MENIMBANG CATATAN USTADZ ‘SALAFI’ TERHADAP BUKU KARYA USTADZ ABDUL SHOMAD, LC. MA.


(Telaah Kritis Atas Penipuan ‘Ilmiah’ Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi Terhadap Konsep Tauhid, Tafwidh & Ta’wil)

Penulis: Ustad Abu Suheil Abdurrahaman
Editor: Ustad Maaher At-Thuwailibi

Headlineislam.com - Dunia medsos diramaikan oleh kritikan/catatan dalam bentuk buku/PDF seorang Ustad “Salafi” bernama Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi terhadap buku Ustadz Abdus Shomad  Hafizhahullah yang berjudul  “37 Masalah Populer”. Saya baca sambil senyam-senyum, seolah Abu Ubaidah As-Sidawi sedang memposisikan buku Ustad Abdus Shomad sebagai Ahlul Bathil.

Seolah Ustadz Abdus Shamad dengan bukunya itu adalah musuh agama Allah yang harus diperangi. Abu Ubaidah As-Sidawi sudah siap di komen negatif, tapi ajaibnya, yang mendapatkan komen negatif di dunia medsos adalah justru Ustad Abdus Shamad, khususnya dari pendukung Abu Ubaidah As-Sidawi, seperti yang saya baca sendiri Ustad Abdus Shamad disebut pendusta, keledai, dsb.

Mari kita timbang kritikan/catatan Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi terhadap buku Ustad Abdus Shamad diatas.

PERTAMA: MASALAH AQIDAH.

Kata Abu Ubaidah As-Sidawi, Ustad Abdus Shamad mengikuti metode tafwidh dan ta’wil dalam menyikapi tauhid asma’ wa sifat. Lalu kata Abu Ubaidah As-Sidawi, dua metode ini diingkari para salafush shalih.

Salaf mana yang dimaksud Abu Ubaidah As-Sidawi? Sebab, istilah “Tauhid Asma wa Shifat” sebagai sebuah nomenklatur pun  belum di kenal pada masa Salaf (terdahulu) alias MUHDATS. Istilah “Tauhid Rububiyah”, “Uluhiyah”, dan “Asma wa Sifat” baru ada di masa khalaf (terkemudian). Jika ada yang mengatakan pembagian tauhid itu sudah ada di masa salaf, bisa dipastikan dia dusta, atau ngigau.!  Lalu siapa yang pertama kali membagi seperti itu? toh Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah pun hanya membagi tauhid menjadi dua. Dalam majalah Nurul Islam, yang diterbitkan para masyayikh Al-Azhar Asy-Syarif (Rabi’u Tsani tahun 1352 H), terdapat kritikan terhadap pembagian Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ Wa Shifat itu.

Al-‘Allamah Yusuf Ad-Dajwiy Al-Azhariy berkata:

قولهم: (ان التوحيد ينقسم الى توحيد الربوبية و توحيد الالوهية) تقسيم غير معروف لاحد فبل ابن تيمية و غير معقول ايضا كما ستعرفه ...

[Perkataan mereka bahwa sesungguhnya tauhid itu terbagi atas tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah, ini adalah pembagian yang tidak dikenal oleh seorang pun sebelum Ibnu Taimiyah dan juga tidak masuk akal sebagaimana yang akan anda ketahui..., dst.]

Anggaplah masalah ini bukan fokus kita. toh dari sini juga sudah jelas, mungkin maksud Abu Ubaidah As-Sidawi salaf yang lain kali, tapi kalau Salafnya adalah Rasulullah ﷺ, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, imam empat madzhab, ya tidak ada yang mengenal istilah “Tauhid Asma wa Sifat” di masa itu. 😊

KEDUA: BENARKAH ULAMA SALAF MENOLAK TAFWIDH?

Tafwidh itu, makna sederhananya ialah => mengembalikan makna sifat Allah ﷻ kepada Allah  ﷻ, Dialah yang tahu ilmu dan maknanya. Nah, apa yang dikatakan Ustad Abdus Shamad tidaklah salah, sebab Imam Al-Alusi  mengomentari surat Al-A’raf ayat 54:

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Kemudian Allah bersemayam di atas ‘Arsy”

Beliau (Imam Al-Alusi) berkata:

وأنت تعلم أن المشهور من مذهب السلف في مثل ذلك تفويض المراد منه إلى الله تعالى

“Engkau telah mengetahui, bahwa yang masyhur dari madzhab SALAF dalam hal seperti ini adalah tafwidh (menyerahkan) maksudnya kepada Allah Ta’ala.”

(Kitab Ruhul Ma’aniy, 8/136)

Dalam Ruhul Ma’ani  juga disebutkan:

قال اللقاني : أجمع الخلف ويعبر عنهم بالمؤولة والسلف ويعبر عنهم بالمفوضة على تنزيهه تعالى عن المعنى المحال الذي دل عليه الظاهر وعلى تأويله وإخراجه عن ظاهره المحال وعلى الإيمان به بأنه من عند الله تعالى جاء به رسول الله صلى الله عليه وسلم  ...

[ Al-Laqqani berkata, “Kaum khalaf -sering disebut orang-orang yang melakukan takwil- dan kaum salaf -sering disebut sebagai orang yang melakukan tafwidh- telah sepakat untuk mensucikan  Allah dari lafaz zhahir yang mustahil bagi Allah, menakwil dan mengeluarkan dari lafaz zhahir yang mustahil, serta mengimani bahwa hal itu adalah dari Allah yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ.

(Ruhul Ma’ani, 16/160)

Apa yang dikatakan Ustad Abdus Shomad TIDAK SALAH, sebab Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:

" الْإِيمَانُ بِصِفَاتِ اللَّهِ تَعَالَى وَأَسْمَائِهِ " الَّتِي وَصَفَ بِهَا نَفْسَهُ وَسَمَّى بِهَا نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ وَتَنْزِيلِهِ أَوْ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَيْهَا وَلَا نَقْصٍ مِنْهَا وَلَا تَجَاوُزٍ لَهَا وَلَا تَفْسِيرٍ لَهَا وَلَا تَأْوِيلٍ لَهَا بِمَا يُخَالِفُ ظَاهِرَهَا وَلَا تَشْبِيهٍ لَهَا بِصِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ ؛ وَلَا سِمَاتِ المحدثين بَلْ أَمَرُوهَا كَمَا جَاءَتْ وَرَدُّوا عِلْمَهَا إلَى قَائِلِهَا ؛ وَمَعْنَاهَا إلَى الْمُتَكَلِّمِ بِهَا . وَقَالَ بَعْضُهُمْ - وَيُرْوَى عَنْ الشَّافِعِيِّ - : " آمَنْت بِمَا جَاءَ عَنْ اللَّهِ وَبِمَا جَاءَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مُرَادِ رَسُولِ اللَّهِ "

“Beriman kepada Sifat Allah Ta’ala dan Nama-Nya yang telah Dia sifatkan diri-Nya sendiri, dan Dia namakan diri-Nya sendiri, di dalam Kitab-Nya dan wahyu-Nya, atau atas lisan Rasul-Nya, dengan tanpa penambahan atau pengurangan atasnya, tidak melampauinya, tidak menafsirkannya dengan apa-apa yang menyelisihi zhahirnya, tidak menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk, dan apalagi dengan pembawa berita, TETAPI MEMBIARKAN SEBAGAIMANA DATANGNYA, DAN MENGEMBALIKAN ILMUNYA KEPADA YANG MENGUCAPKANNYA, dan mengembalikan maknanya kepada yang membicarakannya. Sebagian mereka berkata: -diriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i- : Aku beriman dengan apa-apa yan datang dari Allah, dan yang datang dari Rasulullah Shllalalhu 'Alaihi wa Sallam dengan maksud dari Rasulullah.”

(Majmu’ Fatawa, 4/2)

USTAD ABDUS SHOMAD TIDAK SALAH. sebab Al-Imam Ibnu Hajar mengutip ucapan Ibnul Munayyar sebagai berikut:


وَلِأَهْلِ الْكَلَام فِي هَذِهِ الصِّفَات كَالْعَيْنِ وَالْوَجْه وَالْيَد ثَلَاثَة أَقْوَال : أَحَدهَا أَنَّهَا صِفَات ذَات أَثْبَتَهَا السَّمْع وَلَا يَهْتَدِي إِلَيْهَا الْعَقْل ، وَالثَّانِي أَنَّ الْعَيْن كِنَايَة عَنْ صِفَة الْبَصَر ، وَالْيَد كِنَايَة عَنْ صِفَة الْقُدْرَة ، وَالْوَجْه كِنَايَة عَنْ صِفَة الْوُجُود ، وَالثَّالِث إِمْرَارهَا عَلَى مَا جَاءَتْ مُفَوَّضًا مَعْنَاهَا إِلَى اللَّه تَعَالَى

[ Bagi Ahli kalam, tentang sifat-sifat ini seperti ‘mata’, ‘wajah’, ‘tangan’, terdapat tiga pendapat:

Pertama, sifat-sifat Allah adalah dzat yang ditetapkan oleh pendengaran (wahyu) dan tidak mampu bagi akal untuk mengetahuinya.

