui bahwa sebelum Indonesia merdeka, tanah air dan bahasa Indonesia juga merah putih sejarah membuktikan ada lapaz hizbullah melawan Jepang. Tulisan syahadat tertera di bendera merah putih, kenapa sekarang ada kriminalisasi,” cetusnya.

Abdul menambahkan, jika umat Islam melakukan aksi besar memprotes keanehan tersebut, santri dan umat Islam se Kabupaten Cianjur siap terjun dan rela mati demi membela agama Islam serta para ulama.

“Kami semua siap dan rela mati demi membela Islam, serta para ulama,” tandasnya. (em/headlineislam.com)

Fuad Bawazier: Demi Stabilitas Politik dan Keamanan, Ahok Harus Mundur!


Headlineislam.com - Gubernur DKI nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama diminta mengundurkan diri dari panggung politik eksekutif. Hal itu penting guna mengurangi gangguan stabilitas politik dan keamanan Indonesia yang muncul gara-gara Basuki alias Ahok.

Mantan Menteri Keuangan, Fuad Bawazier menegaskan, mempertahankan Ahok hanya akan membuat aparat penegak hukum dan TNI selalu repot dan tegang.

“Begitu pula lembaga negara lainnya seperti BPK, KPK dan DPR/DPRD menjadi repot dan sorotan publik. Biaya pengamanan yamg harus dipikul negara atau APBN/ APBD juga saya kira lumayan besar,” jelas dia kepada redaksi, Kamis (2/2).

Selain itu, Ahok dirasa Fuad juga membuat para pengusaha besar tidak nyaman. Apalagi, political costs yang harus mereka pikul mulai memberatkan.

“Bangsa ini terasa terpecah karena mulut Ahok selaku pejabat publik yang mudah menyulut keributan. Padahal itu sudah pembawaan dari sononya yang rasanya sudah tidak bisa diubah,” katanya.

Tak hanya itu, informasi yang diterima Fuad, banyak pegawai DKI yang gerah dengan kehadiran Ahok sehingga bekerja tertekan dan tidak maksimal.

“Para pendukung Ahok baik pendukung politik maupun finansial harus bijak menjelaskan hal ini pada Ahok. Untuk Ahok, saya kira ini juga bukan berarti akhir dari segalanya, sebab masih ada ruang atau kegiatan lain yang masih bisa di gelutinya, termasuk kembali ke DPR,” katanya.

Fuad pun berpesan kepada semua pihak untuk bisa mampu menahan diri dari saling lapor melaporkan yang hanya menambah ketegangan sesama anak bangsa.

“Para pemimpin bangsa khususnya para peringgi negara agar berusaha maksimal berbuat jujur dan adil dalam penegakan hukum,” tandasnya. (em/headlineislam.com)

Permintaan Maaf Ahok Penuh Nuansa Adu Domba


Headlineislam.com - Terdakwa kasus penodaan agama, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok akhirnya meminta maaf kepada Ketua Umum MUI, KH. Ma’ruf Amin soal perilaku dan perkataannya di muka persidangan Selasa (31/1) lalu. Namun bagi Ahli Hukum MUI permintaan maaf Ahok tersebut justru menunjukkan upaya memecah umat Islam, NU dan non-NU.

Ahok mengatakan sasarannya adalah kepada saksi pelapor, bukan kepada Kiai Ma’ruf yang juga menjabat Rais Aam PBNU. Dari permintaan maaf itu, Ahli Hukum Dewan Pimpinan MUI, Abdul Chair Ramadhan mengatakan, padahal banyak saksi pelapor juga Anggota MUI tapi bukan bagian dari NU.

“Hal ini mengindikasikan semakin jelasnya nuansa adu domba, dengan melakukan polarisasi. Ahok telah melakukan klasterisasi antara ‘NU dengan bukan NU’,” kata dia dalam keterangan tertulisnya, Kamis (2/2).

Ia menegaskan keberatan atas sikap dan perilaku Ahok baik kepada Kiai Ma’ruf maupun soal Al Maidah adalah umat Islam Indonesia. Karena itu masalah penodaan agama dan pelecehan ke Kiai Ma’ruf bukan lah masalah institusi kelembagaan saja, NU dan Non-NU, maupun MUI.

