Habib Rizieq: Penista Agama Harus Dipenjara


Headlineislam.com - Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab menegaskan bahwa pelaku penista agama harus dihukum berat. Hal tersebut untuk memberikan efek jera dan pelajaran bagi masyarakat.

"Jangan biarkan penista agama dibebaskan. Kalau si penista agama sampai dibebaskan, besok orang akan makin berani menghina Islam, menghina Alquran. Penghina agama harus dipenjara biar yang lain tidak berani lagi menghina agama," jelas Habib Rizieq saat berceramah di Ciputat, Tangerang.

Ia menjelaskan, Aksi Bela Islam yang selama ini digelar memiliki tiga target jangka pendek, salah satunya menuntut penegakan hukum terhadap penista agama.

Target pertama, kalahkan penista agama di media sosial. "Alhamdulillah laskar cyber Muslim dimana-mana memenangkan pertempuran di alam maya. Karena itu handphone kita harus digunakan terus untuk memperjuangkan Islam," ujar Habib Rizieq.

Ia mencontohkan, saat sidang pertama kasus penistaan agama digelar. Saat itu Ahok menangis di pengadilan, dan fotonya langsung disebar para buzzernya Ahok untuk mencari simpati. "Tapi tak lama kemudian ada netizen yang langsung membuat meme buaya sedang nangis, lalu ada juga meme ketika Ahok membentak ibu yang menangis karena rumahnya digusur, sampai ia mengatakan tidak peduli dengan air mata si ibu. Di meme tersebut ditulis, aku juga tidak peduli dengan air matamu di pengadilan," ungkap Habib Rizieq.

Jadi, kata Habib Rizieq, upaya untuk menarik simpati tersebut buyar dengan perlawanan di media sosial.

Target kedua, kalahkan penista agama di Pilkada. "Alhamdulillah ini sudah tercapai," tuturnya.

Lalu target ketiga, kalahkan penista agama di pengadilan, yang ini belum tercapai. "Jadi kita jangan mau kalah, kejar terus dan kita tunjukan kepada dunia bahwa kita mengikuti prosedur hukum," jelas Habib Rizieq.

Oleh karena itu, pihaknya mengingatkan pemerintah dan aparat penegak hukum agar menghargai langkah umat Islam yang selama ini konstitusional. Ketika ada orang yang menghina Alquran tetapi tidak langsung main hakim sendiri. Yang dilakukan adalah pelaporan, menempuh proses hukum sampai ke pengadilan.

"Kita tunjukkan betapa santun dan taat hukumnya umat Islam. Karena itu kepada pemerintah khususnya penegak hukum, jangan kau sakiti bangsa Indonesia, jangan kau tidak hargai kesabaran dan kesantunan umat Islam dengan mempermainkan hukum secara tidak adil. Kalau umat terus disakiti, umat bisa marah bahkan main hakim sendiri. Pemerintah harus mencatat itu," tandas Habib Rizieq. (si/headlineislam.com)

PEMIMPIN MUSLIM SUKSES, Itulah Yang Mereka Takutkan


Headlineislam.com - Sejatinya, kaum kafir adalah cengeng. Tengoklah kumpulan para raja Eropa saat berhadapan Sultan Muhammad Al Fatih. Menangis, Konstantinopel kok bisa ditaklukkan.

Maka ketika Eropa tak mampu membendung Erdogan. Mereka berteriak, Erdogan diktator, anehnya merestui kudeta As-Sisi di Mesir.

Tak jauh beda kalangan kafir di Indonesia. Kemenangan Anies Sandi di Jakarta, sudah dipersepsikan dengan kemenangan kaum radikal. Anehnya, nama ISIS dicantelkan.

Anies-Sandi radikal. Kita pun tak punya gambaran. Anies lulusan AS. Sandi seorang pengusaha. Radikal (baca: teror) nya dari sebelah mana?

Jawabannya: kesuksesan. Dunia Barat khawatir, Muslim intelek sukses merekonstruksi Islam dibingkai konsep-konsep modern yang dijual Barat.

Terbayang, dengan dana tak terbatas. Anies-Sandi memegang kendali hak anggaran, puluhan triliun pertahun (APBD DKI 2017 total Rp 70,19 Triliun), untuk ibukota yang jumlah penduduknya 8 jutaan.

Saya tidak yakin Anies-Sandi pro PKS, sebagai parpol pengusung. Tapi kita akan bangga, jika janji membahagiakan kota Jakarta sukses dilakukan dengan kuasa di tangan.

Jadi ketakutan kalangan kafir lebih pada kesuksesan kalangan Islam mengelola kota. Lalu kemudian, mengelola negara.

Model Erdogan cukup merepotkan. Padahal baru satu, bagaimana jika seribu?

Oleh : Ust. Nandang Burhanuddin (pp/headlineislam.com)

Membongkar Narasi Kotor Metro TV Pasca Kekalahan Ahok


Oleh:Yons Achmad*

Headlineislam.com - Lagi-lagi acara Metro TV sangat tendensius dan problematis. Yang terbaru, saya menonton acara Metro Realitas, malam (24/4/2017). Selama pilkada DKI 2017 Metro TV memang dikenal sebagai media yang cenderung partisan. Mendukung  dengan telanjang pasangan Ahok-Jarot. Rupanya Metro TV belum juga bisa move on menerima fakta tergusurnya Ahok-Jarot yang kalah telak dengan pasangan Anis-Sandi.   Sayangnya, cara dilakukan adalah menyodorkan narasi  kotor berkedok “Tayangan Realitas”.  Narasi yang dimunculkan masih saja menjadikan pihak lain sebagai kambing hitam, alih-alih mengakui kekalahan karena ketidakberesan dan ketidakbecusan  Ahok dalam mengelola Jakarta.