Kedua, bahwa ‘mata’ adalah kinayah (kiasan) bagi penglihatan, ‘tangan’ adalah kinayah dari kekuatan, dan ‘wajah’ adalah kinayah dari sifat wujud. Ketiga, melewatinya sebagaimana datangnya, dan menyerahkan (mufawwadha) maknanya kepada Allah Ta’ala.

(Kitab Fathul Bari, 13/390)

Imam Ibnu Katsir berkata tentang  surat Al-A’raf ayat 54 yang berbunyi: “Tsummastawa ‘alal ‘arsy” (kemudian Allah beristawa’/bersemayam di atas Arsy).

Kata Imam Ibnu Katsir:

وإنما يُسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح: مالك، والأوزاعي، والثوري،والليث بن سعد، والشافعي، وأحمد بن حنبل، وإسحاق بن راهويه وغيرهم، من أئمة المسلمين قديما وحديثا، وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل

[ Sesungguhnya cara yang ditempuh oleh madzhab salafus shalih dalam hal ini, seperti Malik, Al-Auza’i, Ats-Tsauri, Al-Laits bin Sa’ad, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, dan lain-lain, dari kalangan Imam muslimin baik dahulu maupun sekarang. MEREKA MELEWATINYA (MEMBIARKAN) SEBAGAIMANA DATANGNYA dengan tanpa bertanya bagaimana, tanpa menyerupakan, dan tanpa mengingkari ]

(Tafsir Al-Quranil ‘Azhim/Tafsir Ibnu Katsir 3/ 427)

LAGI-LAGI USTAD ABDUS SHOMAD TIDAK SALAH. sebab Imam Malik Rahimahullah pernah ditanya tentang hadits-hadits sifat lalu dia menjawab:

أمرها كما جاءت، بلا تفسير

“Biarkan saja sebagaimana datangnya, jangan tafsirkan.”


(Imam Adz Dzahabi, Siyar A’lamin Nubala’ 8/105)

Nah ... Ustad Abdus Shamad tidak salah ketika mengatakan bahwa SALAF ITU TAFWIDH, yaitu Tafwidhul ma’na ilallah, mengembalikan maknanya kepada Allah ﷻ.

Ini juga pendapat Syaikh Hasan Al-Banna Rahimahullah dalam kitab Al-‘Aqaid-nya (seorang Syaikh yang sangat dibenci oleh Abu Ubaidah As-Sidawi dan komunitasnya).

Kata Imam Hasan Al-Banna Rahimahullah:

ونحن نعتقد أن رأي السلف من السكوت وتفويض علم هذه المعاني إلى الله تبارك وتعالى أسلم وأولى بالاتباع ، حسما لمادة التأويل والتعطيل ، فإن كنت ممن أسعده الله بطمأنينة الإيمان ، وأثلج صدره ببرد اليقين ، فلا تعدل به بديلا 

“Kami meyakini bahwa pendapat salaf yakni diam dan menyerahkan ilmu makna-makna ini kepada Allah Ta’ala adalah lebih selamat dan lebih utama untuk diikuti, dengan memangkas habis takwil dan ta’thil (pengingkaran), maka jika Anda adalah termasuk orang yang telah Allah bahagiakan dengan ketenangan iman, dan disejukkan dadanya dengan salju embun keyakinan, maka janganlah mencari gantinya (salaf).”

(Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna, Majmu’ Ar Rasail, Hal. 368. Al-Maktabah At-Taufiqiyah)

Ini juga dikatakan Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki, yang berkata:

فإِنَّ أحدًا لا يعرفُ كيفيةَ ما أخبر الله به عن نفسه ، ولا يقف على كنه ذاته وصفاته غيره ، وهذا هو الذي يجبُ تفويضُ العلم فيه إِلى الله عزَّ وجلَ

[ Maka, sesungguhnya tak ada satu pun manusia yang mengetahui bagaimana caranya, tentang apa-apa yang Allah kabarkan tentang diri-Nya, dan tidak ada yang mengerti asal-Nya, Dzat-Nya, Sifat-Nya, selain diri-Nya; dan yang demikian itulah yang diwajibkan untuk menyerahkan (TAFWIDH) ilmu tentang hal itu kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

(Mujmal I’tiqad A’immah As-Salaf Hal. 141)

KETIGA: MASALAH TA’WIL.

Benarkah Ta’wil Itu Bukan Perilaku Salaf sebagaimana klaim Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi?

Anggapan Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi bahwa Tafwidh adalah metode yang diingkari salaf, merupakan anggapan yang ngelindur, ngigau, dan ngawur. Nah,  menurut Abu Ubaidah, ta’wil juga metode yang diingkari salaf .. benarkah? Ataukah dia lagi-lagi sedang mengigau?

Kita akan dapati  bahwa sebagian salaf, mulai dari sahabat dan tabi’in juga ada yang melakukan ta’wil terhadap sifat-sifat yang disandarkan kepada Allah Ta’ala. Namun, pada generasi selanjutnya, metode ta’wil inilah yang lebih sering ditempuh oleh para ulama. Maka boleh kita katakan, ta’wil merupakan madzhab jumhur setelah masa-masa abad-abad pertama Islam. Ta’wil yang kita bahas di sini, bukanlah ta’wil kaum zindiq yang memang telah melakukan penyimpangan terhadap makna-makna sifat Allah Ta’ala.

Sebelum kami paparkan tentang contoh ta’wil para Imam Ahlus Sunnah, kami akan berikan rambu-rambu ta’wil, dari Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah.

Syaikhuna Muhammad Bin Shalih Al-‘Utsaimin membagi ta’wil menjadi tiga dalam kitab Lum’atul I’tiqad Hal 19 (kami ringkas saja):

1. Dilakukan melalui ijtihad dan niat yang baik. Maka ini dimaafkan.

2. Dilakukan karena hawa nafsu dan fanatisme, dan memiliki argumentasi bahasa Arab, maka pelakunya fasiq, kecuali jika pendapatnya itu terdapat penguarangan atau aib terhadap Allah maka itu bias kufur.

3. Dilakukan karena hawa nafsu dan fanatisme, dan tanpa memiliki argumentasi bahasa Arab. Keloimpok ini kufur, kaena pada hakikatnya kedustaan yang tidak berdasar.

Jadi, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin saja masih bisa menerima ta’wil walau bersyarat.

Berikut ini beberapa contoh ta’wil yang dilakukan oleh sahabat Nabi dan Tabi’in ridhwanullah ‘alaihim jami’an, terhadap ayat-ayat sifat.

Firman Allah Ta’ala tentang ‘tangan’:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ

“Dan orang Yahudi berkata: tangan Allah terbelenggu ..”

Ayat ini tidak mungkin dipahami sesuai teksnya, sebab membawa makna Allah Ta’ala serupa dengan makhluk-Nya sendiri yang tangannya terbelenggu. Oleh karena itu, Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan:

ليس يعنون بذلك أن يد الله موثقةٌ، ولكنهم يقولون: إنه بخيل أمسك ما عنده، تعالى الله عما يقولون علوًّا كبيًرا.

“Maknanya bukanlah tangan Allah terikat, tetapi mereka mengatakan: Sesungguhnya Allah Ta’ala bakhil, lantaran telah menahan apa-apa yang ada pada-Nya, Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang besar.”

Sementara Qatadah Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:

أما قوله:"يد الله مغلولة"، قالوا: الله بخيل غير جواد!

“Ada pun tentang firman-Nya, “Tangan Allah Terbelenggu”, mereka mengatakan: “Allah itu bakhil tidak dermawan.”

(Imam Abu Ja’afar bin Jarir Ath Thabari, Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran, 10/452-453)

 Imam Ibnu Katsir telah menyebutkan, dari Ibnu Abbas tentang makna ‘terbelenggu’: yakni bakhil. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 3/146)

Imam Al-Baghawi Rahimahullah berkomentar tentang ayat tersebut:

قال ابن عباس وعكرمة والضحاك وقتادة: إن الله تعالى كان قد بسط على اليهود حتى كانوا من أكثر الناس مالا وأخصبهم ناحية فلما عصوا الله في أمر محمد صلى الله عليه وسلم وكذبوا به كف الله عنهم ما بسط عليهم من السعة، فعند ذلك قال فنحاص بن عازوراء: يد الله مغلولة، أي: محبوسة مقبوضة عن الرزق نسبوه إلى البخل، تعالى الله عن ذلك.