Akan tetapi masalah umat Islam yang menuntut ditegakkannya hukum secara adil kepada pelaku penodaan agama. Kemudian pernyataan maaf Ahok yang memisahkan NU dan non-NU tersebut, menurut Abdul Chair memberi pengecualian ormas Islam di luar NU dianggap tidak memiliki integritas dalam menjaga kebhinekaan dan tidak memiliki rasa nasionalisme. Ini jelas berbahaya. (em/headlineislam.com)

Buat Yang Anti Arab: Kalau Mati Mau Disebut “Bangke” aja Ya?


Headlineislam.com - Status facebook seorang netizen ini nampar banget buat mereka yang anti-Arab.

Berikut selengkapnya yang dapat redaksi kutip melalui akun facebook Tina Azizi:

“Almarhum / Almarhumah” itu berasal dari bahasa Arab, artinya “yang dirahmati”, atau secara lengkapnya dapat diartikan “orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala”.

Sebutan tsb sangat familiar di telinga kita sebagai gelar untuk orang yang telah wafat.

Nah sekarang tetiba menjadi happening, banyak muslim yg anti Arab.

Pertanyaanya, jika mereka nanti meninggal mereka maunya diberi gelar apa ya … “Bangke” atau apa?

Mohon pencerahan …

#serius”

Begitulah tulisan Tina Azizi di akun facebook 24/01/17.

Pertanyaannya, bagi mereka yang anti arab dengan mendapat pertanyaan tersebut, kira-kira gelar apakah yang akan mereka pilih setelah mereka wafat?

Ayo silahkan dijawab! (em/headlineislam.com)

Sultan Kaumlam


Headlineislam.com - Sultan Kaumlam adalah orang kafir. Ia dikenal dengan sebutan Tirawari. Ia sangat menghormati orang-orang Islam, ia memberlakukan hukum berat bagi para pencuri dan perampok.

Alkisah, di daerah Kaumlam aku pernah melihat seorang pemanah dari irak membunuh temannya. Ia kemudian lari ke daerah Awaji, ia termasuk orang yang kaya raya, orang-orang Islam di daerah tersebut berencana menguburkan jenazahnya orang yang dibunuhnya, tetapi dicegah oleh para pembesar sultan. Mereka berkata, “Ia tidak akan dikuburkan kecuali kalian mendatangkan pembunuhnya kepada kami hingga kami juga membunuhnya.”

Akhirnya, jenazah tersebut dimasukkan di dalam peti dan dibiarkan terlantar hingga berbau dan berubah bentuk. Beberapa waktu kemudian penduduk Awaji menemukan sang pembunuh. Ia berjanji akan menyerahkan seluruh harta yang dimilikinya asalkan ia dibebaskan, tetapi mereka tidak mau. Akhirnya ia pun dibunuh. Setelah itu, jenazah pertama yg telah membusuk itu baru dikuburkan.

Cerita lainnya, dikabarkan kepadaku bahwa suatu hari sultan Kaulam berjalan sambil menunggang kuda. Kebetulan di sebalah kanan dan kiri jalan yang dilalui terdapat kebun. Saat itu, sultan bersama menantunya. Ia juga termasuk salah satu putra raja. Sang menantu kemudian mengambil sebuah anggur yang jatuh di kebun tersebut. Melihat hal itu, sultan langsung menjatuhkan sanksi berat. Tubuh menantunya itu dipotong menjadi dua bagian; sebagian disalib di bagian kanan jalan dan sebagiannya lagi di salib di bagian kiri jalan. Begitu juga dengan buah anggur yang diambilnya, sebagian diletakkan di kanan jalan dan sebagian di letakkan di kiri jalan. Hal itu dilakukan sultan supaya dijadikan pelajaran bagi orang yang melihatnya.