“Berkata Ibnu Abbas, Ikrimah, Adh Dhahak, dan Qatadah: “Sesungguhnya Allah Ta’ala begitu lapang terhadap Yahudi sampai-sampai mereka menjadi manusia yang paling banyak hartanya dan kelompok paling makmur di antara mereka. Lalu, ketika mereka mengingkari Allah dalam urusan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mendustakannya, maka Allah Ta’ala menahan buat mereka apa-apa yang dahulu Dia lapangkan, maka saat itulah Finhash bin ‘Azura berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, yaitu dikekang dan dicabut dari rezeki, mereka menyandarkan-Nya dengan kebakhilan. Maha Tinggi Allah dari hal itu.”

(Imam Al Baghawi, Ma’alim At Tanzil, 3/76)

Ayat lainnya:

قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ

“Katakanlah: "Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah..” (QS. Ali Imran (3): 73)

Imam Ibnu Katsir menta’wil ayat ini, katanya:

أي: الأمورُ كلها تحت تصريفه، وهو المعطي المانع، يَمُنّ على من يشاء بالإيمان والعلم والتصور التام، ويضل من يشاء ويُعمي بصره وبصيرته، ويختم على سمعه وقلبه، ويجعل على بصره غشاوة، وله الحجة والحكمة

“Yaitu semua urusan di bawah pengaturan-Nya. Dialah yang memberi dan menolak. Dia memberikan karunia berupa ilmu, iman, dan seluruh tindakan kepada siapa saja secara sempurna. Serta menyesatkan, membutakan penglihatannya dan mata hatinya, menutup pendengarannya dan hatinya, dan menjadikan pada pandangannya halangan, dan Dia-lah yang memiliki hujjah dan hikmah.”

(Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim, 2/60)

Dalam ayat lain, yang menyebutkan sifat Wajhullah (Wajah Allah), para Imam Ahlus Sunnah pun melakukan ta’wil:

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

وهكذا قوله ها هنا: { كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ } أي: إلا إياه.

“Demikian juga, firman-Nya di sini: “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajahNya”, yaitu kecuali Diri-Nya”

(Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 6/261)

Begitu pula Imam Al-Qurthubi Rahimahullah mengatakan tentang makna ‘Wajah Allah’:

قال: " إنما نطعمكم لوجه الله " أي لرضائه وطلب ثوابه، ومنه قوله صلى الله عليه وسلم: من بنى مسجدا يبتغي به وجه لله بنى الله له مثله في الجنة

“Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya kami memberikan makanan kepada kalian, hanyalah demi wajah Allah.’ Yaitu demi ridha-Nya, dan mencari pahala-Nya, dari itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Barangsiapa membangun masjid dengan mengharap wajah Allah, maka akan Allah bangunkan baginya yang seumpama itu di surga.” (Al-Jami’ Li Ahkamil Quran, 2/84)

Belau juga mengatakan:

 (ويبقى وجه ربك) أي ويبقى الله، فالوجه عبارة عن وجوده وذاته سبحانه، قال الشاعر: قضى على خلقه المنايا * فكل شئ سواه فاني

وهذا الذي ارتضاه المحققون من علمائنا: ابن فورك وأبو المعالي وغيرهم

وقال ابن عباس: الوجه عبارة عنه كما قال: (ويبقى وجه ربك ذو الجلال والاكرام) وقال أبو المعالي: وأما الوجه فالمراد به عند معظم أئمتنا وجود الباري تعالى، وهو الذي ارتضاه شيخنا

( Dan yang tersisa hanyalah wajah Rabb-mu, yaitu yang tersisa hanyalah Allah, wajah merupakan ibarat (perumpamaan) dari wujud-Nya dan Zat-Nya yang Maha Suci. Berkata seorang penyair: “Telah ditetapkan atas hamba-Nya kematian, Segala sesuatu selain-Nya adalah binasa (fana).” inilah yang disetujui para muhaqqiq (peneliti) dari ulama kami, seperti: Ibnu Furak, Abu Al Ma’ali, dan lainnya. )

Ibnu Abbas mengatakan: Wajah merupakan ibarat dari-Nya, sebagaimana frman-Nya: “Dan yang tersisa hanyalah wajah Rabbmu yang memiliki keagungan dan kemuliann.” Abul Ma’ali mengatakan: “Ada pun wajah maksudnya adalah menurut imam-imam besar kami adalah wujud Allah Ta’ala, dan itulah yang disetujui oleh guru kami.” (Ibid, 17/165)

Ayat lainnya:

سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَا الثَّقَلانِ

“Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu Hai manusia dan jin.” (QS. Ar Rahman ayat 31)

 Para ulama salaf pun melakukan ta’wil  atas ayat “kami akan memperhatikan”, sebab jika dipahami secara zhahir makna ‘memperhatikan’ membutuhkan alat penginderaan, dan itu mustahil bagi Allah Ta’ala. Oleh karena itu Imam Ibnu Jarir berkata tentang ayat tersebut:

وأما تأويله : فإنه وعيد من الله لعباده وتهدد

“Ada pun ta’wilnya adalah ancaman dari Allah dan menakut-nakuti.” Begitu pula yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Adh Dhahak. (Jami’ul Bayan, 23/41-42)

Ayat lain:

 وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

“ ..dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. Al-Hadid ayat 4)

Ayat ini mesti dita’wil, sebab jika tidak, akan bertentangan dengan kalimat yang ada pada ayat itu sendiri bahwa Allah bersemayam di ‘Arsy-Nya. Oleh karena itu Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah dan para pengikutnya pun yang sangat anti ta’wil, juga menakwil ayat ini.

Ayat ini tidak berarti Allah Ta’ala secara zat ada di setiap tempat kita berada, dan tidak boleh mengartikan demikian.

Kata Imam Ibnu Jarir, ta’wilnya adalah:

وهو شاهد لكم أيها الناس أينما كنتم يعلمكم، ويعلم أعمالكم، ومتقلبكم ومثواكم، وهو على عرشه فوق سمواته السبع

“Dia menyaksikan kalian, wahai Manusia, dimana saja kalian berada Dia mengetahui kalian, mengetahui perbuatan kalian, lalu lalang kalian, dan di tempat tinggal kalian,dan Dia di atas ‘ArsyNya, di langit yang tujuh.” (Ibid, 23/196)

Demikianlah. Sebenarnya masih sangat banyak ta’wil yang dilakukan para ulama terhadap ayat-ayat sifat, dalam rangka menjaga kesucian sifat-sifat-Nya dari penakwilan menyimpang manusia. Sikap ta’wil ini di dukung deretan para Imam kaum muslimin, seperti Imam Al-Ghazali, Imam An-Nawawi, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam Al-Khathabi, Imam Fakruddin Ar-Razi, Imam Al-Jashash, Imam As-Suyuthi, Imam Al-Baqillani, Imam Ibnu Daqiq Al ‘Ied, Imam Izzuddin bin Abdusalam, Imam Abul Faraj bin Al Jauzi, Imam An-Nasafi, Imam Al-Bulqini, Imam Ar-Rafi’i, Imam Al-Baidhawi, Imam Al-Amidi, Imam Al-‘Iraqi, Imam Ibnu Al ‘Arabi, Imam Al-Qurthubi, Imam Al-Qadhi ‘Iyadh, Imam Al-Qarrafi, Imam Asy Syathibi, Imam Abu Bakar Ath-Thurthusi, Imam Syahrustani, Imam Al-Maziri, Imam Isfirayini, Imam Dabusi, Imam As Sarakhsi, Imam At-Taftazani, Imam Al Bazdawi, Imam Ibnul Hummam, Imam Ibnu Nujaim, Imam Al-Karkhi, Imam Al Kasani, Imam As-Samarqandi, dan lain-lain. Mereka inilah yang biasa disebut kaum Asy ‘ariyah. (sebenarnya kami ingin menguraikan satu-persatu bukti sikap mereka, namun ini sudah cukup mewakili)

 Jika kita perhatikan, maka jumhur ulama adalah melakukan ta’wil. Namun, para ulama salaf (terdahulu), lebih sedikit melakukan ta’wil. Ada apa dibalik ini? Ini bisa terjadi, lantaran Islam dan Al-Quran telah menyebar ke seluruh penjuru dunia yang penduduknya bukan berbahasa Arab. Sehingga, jika ayat-ayat dan hadits-hadits sifat ini dibaca dan difahami secara literal (zhahiriyah), maka bisa menggelincirkan pemahaman orang awam yang tidak bercita rasa bahasa Arab. Oleh karena itu, bangkitlah para ulama untuk melindungi nash-nash tersebut, dari kemungkinan tafsiran berbahaya orang-orang ‘Ajam (non Arab).

Dari sisi ini, maka sebenarnya antara salaf dan khalaf, memiliki tujuan yang sama dengan sikap mereka itu, AT-TANZIHUL WAHY (yakni menjaga kesucian Al-Quran). Oleh karena itu, walau kami lebih condong kepada pemahaman SALAF (yaitu menetapkan metode Itsbat), tidak selayaknya menjadikan polemik ini sebagai ajang saling pengkafiran sesama umat Islam. sebab, para ulama yang berselisih pun tidak sampai tingkat seperti itu.  Sebab memojokkan kaum Asy’ariyah (para penakwil) dan menuduhnya keluar dari Ahlus Sunnah, sama juga memojokkan nama-nama para Imam kaum muslimin yang telah mendapat posisi penting di hati umumnya kaum muslimin. Maka, renungkanlah!

Kesimpulan kami, Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi ini mesti banyak buka kitab lagi. Nantikan tulisan kami selanjutnya “Siapa bilang Aqidah Asy’ariyyah itu sesat?”

Allahu A’lam.

CATATAN TERHADAP BUKU “37 MASALAH POPULER” KARYA USTADZ ABDUS SHOMAD, LC.MA.


Headlineislam.com - Buku ini sangat argumentatif dan cukup menarik. walau bayak penipuan ‘ilmiah’ didalamnya. ditulis oleh Ustad muda “Salafi” dari jawa timur bernama Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi. isinya sarat data dan cukup argumentatif dalam mengkritisi buku karya Ustad Abdus Shomad,Lc.MA berjudul “37 Masalah Populer”. walaupun data-data yang dimuatnya dalam buku ini juga mengandung pengkaburan yang begitu tendensius. Dalam dunia ilmiah yang menjadi budaya para Ulama, saling bantah-membantah dan kritik meng-kritik itu merupakan hal biasa. selama dilakukan secara ilmiah, beretika, sarat ilmu dan data, tidak menyerang pribadi atau personal, serta di niatkan ikhlas karena Allah; maka itu merupakan hal biasa ditemukan dalam kitab-kitab mu’tabar. apalagi jika kita belajar Ilmu Jarh Wa Ta’dil. Hanya saja, para Ulama terdahulu mengkritik ulama lain dengan penuh cinta dan kasih sayang. adapun buku Ustad Abu Ubaidah As-Sidawi ini ia memposisikan Ustad Abdus Shomad itu seolah-olah AHLUL BID’AH & AHLUL BATHIL sebagaimana yang dapat difahami secara tidak langsung dari isi muqoddimahnya.

Penulisnya memang terkenal cerdas karena sempat bermulazamah selama 4 tahun di Markaz Unaizah Qashim Saudi Arabia; berguru langsung dengan sejumlah Masyayikh murid-murid Syaikh Utsaimin Rahimahullah. walau konon katanya beliau tidak tamat SMP & SMA. hanya lulusan SD setelah ditinggal wafat ayahnya, lalu menuntut ilmu secara tradisional di Ponpes Al-Fuqon Gresik binaan Ustad Aunur Rafiq Ghufron yang kemudian diangkat menjadi menantu beliau. Intinya, buku ini cukup menarik. hanya saja terlalu sensasional dan tidak melihat skala prioritas. akibat kebanyakan baca kitab tanpa peduli dengan realitas. sesekali perlu diajak Liqo’ dengan para tokoh Tarbiyyah, agar mampu memahami maratibud da’wah; sehingga ia bisa membedakan mana Tabligh, Taklim, dan Tamkin.

Mengapa ilmu antum yang “WOW” itu senantiasa diarahkan ke tokoh agama yang sedang berupaya menyatukan hati dan langkah menuju persatuan dan kesatuan bangsa kita? Apa kalau tidak membantah Ustad Abdus Shomad tidak keliatan SEXY kali yea...😅 Alangkah baiknya energi Ustad Abu Ubaidah As-Sidawi dan ilmunya yang “WOW” itu dipakai untuk membantah pendeta Saifuddin Ibrahim yang memperolok-olok Islam dan Nabi Muhammad ﷺ,  atau mengkritisi kondisi Arab Saudi yang bandulnya ke arah Liberal dan menangkapi para da’i tapi malah mengundang artis Yunani yang atheis, atau menasehati 'Ulil Amrinya' yang nyaris melindungi kaum H0M0 yang terlaknat, atau menasihati para “salafiyyun” yang begitu semangat menjelek-jelekkan tokoh umat pada aksi reoni 212 di monas dan menjulukinya sebagai ‘Al-Kadzdzab’.

‘Ala kulli haal, guna menyelamatkan ummat dari penipuan ‘ilmiah’ yang dipromosikan, nantikan ARTIKEL bantahan ilmiah terhadap buku ini 😊😉

✒___
Maaher At-Thuwailibi

SURAT TERBUKA BUAT KAPOLRI JENDRAL TITO KARNAVIAN. (apakah ini bukan rasis?)


Headlineislam.com - Jika Petinggi Negara NKRI, sekelas Kepala Kepolisian Republik Indonesia masih bersikap seperti ini, kasihan Ibu Pertiwi dan akan menangis lah Para Pejuang Pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia, ujungnya dapat mengancam Kesatuan dan Persatuan di NKRI. Mereka yang berada di luar Ormas Islam saja, dan tidak memeluk Agama Islam, walau tidak lebih dari 10% populasi, tetap WAJIB dihormati jasa-jasanya dalam perjuangan Kemerdekaan, apalagi umat Islam yang hampir 90%. Bukankah ada ungkapan yang sangat terkenal, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa paahlawannya”?

Nampaknya, Bapak Kapolri sangat perlu belajar lagi tentang sejarah Pergerakan dan perjuangan Indonesia. Sikap dan pengetahuan anda tantang hal ini sangat mengecewakan.

Ada banyak Ormas Islam di luar NU dan Muhammadiyah yang ikut berjuang mati-matian melawan penjajah di seluruh wilayah Indonesia dari aceh sampai Halmahera.

Di Jawa saja sebelum Muhammadiyah dan NU lahir ada Syarikat Islam, kemudian menjadi Syarikat Dagang Islam, dengan Tokoh pendiri HOS Cokroaminoto, guru besar bagi Bung Karno dan banyak tokoh pejuang lainnya. Di Jakarta tahun 1901 berdiri Jami'atul Khairat, didirikan oleh para ulama dan masyarakat keturunan Nasionalis Arab.

Di Banten ada Mathla'ul Anwar berdiri tahun 1916 di Menes, bahkan 10 tahun sebelum NU berdiri, dan hanya 4 tahun setelah Muhammadiyah, yang berdiri di Yogjakarta pada tahun 1912. Dan anda perlu tahu saat itu TIDAK ADA satupun anggota Muhammadiyah, apalagi anggota NU yang berjuang demi Rakyat Indonesia dan Kemerdekaan Indonesia di wilayah Banten. Bukankah NU belum lahir ke dunia saat Umat Islam Mathla'ul Anwar di Banten sudah berjuang melawan penjajah dan membuat usaha agar Republik Indonesia bisa berdiri MERDEKA?

Perlu juga Bapak ketahui bahwa salah satu anak didik Mathla'ul Anwar adalah Almarhum Bapak Haji Alamsyah Ratu Prawira Negara, Jendral pejuang asal Lampung, yang pernah jadi Menteri Sekretaris Negara dan Menteri Agama RI.

Di Medan, berdiri Ormas Islam Al-Washliyah pada tahun 1926. Membuat banyak sekolah, bahkan para Ulama nya berjuang angkat senjata melawan penjajah Belanda. Sebut Almarhum Riva'i Abdul Manaf (pengarang lagu "Panggilan Jihad", yang fenomenal itu), Almarhum Bahrum Jamil, Almarhum Bahrum Sholih dll., Ulama pejuang dari Al Washliyah. Perlu Pak Kapolri Catat BESAR BESAR bahwa pada saat itu dapat dipastikan belum ada Satu orang pun anggota NU di Sumatera Utara, khususnya Medan yang berjuang di sana.

Pada tahun 1936 berdiri pula Ormasy Islam Al Ittihadiyah, oleh Syekh Muhammad Dahlan, Syekh Zainal Arifin Abbas, (penulis Besar asal Medan, yang juga Ulama Pejuang yang angkat senjata melawan penjajah), dan Syekh Sayuti Nur (guru saya), Ulama Pejuang di Medan. Di Aceh berdiri Persatuan Ulama Aceh yang menuliskan fatwa Jihad melawan Penjajah Kafir Belanda dan menuliskan "Hikayat Perang Sabil" yang terkenal itu.