Disadur dari kitab : Rihlah Ibnu Batuthah
Oleh : Siti Maharani 

Setelah Tersudut, Ahok Akhirnya Klarifikasi dan Minta Maaf


Headlineislam.com - Gelombang protes warga Nahdlatul Ulama atas ucapan Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di persidangan, Selasa (31/1) lalu, membuatnya ketar-ketir hingga harus membuat klarifikasi dan permohonan maaf.

Ahok ingin menegaskan bahwa apa yang terjadi kemarin merupakan proses yang ada dalam persidangan. “Saya sebagai terdakwa sedang mencari kebenaran untuk kasus saya. Untuk itu saya ingin menyampaikan klarifikasi beberapa hal.”

Lebih lanjut, Ahok memastikan bahwa dirinya tidak akan melaporkan KH. Ma’ruf Amin ke polisi. Kalaupun ada saksi yang dilaporkan, adalah saksi pelapor. Sedangkan, Kiai Ma’ruf  Amin bukan saksi pelapor. Beliau seperti saksi dari KPUD yang tidak mungkin dilaporkan.

Setelah terdesak dan tersudut oleh kemarahan warga NU, akhirnya Ahok meminta maaf kepada KH. Ma’ruf Amin.  “Saya meminta maaf kepada KH. Ma’ruf Amin  apabila terkesan memojokkan beliau, meskipun beliau dihadirkan kemaren oleh Jaksa sebagai Ketua Umum MUI. Saya mengakui beliau juga sesepuh NU.

Kata Ahok, dirinya menghormati beliau sebagai sesepuh NU, seperti halnya tokoh-tokoh lain di NU, Gus Dur , Gus Mus, tokoh-tokoh yang ia hormati dan panuti.

Terkait informasi telepon SBY ke Kiai Ma’ruf Amin tanggal 7 Oktober 2016, kata Ahok, menjadi urusan Penasehat Hukumnya. Ia mengakui hanya disodorkan berita liputan6.com tanggal 7 Oktober, bahwa ada informasi telepon SBY ke Kiai Ma’ruf. Selanjutnya terkait ini, ia serahkan  kepada penasihat hukumnya.

“Demikian klarifikasi saya sampaikan . Saya berharap klarifikasi ini dapat menjernihkan persoalan dan saya juga berharap agar pihak-pihak lainnya tidak memperkeruh suasana.

PKB Protes

Dalam kesempatan itu, Wakil Sekretaris Jenderal PKB Daniel Johan melalui pesan singkat, Rabu (1/2) menilai ucapan Ahok teramat kasar, arogan, bahkan mengancam KH. Ma’ruf Amin saat persidangan. Ahok membuat warga NU menjadi sangat marah.

KH Ma’ruf merupakan sosok yang paling dihormati warga NU sebagai pimpinan tertinggi di PBNU saat ini. “Ini menjadi hadiah yang sangat menyedihkan dari seorang Ahok kepada NU di hari ulang tahunnya yang ke-91,” kesal Daniel.

Daniel lantas mengatakan, Ahok menjadi  bupati sampai gubernur saat ini karena perjuangan tokoh NU sekaligus Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan warga nahdliyin. “Bahkan PKB bersama Banser dulu pasang badan buat Ahok,” ulas pria keturunan etnis Tionghoa itu.

Karena itu, PKB secara tegas meminta Ahok segera menghadap KH Ma’ruf Amin dan meminta maaf untuk menenangkan amarah warga NU sekaligus meneduhkan suasana kebatinan bangsa. Jangan malah mempolitisir urusan hukum. (pm/headlineislam.com)

Waspada! Website Resmi DPP FPI Telah Dirampas oleh Polisi


Headlineislam.com - Sejumlah netizen menanyakan mengapa ada yang aneh dengan website resmi DPP Front Pembela Islam (FPI). Tidak seperti biasanya, website yang beralamat di fpi.or.id itu kini jarang aktif.

Netizen akhirnya mendapatkan jawaban mengejutkan dari Markaz Syariah (MS) FPI Banten. Melalui fan page yang beralamat di @msfpibanten, MS FPI Banten menginformasikan bahwa website resmi DPP FPI telah dirampas.

“Waspada...!!! Website resmi DPP FPI yakni www.fpi.or.id telah dirampas oleh pihak kepolisian tadi pagi,” kata MS FPI Banten, Selasa (31/1/2017).