Di Sumatera Barat berdiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) yang dipelopori oleh Almarhum Syekh Sulaiman Arrasuli, Syekh Abbas Padang Lawas, Syekh Jamil Jaho, Syekh Sa'ad Mungka, Syekh Abdul Wahid, Padang Jopang, Suliki, Payakumbuh (kakek guru saya). Sudah dapat dipastikan saat itu belum ada anggota NU yang berjuang di sana.

Di Jawa Barat ada Persis, didirikan oleh Syekh A. Hassan Bandung, yang banyak membantu Bung Karno dan menginpirasi pemikiran Beliau. Ada Juga PUI (Persatuan Umat Islam). Di Lombok ada Nahdhatul Wathon, yang didirikan oleh Tuan Guru Zainudddin, kakek dari Tuan Guru Bajang, Gubernur NTB saat ini. Di Sulawesi ada Al-Khairat, dan lain lain.

Apa pak Kapolri pikir jika saat itu hanya NU di Jawa Timur, dan Muhammadiyah di Yogjakarta dan sekitarnya yang berjuang memerdekakan NKRI, sementara wilayah Aceh sampai Maluku Ulama dan Umat Islam berpangku tangan tidak ikut berjuang, KEMERDEKAAN INDONESIA dapat tercapai? Dengan tegas kami katakan bahwa di NKRI ini semua Ormas yang ada di NKRI mempunyai HAK dan KEWAJIBAN yang sama. Mendoktrin dan menebarkan Policy “BELAH Bambu” sangat tidak manusiawi.

Melalui Surat Terbuka ini, saya Tengku Zulkarnain PROTES KERAS atas pernyataan Bapak Kapolri dan meminta anda meminta maaf serta menarik isi pidato anda yang saya nilai tidak ETIS, merendahkan jasa Para Ulama dan Pejuang Islam di luar Muhammadiyah dan NU. Mencederai rasa Kebangsaan, serta berpotensi memecah belah Persatuan dan Kesatuan Bangsa dan negara Indonesia.

Tanjung Pinang, 29 Januari 2018.
Tengku Zulkarnain, Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Benarkah Ustadz Abdul Somad Sesat ?! (Edisi Ngajak Mikir)


Headlineislam.com - Akhir-akhir ini ada sebagian saudara kita yang menuduh Ustadz Abdul Somad hafidhahullah tersesat karena meyakini aqidah Asy’ari, benarkah demikian ?!

Mari kita sedikit memikirkan dampak dari vonis diatas.

Aqidah Asy’ari adalah aqidah yang dianut mayoritas umat Islam di dunia dan bahkan para ulama ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqih, dan lainnya semenjak dahulu kala sampai saat ini banyak ulama yang meyakini aqidah Asy’ari.

Konsekuensinya, jika kita menuduh Ustadz Abdul Somad hafidhahullah tersesat karena meyakini aqidah Asy’ari berarti kita juga menuduh semua ulama tersebut telah tersesat pula.

Imam Nawawi yang mensyarah Shahih Muslim, aqidahnya Asy’ari, berarti sesat !

Ibnu Hajar yang mensyarah Shahih Bukhari, aqidahnya Asy’ari, berarti sesat !

Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari pendiri NU, aqidahnya Asy’ari, berarti sesat !

Orang-orang NU dan Habaib, aqidahnya Asy’ari, berarti sesat !

Silahkan diteruskan sendiri, berapa juta ulama yang akan kita tuduh sebagai tersesat karena beraqidah Asy’ari !

Kemudian kita berbicara ukhuwah ?!
Ukhuwah model apa yang hendak kita capai jika kita telah memvonis sesat saudara-saudara kita ?!
Mungkinkah terjadi ukhuwah jika seperti ini ?!

قال السفاريني الحنبلي في” لوامع الأنوار”:
أهل السنة والجماعة ثلاث فرق:
الأثرية وإمامهم أحمد بن حنبل،
والأشعرية وإمامهم أبو الحسن الأشعري،
والماتريدية وإمامهم أبو منصور الماتريدي،
وأما فرق الضلالة فكثيرة جداً . ا.هـ

Imam As-Safariniy Al-Hanbali rahimahullah (1114-1188 H) dalam “Lawami’ Al-Anwar” mengatakan: “Ahlus Sunnah wal Jama’ah terdiri dari 3 golongan yaitu;

1- Al-Atsariyah, Imam mereka adalah Ahmad ibn Hanbal.
2- Al-Asy’ariyah, Imam mereka adalah Abul Hasan Al-Asy’ari.
3- Al-Maturidiyah, Imam mereka adalah Abu Manshur Al-Maturidi.
Adapun golongan-golongan sesat maka jumlahnya banyak sekali”.

Jadi, menurut Imam As-Safariniy Al-Hanbali rahimahullah Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu pengertiannya luas sekali, meliputi;

1- Al-Atsariyah (Imam mereka adalah Ahmad ibn Hanbal), mereka disebut juga dengan Ahlul Hadits, dan saat ini dikenal dengan Salafy.

2- Al-Asy’ariyah (Imam mereka adalah Abul Hasan Al-Asy’ari), saat ini diikuti oleh NU, Habaib dan yang sepemahaman dengan mereka.

3- Al-Maturidiyah (Imam mereka adalah Abu Manshur Al-Maturidi), saat ini diikuti oleh penganut madzhab Hanafi.

Penjelasan yang disampaikan oleh Imam As-Safariniy Al-Hanbali rahimahullah ini sangat cocok dan tepat untuk diamalkan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang pemahaman umat Islamnya sangat beragam demi menjaga ukhuwah, juga persatuan dan kesatuan NKRI.

Caranya bagaimana ?!

Caranya adalah dengan berusaha memahami dan menghargai sudut pandang yang lain supaya nyambung dan tidak terjadi salah faham atau gagal faham.

Cara seperti ini sudah kami praktekkan dan alhamdulillah menghasilkan dampak positif, juga mendapat respon yang baik dari semua kalangan dan tentu saja yang nomer satu adalah kami berharap ridha Allah.

Dalam berbagai kesempatan kami sering menganjurkan kepada umat agar membaca buku karya Ustadz Abdul Somad hafidhahullah yang berjudul “37 Masalah Populer” tujuannya adalah untuk membuka wawasan agar luas dan tidak sempit. Walaupun kita berbeda pendapat tapi kita mengetahui bahwa yang berbeda dengan kita itu juga mempunyai argumentasi dan hujjah yang sepatutnya kita berlapang dada dalam menyikapinya karena pada intinya kita adalah sama, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Kesimpulannya, kalau kita menuduh Ustadz Abdul Somad hafidhahullah tersesat karena meyakini aqidah Asy’ari berarti kita juga menuduh berjuta-juta ulama dan umat Islam semenjak dahulu kala sampai saat ini telah tersesat pula, dan tuduhan ini adalah LUAR BIASA !!!

Ya Allah, bersihkan hati kami dari kebencian kepada sesama muslim apalagi kepada para ulama, aamiin ya Robb..

Saya Salafy dan Ustadz Abdul Somad hafidhahullah NU Asy’ariy, Kita Saling Cinta Karena Allah, Kita Semua Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Walau Ada Beberapa Perbedaan Sudut Pandang Diantara Kita

Saya (Abdullah Hadrami) kenal Ustadz Abdul Somad hafidhahullah semenjak sekitar tiga tahun lalu ketika saya diundang acara di beberapa tempat diantaranya Masjid Agung An-Nur Pekanbaru Riau, waktu itu Beliau masih belum terkenal seperti sekarang ini.

Kisah cinta terpanjang itu adalah saling cinta karena Allah.

Dimulai dengan saling menasehati untuk menjadi lebih baik.. Berlanjut dengan saling mendoakan dikala dekat dan jauh..

Puncaknya adalah bertemu di ‘Mimbar-Mimbar dari Cahaya’ di surga sukses dengan meraih Cinta Allah..

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi:
“Orang-orang yang saling cinta karena Aku, untuk mereka mimbar-mimbar dari cahaya..”
[HR. At-Tirmidzi dan beliau berkata: Hadits Hasan Shahih]

Ya Allah, masukkanlah kami kedalam golongan orang-orang yang saling cinta karenaMu, aamiin ya Mujibas Sa’ilin..

Mari kita waspada dan jangan sampai kita mau diadu domba. Semoga Allah menjaga dan melindungi NKRI dari siapa saja yang berniat merusaknya, aamiin.

Semoga bermanfaat.