“Diharapkan agar berhati-hati dengan website tersebut, jangan sampai menimbulkan fitnah dan adu domba di kalangan umat Islam,” lanjutnya.

Belum ada informasi lebih detil pihak kepolisian mana yang merampas website tersebut, bagaimana kronologisnya, apa latar belakang dan motifnya.

Sumber Tarbiyah.net di FPI Banten juga memberikan informasi serupa.

“Website resmi FPI telah diambil alih oleh pihak Polri, jadi segala isi konten sekarang bukan tanggung jawab FPI,” katanya. (tr/headlineislam.com)

Sertifikasi Da'i Dinilai Sebagai Upaya Pemerintah Mengendalikan Para Da'i


Headlineislam.com - Wacana Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia yang akan membuat sertifikasi untuk penceramah (da'i) dan mengatur isi ceramah, adalah sebuah upaya pengendalian terhadap para da'i itu sendiri.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Gerakan Pagar Aqidah (Gardah) Jawa Barat Suryana Nurfatwa.

"Sepintas seperti diperhatikan tetapi sebenarnya ibarat kerbau ditendok hidungnya, ya tidak berdaya," katanya kepada voa-islam.com, Selasa (31/01).
...da'i itu bertugas menyampaikan ilmu ke-Islaman, sementara seluruh muslim berkewajiban bertugas menyampaikan meskipun hanya satu ayat, berarti seluruh kaum Muslimin adalah punya tugas sebagai da'i
Menurut Suryana, da'i itu bertugas menyampaikan ilmu ke-Islaman, sementara seluruh muslim berkewajiban bertugas menyampaikan meskipun hanya satu ayat, berarti seluruh kaum Muslimin adalah punya tugas sebagai da'i.

"Kalau da'i disertifikasi berarti dibatasi oleh persyaratan, jika ada kesempatan dia menyampaikan tausiah sementara tidak bersertifikasi berarti dia tidak bisa tausiah, apalagi materinya diatur, yang belum tentu tepat dengan situasi dan kondisi," ujarnya,

"Sadar atau tidak bahwa program seperti ini adalah progran pengkerdilan ummat Islam. Ummat Islam identik dengan da'i, kalau keberadaan da'inya diatur oleh aturan manusia maka kualitas Muslim akan terpuruk, biarkanlah da'i itu diatur oleh aturan Allah dan Rosul-Nya," pungkasnya. (vi/headlineislam.com)

Semua Hal Dikorbankan Rezim untuk Ahok


Headlineislam.com - Ketua PP Al-Washliyah, Ahmad Doli Kurnia mengatakan bahwa proteksi penguasa terhadap Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok semakin eskalatif dan merajalela.

"Setelah Polri yang secara terang-terangan melindungi Ahok, sekarang aparat dan kelompok yang lainpun mulai dikerahkan. Dan yang menjadi sasaran serangan pun juga melebar kemana-mana," kata Doli dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (31/1/2017).

Menurur Ketua Aksi KB-HMI itu, dalam dimensi pilkada, ketika elektabilitas para kompetitor Ahok semakin hari terus meningkat. Maka, dicari-carilah kelemahan mereka. Isu pembangunan masjid dan dana hibahpun direkayasa buat Sylviana Murni.

"Bahkan, saking membabi butanya, dana hibah pun disebut dana bansos pada awal pemanggilannya," cetus Doli.

Beberapa hari terakhir, lanjutnya, giliran Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang diutak-atik. Soal kekayaan Sandi dan "kasus dadakan" Anies tiba-tiba ada yang melapor ke KPK. Pada dimensi politik makro, rezim ini pun mengambil langkah politik berlebihan. Dengan teori "musuh lawan adalah teman kita", maka Antasari pun diberi Grasi dan dijadikan "kuda catur" yang siap memakan lawan politik, terutama kelompok Cikeas, yang dalam jangka pendek juga berguna melemahkan Agus Harimurti di pilkada DKI.

"Jokowi sedang melanggengkan kebiasaan "dendam antar rezim" yang mengaburkan makna rekonsiliasi antar elite yang sejak beberapa tahun lalu dicanangkan. Dan itu sangatlah buruk bagi tatanan politik dan demokrasi ke depan," kritik Doli.

Doli menilai, Alih-alih tidak mengulangi sikap "tidak bersahabat"nya Presiden Megawati terhadap Presiden SBY, malah Jokowi mengemukakan sikap "menyerang" terhadap rezim sebelumnya. Itu semua dilakukan demi seorang Ahok. Dalam dimensi sosial, rezim ini sudah menjurus pada pembiasaan terjadinya pemecah belahan antar anggota masyarakat. Dukungan Polri terhadap gerakan GMBI, dibiarkannya orang-orang yang muncul memfitnah, menghujat, dan memaki keyakinan, panutan, dan pemuka agama, semakin meyakinkan bahwa negara seperti tidak ada di tengah masyarakat.

"Kohesivitas sesama anak bangsa yang melemah pasca reformasi, bukannya berusaha dikuatkan kembali, malah ditegaskan dengan mengkotak-kotakkan satu kelompok dengan kelompok lain. Mungkin karena terlalu suka sekali dengan baju kotak-kotak," katanya.

Doli melanjutkan bahwa kriminalisasi ulama dan tokoh agamapun dilakukan dengan tiada keraguan dan seperti tanpa beban. Habib Rizieq, Ustadz Bachtiar Nasir, Munarman, dan entah siapa lagi berikutnya, semua dicari-cari dan dibuat-buat kelemahan dan kesalahannya.

"Sementara, si penista agama Islam dibela, dikawal ketat, dan diberikan kesempatan terus untuk terus menyakiti ummat Islam dengan ocehannya. Ibarat perang, penguasa saat ini sudah hampir mengeluarkan semua amunisinya, pistol, bayonet, senapan, granat, dan peluru kendali," tegasnya.

Bahkan, sambung Doli, berbagai pasukanpun sudah diterjunkan, mulai relawan, gerilyawan, para militer, pasukan bersenjatapun sudah dihadapkan dan mulai melukai masyarakat sipil serta menghancurkan bangunan-bangunan prestasi, sejarah, dan peradaban yang sudah ada.

"Tinggal bom atom saja yang belum dikeluarkan, yang bisa meluluh lantakkan seluruh negeri termasuk dirinya sendiri. Dan itu semua hanya karena Ahok, yang entah apa prestasinya selain pembohong, tukang maki, penista agama, tukang gusur rakyat, dan tak bersih juga dr indikasi KKN," lontarnya.

Pertanyaannya, ungkap Doli, apakah negara sebesar Indonesia ini harus dikorbankan hanya untuk seorang Ahok.

"Tentu bagi yang berfikir waras, tidak bisa menghindari jawaban kesimpulan bahwa ada kekuatan besar dan berbagai kekuatan lain di belakang Ahok dan rezim ini yang sedang ingin menguasai Indonesia demi kepentingan ekonomi, politik, dan ideologi mereka semata,"pungkasnya. (vi/headlineislam.com)

KHILAFAH; Alat Pemersatu Umat


Headlineislam.com - Sebatang lidi tidak akan ada artinya bagi tumpukan sampah yang menggunung. Sebatang lidi juga tidak akan sanggup membersihkan sampah di sekeliling kita ketika sendirian. Bahkan bukan tidak mungkin sebatang lidi akan patah bila dipaksa menjadi alat pembersih. Namun cerita akan jauh berbeda ketika batangan-batangan lidi itu dikumpulkan menjadi satu, lalu diikat di pangkalnya. Tenaga yang kecil dari sebatang lidi akan menjadi kekuatan yang besar bila menyatu dalam satu kesatuan yang terikat kokoh dengan kebersamaan. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, itulah filosofinya.