Malang, Selasa 13 Jumadal Ula 1439 / 30 Januari 2018

Hamba Allah yang selalu berharap terjalinnya ukhuwah Islamiyyah
Abdullah Sholeh Hadrami
@AbdullahHadrami

Sumber : Hati Bening

MENGKRITIK PEMIMPIN, AMAL SHALIH YANG PALING AFDHOL


✍ Oleh: Maaher At-Thuwailibi

Headlineislam.com - Tanda kecintaan kepada pemimpin, adalah dengan MENTAATINYA dalam segala hal yang ma’ruf dan mengingkarinya dari segala hal yang mungkar. demikian manhaj Ahlus Sunnah memberikan tuntunan dan panduan kepada kita dalam menyikapi pemimpin. Pemimpin yang beriman, shalih, dan adil WAJIB kita patuhi segala aturan dan kebijakannya selama tidak bertentangan dengan Al-Kitab & As-Sunnah. Namun sebaliknya, wajib kita ingkari dan kita kritisi jika kebijakan yang dibuatnya ternyata bertentangan dengan Al-Qur’an & As-Sunnah. Contoh pemimpin yang kebijakannya bertentangan dengan Syariat adalah, pemimpin yang merubah hukum-hukum Allah, pemimpin yang menghalalkan yang diharamkan Allah. misal: menghalalkan perjudian, khomr, zina, liwath dsb. Pemimpin yang zhalim dan diktator, pemimpin yang senantiasa mengkriminalisasi para Ulama, tokoh agama, dst. Nah ini mesti di ingkari, di kritisi, dan diperbaiki. Sebelum MURKA ALLAH DITURUNKAN KEPADA UMMAT INI DAN DIBERIKAN AZAB YANG SETIMPAL sebagaimana yang telah Allah turunkan atas ummat-ummat terdahulu.

Kata para penjilat, haram mengkritik atau menasehati pemimpin secara terang-terangan/terbuka; karena Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk mendatangi Fir’aun secara langsung dan menasehatinya dengan lemah lembut sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an surat Thoha ayat 43-44:

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى. فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”

lalu ayat ini dijadikan argumen oleh khalifah Umar Bin Abdil Aziz Rahimahullah saat beliau dikritik keras oleh seseorang. Sang Khalifah pun berkata: “Aku tidak sejahat Fir’aun, sedangkan Anda tidak sebaik Nabi Musa & Harun; tapi Musa dan Harun diperintah untuk menasehati Fir’aun dengan qaulan layyinan, kata-kata yang lembut”.

Argumen ini hanya mengkritik sikap kasar dalam menasehati pemimpin; bukan menghilangkan hak menasehati pemimpin itu sendiri. Kalau bisa menasehati secara damai, lembut, santun, dan secara langsung maka lakukanlah. Namun kalau tidak bisa karena tidak efektif, ya silahkan lakukan cara lain yang lebih efektif dan menghasilkan pengaruh nyata. Karena menasehati pemimpin dijamin sepenuhnya oleh Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ‘Alaihi Sholawatu Wa Salam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “jihad apa yang paling utama yaa rasulallah?”

Beliau menjawab:

كلمة حق عند سلطان جائر

“Kalimat yang haq (benar) yang disampaikan di sisi pemimpin yang dzalim“.

(HR. Imam Nasa’i)

Uniknya, komplotan maffia berjubah “sunnah” pun datang menanamkan pemikiran sungsang mereka dengan bungkus “kajian ilmiah”. Kata mereka, tetap haram mengkritik pemimpin secara terbuka atau terang-terangan dengan alasan bahwa hadits ini terdapat lafadz عند سلطان (di sisi pemimpin) yang berarti mesti menyampaikannya secara langsung dihadapan pemimpin dan tidak boleh secara terbuka. INI MERUPAKAN SYUBHAT OPLOSAN YANG TELAH LAMA USANG DALAM SAMPAH PEMIKIRAN.

Adapun kita menyebut kejelekan pemimpin di forum, facebook, mimbar-mimbar, atau menyebarkan hal-hal yang tidak pantas tentang pribadi pemimpin atau bahkan mengajak melakukan pemberontakan dsb, maka ini bukanlah nasehat atau kritik, akan tetapi justru lebih kepada memprovokasi rakyat untuk melakukan hal-hal yang merusak dan membuat kekacauan dalam suatu negara, sehingga menimbulkan kerusakan dan pemberontakan yang tidak disyari’atkan dalam islam. manhaj ahlus sunmah mengingkari sikap yang demikian. Akan tetapi, bukan berarti menasehati atau mengkritik pemimpin secara terbuka itu HARAM atau TERLARANG, bahkan hal itu di syari’atkan bila kondisinya menuntut demikian, demi sampainya kebenaran dihadapannya (baik secara langsung atau tidak), serta tegakknya amar makruf nahi mungkar.

Kata Syaikh Shalih Al-‘Utsaimin:

مناصحة الولاة، من الناس من يريد أن يأخذ بجانب من النصوص وهو إعلان النكير على ولاة الأمور، مهما تمخض عنه من المفاسد، ومنهم من يقول: لا يمكن أن نعلن مطلقاً، والواجب أن نناصح ولاة الأمور سراً كما جاء في النص الذي ذكره السائل، ونحن نقول: النصوص لا يكذب بعضها بعضاً، ولا يصادم بعضها بعضاً، فيكون الإنكار معلناً عند المصلحة، والمصلحة هي أن يزول الشر ويحل الخير، ويكون سراً إذا كان إعلان الإنكار لا يخدم المصلحة، لا يزول به الشر ولا يحل به الخير.

“Masalah menasehati penguasa, ada dari sebagian orang yang hendak berpegang dengan sebagian dalil, yakni mengingkari penguasa secara terbuka, walaupun sikap tersebut hanya mendatangkan kerusakan. Di sisi lain ada pula sebagian orang yang beranggapan bahwa mutlak tidak boleh ada pengingkaran secara terbuka, sebagaimana dijelaskan pada dalil yang disebutkan oleh penanya. Namun demikian, saya menyatakan bahwa dalil-dalil yang ada tidaklah saling menyalahkan dan tidak pula saling bertentangan. Oleh karena itu, BOLEH MENGINGKARI PENGUASA SECARA TERBUKA BILA DI ANGGAP DAPAT MEWUJUDKAN MASLAHAT, yaitu hilangnya kemungkaran dan berubah menjadi kebaikan. Dan boleh pula mengingkari secara tersembunyi atau rahasia bila hal itu dapat mewujudkan maslahat, sehingga kerusakan tidak dapat ditanggulangi dan tidak pula berganti dengan kebaikan”.l

(Liqa’ Al-Baabil-Maftuh)

Para ulama terdahulu dari kalangan Salafus Shalih berani mengingatkan penguasa yang berbuat salah. Tak jarang, karena enggan diajak kompromi maka mereka akhirnya berhadapan dengan SIKSAAN & PENJARA. Dan itu semua dihadapi dengan penuh ketegaran, diantaranya seperti Imam Ahmad Bin Hanbal, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dll. Dengan menjaga jarak terhadap penguasa dan tetap berkata HAQ dihadapan para penguasa, para ulama tidak terbebani, demikian pula mereka tidak terbebani ketika harus melakukan amar ma’ruf nahi mungkar kepada para penguasa. Bahkan kerap kali para ulama harus berhadapan dengan resiko yang besar ketika melakukan hal itu. akan tetapi, mereka tidak pernah gentar.

Menasehati atau mengkritik pemimpin dengan cara yang bijak (baik secara langsung atau tidak langsung) adalah kemuliaan dan keberanian. Adapun diam terhadap kemungkaran penguasa dengan alasan tidak boleh mengumbar aib penguasa di media umum adalah KEHINAAN dan CABANG KEMUNAFIKAN. Tidaklah dilakukan kecuali oleh para penjilat.

APAKAH MENGKRITIK PENGUASA SECARA TERBUKA TIDAK PERNAH DI CONTOHKAN PARA ULAMA DAN HAL ITU MERUPAKAN MANHAJ KHAWARIJ ??”

Jawabannya simple, pada tahun 83 Hijriyah, sebanyak 100.000 penduduk Bashrah dan Kuffah berkumpul melawan Khalifah Abdul Malik dan panglimanya yang bernama Hajjaj. Beberapa ulama turut serta dalam perlawanan ini, seperti : Imam Sa’id bin Jubair, Imam Asy-Sya’bi, Imam Hasan Al Bashri dan Muslim bin Yasar. Walau demikian,TIDAK ADA SATUPUN ULAMA YANG MENUDUH 100.000 PENDUDUK BASHROH DAN ULAMA-ULAMA DIATAS SEBAGAI “KHAWARIJ”.