Kehidupan manusia dapat berjalan baik, sebagaimana sebuah sapu lidi, jika manusia mempererat ikatannya. Berlaku pula sebaliknya, ketika ikatan kendor maka musibah besar akan datang menimpa. Efek perpecahan kian terasa hari ini, yang paling nampak adalah umat terus-terusan menjadi ‘sasaran tinju’ lawan. Sebagian kalangan memandang fenomena ini sebagai sunatullah. Namun bukan berarti kita hanya bersila kaki menunggu keajaiban datang. Kita tetap tertuntut untuk mengupayakan persatuan.

Grand Desain Musuh Islam

Kondisi parah tersebut tidak lepas dari adanya konspirasi di tengah-tengah kaum muslimin. Musuh-musuh Islam sangat menyadari potensi perbedaan-perbedaan di tubuh umat ini, meskipun kebanyakan adalah perbedaan dalam masalah ijtihadiyah yang memang dibolehkan adanya silang pendapat di dalamnya.

Mereka memanfaatkan celah ini agar umat Islam tidak pernah dapat bersatu. Mereka menyadari dengan penuh kesadaran bahwa kaum muslimin tidak boleh dibangunkan dari tidur panjangnya, sehingga mereka terus berupaya membuat kaum muslimin sibuk bertengkar di kandang sendiri. Musuh-musuh Islam selalu memanfaatkan senjata pamungkas ini disetiap makan (tempat) dan zaman. Allah Ta’ala berfirman,

إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 120).

Imam Qatadah ketika menafsirkan ayat tersebut berkata, “Apabila mereka melihat para pemeluk Islam bersatu, berjama’ah dan menang atas musuhnya, itu menjadikan mereka marah dan tersakiti. Namun apabila mereka melihat para pemeluk Islam berpecah belah dan berselisih, atau ada diantara pemeluknya yang tertimpa musibah, mereka sengan, bangga, dan gembira.” (Tafsir ath-Thabari, 7/155-156).

Senjata Utama Setan

Bukan hanya musuh dari kalangan manusia saja yang bekerja keras menjauhkan umat dari persatuan, setan pun setali tiga uang, ia membantu orang-orang kafir serta munafik dalam permainan cantik mereka memecah belah umat. Terkadang mereka yang terlalu fanatik dengan wadah tempat mereka berkumpul lupa akan tipu daya syaitan ini, kalaupun ada yang mengingatkan langsung dihujani pandangan tajam plus sinis.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَئِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّوْنَ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيْشِ بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya setan sudah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat (kaum muslimin). Namun ia tidak putus asa untuk mengadu domba mereka.” (HR. At-Tirmidzi no. 1937).

Imam An-Nawawi berkata, “Syaitan berusaha mengadu domba di antara orang-orang yang beriman dengan permusuhan, kebencian, peperangan, fitnah, dan yang semisalnya.” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim, 17/156).

Kenyataan Pahit dan Menyedihkan

Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad berkata, “Termasuk perkara yang sangat disayangkan terjadi di zaman ini adalah apa-apa yang terjadi di kalangan Ahlus Sunnah, berupa ketidakcocokan dan perpecahan, yang mengakibatkan mereka sibuk saling memelukai, men-tahdzir, dan meng-hajr. Yang wajib mereka lakukan adalah usaha mereka diarahkan kepada selain mereka, dari kalangan orang-orang kafir dan ahli bid’ah yang memusuhi Ahlus Sunnah. Hendaknya Ahlus Sunnah bersatu, saling menyayangi, dan saling mengingatkan di antara mereka secara halus dan lembut.” (Rifqan Ahlu as-Sunnah bi Ahli as-Sunnah, hlm. 19).

Sibuknya umat pada persoalan-persoalan khilafiyah terus mendapat tambahan bumbu dari dapur orang kafir. Padahal kalau berfikir jernih tanpa perlu berletih, yang namanya perbedaan pendapat dalam urusan agama sudah ada sejak generasi terbaik umat ini; para sahabat. Qunut tidak qunut, keras atau pelan dalam basmalah, goyang atau diamnya telunjuk dalam tasyahud, semuanya sesuatu yang lumrah ada silang pendapat, karena dari para guru kita sampai ke generasi salaf pun demikian adanya.