Dalam kitab Al-Bidayah wa Nihayah dikisahkan bahwa Imam Ahmad bin Nasr Al-Khuza’i memberontak pada khalifah dimasanya sampai beliau terbunuh. Ketika Imam Ahmad bin Hanbal mendengar kabar ini beliau bersedih dan berkata: “Semoga Allah merahmati beliau, sungguh beliau telah berjuang di jalan Allah”. Jadi, tidak semua yang memberontak penguasa adalah khawarij. Memberontak penguasa saja belum tentu menjadi “khawarij”, mesti dilihat dulu konteks kasusnya, apalagi hanya sekedar mengkritik dan menasehati penguasa secara terbuka.

Ulama pada masa Al-Hajjaj Bin Yusuf seperti Asy-Sya’bi, Imam An-Nakha’i, Imam Mujaahid dll mengkafirkan Al-Hajjaj sedangkan Hasan Al-Bashri, Anas Bin Malik dll tidak mengkafirkan Al-Hajjaj. Apakah Imam Asy-Sya’bi, An-Nakha’i, dan Mujaahid divonis “khawarij” oleh Ulama-ulama lain di masanya? Jawabnya tidak.

Di dalam Kitab Al-Bidayah wa Nihayah disebutkan bahwasanya Husain bin ‘Ali Radhiyallahu’anhu, pemimpin pemuda ahlul jannah, memisahkan diri (khuruj) dari kepemimpinan Yazid bin Mu’awiyyah. Imam Husain Radhiyallahu’anhu dibai’at oleh penduduk Kufah pada tahun 61 Hijriyah. Beliau juga mengutus anak pamannya, Muslim bin ‘Aqil untuk mengambil bai’at penduduk Kufah untuk dirinya. Dan tidak kurang 18 ribu orang membai’at dirinya. Dan didalam sejarah, tak seorang pun menyatakan bahwa Imam Husain Radhiyallahu’anhu pada saat itu termasuk firqah sesat atau “khawarij”. Demikianlah cara yang dilakukan oleh Imam Husain Bin ‘Ali Radhiyallahu’anhu untuk mengoreksi dan mengkritisi kepemimpinan Yazid bin Mu’awiyyah, walau ber-ujung pada pembantaian berdarah keluarga Ahlul Bait dan beliau gugur sebagai Syahid.

Semoga Allah membimbing pemimpin-pemimpin kita ke jalan yang lurus dan memberi petunjuk kepada kita semua baik rakyat maupun pemimpin, Allaahumma Aamiin... (fmt/headlineislam.com)

Puluhan WNA Cina Digrebek atas Kasus Penipuan Lintas Negara di Bali


Headlineislam.com - Puluhan Warga Negara Asing (WNA) asal Cina kembali digerebek di tiga tempat kejadian perkara (TKP) di Bali. Mereka diduga terlibat sindikat kasus penipuan lintas negara.

Tim gabungan Mabes Polri dan Kepolisian Daerah (Polda) Bali memeriksa tiga TKP, yaitu Jalan Tukad Badung XXI Denpasar, Jalan Villa Sahadewa Kompleks Pecatu Indah Resort, dan Jalan Darmawangsa Gang Kutuh II Nomor IX di Kuta Selatan.

Kepala Bidang Humas Polda Bali, AKBP Hengky Widjaja membenarkan penangkapan tersebut.
"Benar, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) sedang menangkap kasus penipuan oleh WNA Cina dan masih terus berjalan," kata Hengky kepada Republika, Kamis (11/1).

Hengky menerangkan jumlah pelaku yang diamankan sudah mencapai 49 orang. Sebanyak 12 orang di antaranya adalah perempuan. Jumlah tersebut kemungkinan besar terus bertambah.
"Kami sudah berkomunikasi dengan Kepolisian Tiongkok (Cina) untuk menjemput. Besok siang (Jumat) kami berencana menggelar konferensi pers bersama Kapolda Bali," tambah Hengky.

Aparat menggerebek puluhan WNA Cina tersebut sekitar pukul 09.00 WITA. Awak media baru mengetahui kasus tersebut pada siang harinya ketika penyelidikan berlangsung di lokasi.

Para pelaku sampai saat ini masih diinterogasi sembari aparat mengamankan barang bukti. WNA tersebut diduga melakukan penipuan daring (online) dari Bali. Mereka menyewa sejumlah rumah mewah sebagai markas sementara menjalankan aksinya.

Salah satu aksi ilegal yang dilakukan adalah memeras sejumlah pejabat di negara asalnya dengan mengaku sebagai polisi atau jaksa. Kasus ini masih terus dikembangkan di lapangan.

Kasus serupa juga pernah terjadi di Bali sekitar Juli 2017. Satuan Tugas (Satgas) Merah Putih bekerja sama dengan Satgas Counter Transnational Organize Crime (CTOC) dan Ditreskrimsus Polda Bali menggerebek sebuah vila di Jalan Puri Bendesa, Banjar Mumbul, Kuta Selatan.

Petugas mengamankan 27 WNA, terdiri dari 17 WNA Cina dan 10 WNA Taiwan. Polisi juga mengamankan empat Warga Negara Indonesia (WNI) pelaku kejahatan siber.

Tim satgas juga menggerebek rumah di Jalan Kutat Lestari Sanur yang diduga sebagai rumah pemberi arahan pelaku untuk menjalankan aksi penipuannya. Polisi Cina langsung melakukan olah TKP. Seluruh tersangka kemudian diterbangkan ke Mabes Polri melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Seluruh proses terhadap kasus tersebut diserahkan kepada Kepolisian Cina, termasuk kapan deportasi dilakukan. Puluhan WNA ini juga terlibat dalam serangkaian kasus penipuan dan pemerasan melalui telepon yang merugikan WNA Cina dan Taiwan. (rp/headlineislam.com)

Pemerintah Pusat Tolak Permintaan Anies Batalkan HGB Pulau Reklamasi


Headlineislam.com - Kementerian Agraria dan Tata Ruang Badan Pertahanan Nasional (ATR/BPN) menolak mentah-mentah permintaan Gubernur DKI Jakarta mengenai penghentian sementara dan pembatalan semua Hak Guna Bangunan (HGB) yang diberikan kepada pihak ketiga di semua pulau reklamasi C, D dan G.

Menteri Agraria dan Tata Ruang, Sofyan Djalil membenarkan bahwa penerbitan HGB diatas Hak Pengelolaan (HPL) Pulau D dilakukan atas permintaan Pemerintah DKI Jakarta dan sesuai dengan ketentuan administrasi pertanahan yang ada.

“Oleh karena itu tidak dapat dibatalkan dan berlakulah asas presumtio justae causa atau setiap tindakan administrasi selalu dianggap sah menurut hukum sehingga dapat dilaksanakan seketika sebelum dapat dibuktikan sebaliknya dan dinyatakan oleh hakim yang berwenang sebagai keputusan yang melawan hukum,” kata Sofyan di Hotel Grand Sahid Jaya, Rabu (10/1).

Sofyan mengungkapkan, korespondensi yang dikirim Anies tidak bersifat nonretroaktif atau yang telah disepakati tidak bisa dibatalkan secara sepihak. Keputusan di masa pimpinan Basuki Tjahaja Purnama juga berlaku untuk masa depan.

“Jika prinsip non-retroaktif diterapkan maka akan menimbulkan ketidakpastian hukum,” tambahnya.

Pulau C dan D memiliki Sertifikat Bangunan dan Manajemen Gak Guna sedangkan Pulau G masih menunggu persetujuan Pemprov DKI Jakarta.

Surat tersebut tertanggal 29 Desember 2017 dengan nomor 2373/-1.794.2. Surat yang ditandatangani Anies Baswedan Surat tersebut menyatakan bahwa peninjauan harus dilakukan sehubungan dengan masukan dari para ahli dan beberapa komunitas, bahwa sejauh ini dalam tinjauan awal telah menemukan dampak buruk dari kebijakan ini dan indikasi atau kecurigaan cacat dalam prosedur reklamasi.

“Tanpa adanya rancangan peraturan daerah tersebut (rancangan peraturan daerah tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Pantai Utara dan Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil) maka tidak ada pengaturan dari kegiatan yang dilakukan di atas lahan-lahan hasil reklamasi,” sebagaimana tertulis dalam korespondensi tersebut. (em/headlineislam.com)

Tanggapi Joshua dan Ge Pemungkas, Oppie Kumis: Jadi Komedian Harus Cerdas!


Headlineislam.com - Komedian senior Opie Kumis cukup kaget dengan video komika Ge Pamungkas dan selebriti Joshua Suherman, saat melakukan lawakan stand up comedy. Mereka berdua terlihat dan terdengar menghina agama Islam dan Ge juga sempat menyindir mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok soal banjir di Jakarta.