Letak celanya bukan pada perbedaan di atas, namun sikap kepada pengambil pendapat lain lah yang tak santun dan belum terkontrol. Akan lebih enak dipandang ketika kita menelanjangi ideologi musuh, daripada terus membully kawan seiman.

Kita hidup pasti tetap punya belang yang mungkin hanya bisa tertambal oleh kawan kita. Sang teman juga tentu tak lepas dari noda, mungkin kita lah yang bisa membantu membersihkannya. Begitupula dalam bermasyarakat, berorganisasi atau berlembaga, kita tak bisa hidup sendiri sehebat apapun kemampuan yang dimiliki, tetapi kita membutuhkan satu sama lain.

Hilangnya Sang Nahkoda

Terjadinya perpecahan akibat perbedaan pandangan di tengah-tengah kaum muslimin bukan hal baru. Sehingga para penguasa republik ini pun sudah pasti tahu, hanya saja sebagaimana negara-negara sekuler, dimana negara dan agama adalah hal yang terpisah dan tidak boleh disatukan, maka ketidakpedulian penguasa wajar adanya. Akibatnya, kaum muslimin diminta untuk menyelesaikan persoalannya sendiri, tanpa kehadiran penguasa di dalamnya, aneh memang, jika demikian prinsipnya, lalu apa gunanya penguasa?

Kesendirian umat dalam menghadapi bejibun persoalan akhir-akhir ini semakin terpupuk oleh semangat Bela Qur’an. Namun harus kita sadari bahwa kepedulian yang hanya bersifat individu, atau kelompok tidak akan menyelesaikan masalah. Ibarat sebuah kapal yang berlubang, maka air masuk dan kita berusaha mengeluarkannya dengan kemampuan masing-masing. Yang punya ember, bantuannya lebih besar, yang punya gayung dengan gayung yang ada, yang tidak punya apa-apa maka hanya dengan cidukan kecil tangannya.

Semua itu hanya untuk bertahan agar kapal tidak tenggelam. Sementara musuh-musuh Islam terus berusaha melubangi kapal. Yang seharusnya kita lakukan adalah memperbaiki kapal, menambal lubang dan menguatkannya, sehingga kapal beserta seluruh penumpangnya bisa berlayar meninggalkan musuh di belakang atau bahkan menghabisinya.

Umat Butuh Penuntun dan Pelindung

Saat ini, kaum muslimin tidak punya sebuah kapal yang kuat. Kita terombang-ambing di dalam sampan-sampan kecil yang minim kekuatan. Kebanyakan sampan pun masih berlubang. Kaum muslimin memerlukan satu bahtera untuk berlayar bersama di bawah satu nakhoda. Kita memerlukan kekhilafahan, yang mampu mengayomi muslim sedunia.

Rasulullah bersabda,

الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

“Seorang imam (khalifah) adalah tameng atau perisai, dimana di belakangnya umat berperang, dan kepadanya umat berlindung.” (HR. Bukhari no. 2957).

Ketika ada satu wilayah Islam yang diserang oleh kaum Kafir, maka ibarat tubuh, wilayah yang lain pun dengan cepat membantunya. Saat Perang Salib di Palestina, Shalahuddin al-Ayyubi datang dari Mesir untuk membebaskan wilayah tersebut (1187 M). Yusuf bin Tasifin juga melakukan hal yang sama, ketika kaum Salibis menduduki Andalusia, Spanyol (1109 M). Bahkan Khilafah juga melindungi pemeluk agama lain. Ketika orang-orang Yahudi terpaksa mengungsi akibat praktek inkuisisi yang dilakukan oleh orang-orang Kristen di Spanyol pada abad ke-15, mereka mendapat perlindungan dari Khalifah Bayazid II.

Selain sebagai pengayom dan pelindung rakyat, Khalifah juga sebagai pemersatu ketika ada perbedaan pendapat yang bisa menjurus kepada pertikaian. Dalam sebuah kaidah disebutkan,

أَمْر الإِماَمِ يَرْفَعُ الخِلاَفَ

“Pendapat imam menjadi juru putus ketika terjadi perselisihan.”