Bang Opie, begitu sapaannya mengatakan bahwa sebagai komedian harus belajar agama dan melawak tidak mengandung SARA. Tentunya, agar tidak mengundang hal-hal yang tak diinginkan.

“Sebagai komedian harus cerdas, belajar agama agar mengerti batas-batas yang harus kita lontarkan dalam lucuan. Kan, banyak teknik dalam melucu. Kalau menurut gue sih, emang orangnya yang kurang pinterlah, kurang cerdas,” katanya, saat dihubungi VIVA, Seni, 8 Januari 2018.

Pembawa acara Pesbukers ini menjelaskan bahwa jika kedua selebriti itu tidak meminta maaf secara umum, dengan atau tanpa menggandeng ulama, kariernya akan kandas di tengah jalan.

“Kalau terbukti, dia harus minta maaf dan kalau dia bertahan dengan kesombongannya, kariernya sudah selesai,” tutur pria yang gemar mengoleksi topi tersebut.

Pria bernama lengkap Muchtar Lutfi itu mencontohkan ada banyak cara agar Ge dan Joshua meminta maaf. Salah satunya dengan menggandeng ulama yang bijak, netral dan tak beraliran keras.

“Harusnya, dia datanglah ke salah seorang ulama yang bijak kan banyak. Jelasin saja, apa yang sudah diperbuat. Ketemu dan bicarakan, kalau telah melawak dan ingin meminta maaf atas lawakan dia. Minta dampingi untuk mohon maaf kepada umat Islam. Gue rasa itu salah satu jalan keluar,” ungkap pria berusia 57 tahun itu. (em/headlineislam.com)

Yunani Rancang UU Batasi Hukum Syariah Bagi Minoritas Muslim


Headlineislam.com - Parlemen Yunani sedang dikabarkan sedang mengerjakan sebuah rancangan undang-undang yang akan membatasi kekuasaan pengadilan Islam mengenai masalah keluarga bagi sekitar 100.000 Muslim Turki di timur laut negara tersebut, lansir AP pada hari Selasa (9/1/2018).

Proposal RUU tersebut bertujuan untuk menghapuskan peraturan yang merujuk kasus perdata yang menyebabkan anggota komunitas Muslim menyertakan hukum Syariah.

Saat ini, persidangan pengadilan Islam dipimpin oleh seorang pejabat tunggal, seorang ulama Muslim yang ditunjuk negara, lanjut AP. Dengan undang-undang baru tersebut, pengadilan Yunani akan memiliki prioritas dalam semua kasus, katanya.

Perubahan tersebut menyusul sebuah pengaduan ke Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa (ECHR) atas perselisihan warisan oleh seorang perempuan Muslim yang tinggal di kota timur laut Komotini.

Perundang-undangan mengenai hak-hak minoritas didasarkan pada kesepakatan internasional setelah keruntuhan Kekaisaran Ustmani, namun pemerintah Yunani di masa lalu enggan untuk mengubah hak minoritas, karena banyak perselisihan antara Yunani dan Turki yang belum terselesaikan. (em/headlineislam.com)

Segera Tangani Kasus Lawakan Penghina Islam Sebelum Meledak Amarahnya!


Headlineislam.com - Kasus penistaan agama yang menyorot mantan penyanyi cilik, Joshua Suherman, dan rekannya Ge Pamungkas mengemuka. Juga beberapa kasus penistaan agama yang menyeret dosen dan pegiat sosial media Ade Armando.

Maraknya kasus penistaan agama akhir-akhir ini mengundang keprihatinan Wakil Sekretaris Jenderal MUI (Majelis Ulama Indonesia) Tengku Zulkarnain.

Dalam komentarnya di akun instagramnya, Senin (8/1/2018), Tengku menyebut acara lawakan yang dinilai menghina agama yang menyeret nama Joshua dan Ge Pamungkas telah dengan terang-terangan mengolok-olok agama Islam.

Ia meminta aktivis pemuda Islam dan ormas di Indonesia untuk mengajukan gugatan hukum agar mereka segera diproses hukum.

“Ini penting sebelum Ummat Islam meledak amarahnya,” tandas Tengku.

Ia menghimbau Kapolri dan BSSN agar segera menangani kasus-kasus ini dengan seadil-adilnya.

“Kami memandang tiga tahun terakhir ini, gerakan anti-Islam dan penghinaan terhadap agama Islam semakin menjadi-jadi,” ungkapnya.

Ia juga mengajak ummat Islam agar menahan diri sampai proses hukum berjalan.

“Berikan kesempatan kepada aparat penegak hukum menunjukkan keadilan hukum di NKRI tercinta,” pungkas Tengku. (em/headlineislam.com)

"Kami Ingin 2019 Mengganti Pemerintahan Yang Sekarang!"


Headlineislam.com - Satu-satunya acara di teve yang bermutu sekarang ini adalah ILC. Ini bukan promosi, tapi banyak yang beranggapan demikian, tentu saja satu lagi yang paling menghibur adalah kartun seperti Ipin dan Upin. Selebihnya kebanyakan sampah.Dalam acara ILC tadi malam (9/1), bertajuk “Pilkada Panas Sebelum Mulai”, terkait dengan situasi perpolitikan nasional yang akan sangat panas di tahun 2018 ini: Pilkada serentak dan Oktober nanti disusul Kampanye Pilpres, maka Karni Ilyas selaku tuan ruamh acara tersebut mengundang sejumlah tokoh nasional, yang terdiri dari tokoh partai politik dan juga pengamat. Baik dari kubu penguasa, maupun dari kubu yang belum berkuasa.

Salah satu pembicara yang dihadirkan adalah Mardani Ali Sera, tokoh PKS yang berada dibelakang suksesnya Anies-Sandi merebut DKI Jakarta pada Pilkada tahun lalu dari tangan mereka yang tengah berkuasa saat ini.

Mardhani menyanggah anggapan Said Didu, yang mengatakan jika semua partai politik yang ada sekarang ini tak jelas jatidirinya, tak jelas batas-batas ideologinya, tidak seperti dua parpol di AS dimana Partai Republik akan condong mengurusi urusan global dan Partai Demokrat akan lebih condong sibuk mengurusi urusan domestik.

Mardhani dengan tegas menandaskan jika PKS, “Kami ingin 2019 mengganti pemerintahan yang sekarang! (ini) Tegas kok!Sebab itu kami (PKS) tidak ingin bergabung dengan pemerintahan yang ada sekarang.Kita tolak Perppu ormas, kita tolak (aturan) Presidential Tresshold 20 Persen, kita tolak yang memang tidak betul.”

Pernyataan itu sontak mendapat aplaus dari hadirin.


(em/headlineislam.com)

Kata RI 1 Jokowi, "Indonesia Beruntung Punya PDIP"


Headlineislam.com - Jokowi mengatakan Indonesia beruntung memiliki Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang terus mendukung upaya pembangunan di seluruh wilayah Indonesia.

“Indonesia beruntung memiliki PDIP yang militan kadernya, yang demokratis, yang visioner tanpa melupakan sejarah bangsa,” kata Presiden Jokowi dalam sambutannya saat Peringatan HUT Ke-45 PDIP di Balai Sidang Jakarta pada Rabu (10/1/2018).

Menurut Presiden, para kader PDIP merupakan pendukung pembangunan Indonesiasentris serta berupaya mewujudkan poros maritim dunia, dan pendukung pelaksanaan Nawacita di Tanah Air.

Partai berlambang banteng moncong putih itu, jelas Presiden, juga merupakan cerminan ke-Bhineka Tunggal Ikaan Indonesia.

Para kader di seluruh daerah, tambah Jokowi, selalu mendukung upaya pengentasan kemiskinan, melawan keterbelakangan dan mengurangi ketimpangan sosial.

Jokowi mengatakan pengabdian PDIP belum selesai dan akan terus berlanjut dalam membangun bangsa.

“Saya percaya ada satu kata yang membuat PDIP tetap kokoh berdiri yaitu gotong royong. Gotong royong yang membuat kita bisa bersatu dalam satu rangkai barisan. Gotong royonglah yang membuat kita yakin bahwa kita akan mampu berjuang untuk satu tujuan yang mulia,” ujar Presiden.

Ketua Umum PDI Perjuangan yang juga Presiden Ke-5 RI Megawati Sukarnoputri mendampingi Presiden Jokowi dalam acara tersebut bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Selain itu, beberapa mantan wakil presiden RI juga hadir dalam acara peringatan HUT PDIP yaitu Try Sutrisno dan Boediono. (em/headlineislam.com)