Dukungan Umat Untuk Mewujudkannya

Keberadaan Khilafah Islamiyah bagaikan payung yang melindungi dari sengat matahari dan derasnya air hujan. Jika Khilafah Islam tegak maka ia berpotensi menyatukan 1,4 miliar umat Islam di seluruh dunia; menghimpun sebagian besar kekayaan sumber daya alam yang umumnya dimiliki negeri-negeri Islam; bahkan menggalang kekuatan militer dalam jumlah amat besar.

Potret masa depan umat Islam inilah yang tidak dikehendaki oleh Barat. Sebab, mereka sadar, jika Khilafah tegak dan mempersatukan umat Islam sedunia, dominasi dan penjajahan mereka akan segera berakhir. Tersebab itu, umat Islam harus sadar bahwa perpecahan sejak awal memang menjadi cita-cita kaum penjajah Barat dan mereka akan terus membuat skenario untuk memeliharanya. Salah satunya adalah dengan terus-menerus memojokkan ide Khilafah sekaligus memerangi kaum Muslimin yang berjuang untuk menegakkan cita-cita tersebut.

Oleh karena itu, umat harus sadar, Khilafah adalah kunci persatuan umat Islam sedunia. Khilafah pula yang bakal menegakkan agama Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan, yang tentu bakal menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia. Walhasil, penting bagi setiap muslim untuk terus menyuarakan persatuan umat Islam. Namun, lebih penting lagi umat ini untuk terus menyuarakan, bahwa persatuan umat Islam sedunia tak akan pernah benar-benar bisa terwujud, kecuali dalam satu kepemimpinan Khilafah Islamiyah. Wallahu a’lam.

Penulis: Abu Absi / Yanisari Teams

(kt/headlineislam.com)

Banyak Masalah di Masyarakat, Polri: Sebaiknya Diselesaikan dengan Musyawarah Sehingga Menghemat Anggaran


Headlineislam.com - Markas Besar Kepolisian menggelar silaturahmi dengan sejumlah Ormas Islam di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta Selatan, Selasa (31/1).

Dalam sambutannya, Kepala Badan Pemeliharaan dan Keamanan (Baharkam) Polri, Komjen Putut Eko Bayu Seno, mewakili Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), mengatakan bahwa ia tak memungkiri banyaknya masalah ketertiban dan keamanan yang tengah terjadi di masyarakat saat ini.

Ia mengaku, berdasarkan data yang dikumpulkan Polri sepanjang 2016, terdapat 100 ribu masalah yang timbul di masyarakat.

“Para anggota kami di desa dan kelurahan itu dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terkait dengan masalah kecil, kurang lebih 100 ribu masalah,” ujar Putut.

Ia melanjutkan, selama ini masyarakat kerap membuat laporan ke Polisi guna menyelesaikan masalah. Padahal, kata dia, sejumlah masalah sebenarnya bisa diselesaikan secara musyawarah tanpa melapor ke polisi.

“Tidak semua harus dilaporkan ke Kepolisian, nanti Polisi tugasnya semakin berat. Kalau bisa diselesaikan di tingkat bawah dilaksanakan secara bersama, cari win-win solution-nya,” ucap Putut.

Mantan Kapolda Metro Jaya ini mengungkapkan, perlu biaya yang tidak sedikit bagi Polisi guna memproses laporan masyarakat. Satu perkara, akunya, minimal memakan biaya Rp 7,6 juta untuk sampai ke tingkat pengadilan.

Untuk itu, ucap Putut, alangkah baiknya bila masalah yang terjadi di tengah masyarakat diselesaikan secara musyawarah sehingga menghemat anggaran.

“Kalau diindekskan, satu masalah kecil itu diproses sampai ke pengadilan, anggaran terkecil Rp 7,6 juta. Dikali saja 100 ribu masalah, sudah berapa? Kalau bisa diselesaikan di tingkat bawah, sudah ada Rp 500 miliar lebih menghemat anggaran untuk itu,” tandas Putut.

Pantauan Kiblat.net, nampak hadir perwakilan dari Ormas Islam Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK), Fatayat NU, BPI, Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Hidayatullah, Himpinan Pemuda Islam, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dan MUI Pusat. (kt/headlineislam.com)