Narasi apa yang ditampilkan? Metro Realitas mulai menampilkan wajah Ahok setelah kalah telak. Di media, kita bisa menyaksikan wajah kusut dan layu Ahok. Tapi, rupanya Metro punya pandangan lain. Di narasikan bagaimana tidak tampak kekecewaan di wajah Ahok. Kemudian,  narasi berlanjut dengan menanyakan ke publik kenapa Ahok bisa kalah, padahal menurut survei,  trennya selalu naik.

Untuk memberikan argumen kenapa Ahok kalah, dipinjamlah “mulut” pengamat untuk memberikan pandangan-pandangan tendensiusnya. Siapa dia? Tak lain Yunarto Wijaya. Pengamat politik partisan yang sangat telanjang dan terang-terangan mendukung Ahok. Direktur Lembaga Survei Charta Politika.  Lembaga survei banyak disorot negatif publik. Diantaranya oleh salah seorang peneliti dari Universitas Indonesia (UI), Fitri Hari.

Oleh peneliti tersebut, bahkan Charta Politika dinilai pantas diberikan kartu merah. Alasannya,  kartu merah itu untuk dua kegagalan. Pertama kegagalan menggambarkan trend. Kedua, lembaga survei itu menggambarkan trend Ahok yang menaik, dan Anies yang menurun. Padahal kenyataannya, Anies justru menanjak tinggi melambung ke angka 57, 95 persen.

Sebagai lembaga survei gagal, alih-alih meminta maaf ke publik, Yunarto di Metro Realitas justru  malah mencari kambing hitam. Dia mengatakan Ahok-Jarot kalah karena adanya sentimen primordial. Dan menuduh Anis menikmatinya. Belum lagi memfitnah ormas Islam menggoreng isu tersebut lebih besar. Tuduhan Yunarto ini tentu saja sangat tendensius, asumtif  dan mengada-ada.

CEO PolMark Research Center, Eep Saefulloh Fatah  di media  (Republika,  22/2/17) mengungkapkan hasil survei-nya bahwa tidak semua pemilih Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta berdasarkan agama saja. Bahkan kata dia, hanya 18,5 persen warga Jakarta yang memilih berdasarkan agama. Menurutnya pemilih Anies-Sandi adalah pemilih yang rasional. Artinya, 78 Persen Pemilih Nyoblos tak berdasarkan agama. Artinya juga, pendapat Yunarto itu serampangan dan tidak berdasar data yang kuat. Bahkan justru bisa dibalik, apakah pemilih Ahok-Jarot dikalangan Cina dan Non Islam tidak memilih karena faktor itu? Bukankah justru alasan primordial demikian menjadi bagian tak terpisahkan dari pendukung Ahok-Jarot?

Narasi kemudian berlanjut. Digambarkan bagaimana Ahok kemudian mengucapkan selamat atas kemanangan Anis-Sandi. Menariknya, kali ini Ahok membawa-bawa nama Tuhan.  Dia mengatakan kekuasaan itu Tuhan yang mengambil. Dalam narasi ini, bagus juga sebenarnya. Akhirnya Ahok ingat Tuhan juga. Lalu, dia menemui Surya Paloh, mengiyakan nasehatnya untuk tidak ngomong sembarangan di depan publik sambil setuju pendapat Surya kalau jalan politiknya masih panjang.

Narasi Metro Realitas kembali melanjutkan dengan nada heran. Kenapa masyarakat tidak memilih Ahok-Jarot, padahal tingkat keberhasilan kinerja mencapai 70% sampai 80%. Lagi-lagi Yunarto memberikan pendapatnya. Menurutnya, semuanya itu karena faktor emosional, begitu juga karena banyaknya penolakan dan intimidasi. Dia juga mengatakan bahwa tim sukses tidak salah, semua itu terjadi karena isu agama yang dimunculkan.  Sampai di sini, saya sebagai penonton Metro Realitas sudah mulai muak dengan pendapat-pendapat Yunarto yang memberikan pandangan sesat. Seolah publik bisa dibodohi dengan pernyataan-pernyataan konyol dan kelirunya.

Akhirnya, saya melihat bagaimana narasi sepihak memang sedang dibangun untuk mencitrakan Ahok sebagai sosok  bak pahlawan tapi sedang mengalami kekalahan. Mereka lupa bahwa kenyataan di lapangan, intimidasi di TPS justru banyak dilakukan kubu Ahok-Jarot, bahkan politik sembako, sebagai strategi paling primitif sangat telanjang dilakukan kubu Ahok-Jarot, sayangnya tak sedikitpun fakta ini diungkap Metro TV.

Jelas, tampak sekali praktik narasi kotor sedang dilakukan Metro Realitas berkedok jurnalisme.  Sayangnya, sekali lagi, narasi itu tak akan berguna dan berhasil sebab akal sehat publik terhadap literasi media saat ini sudah semakin menyala.

Masyarakat sudah semakin kritis terhadap media. Praktik-praktik kotor  semacam ini sudah semestinya disudahi karena hanya akan dipandang sebagai lelucon berbau jurnalisme. Sebab tugas media mengungkap fakta, bukan mengarang cerita.

Palmerah, 25 April 2017

*Pengamat  media. Founder Kanetindonesia.com

Sumber Foto: Mediasulut.co (ki/headlineislam.com)

Mencontoh Warga Papua dalam Mendidik Generasi Muslim


Headlineislam.com - Lomba ‘Anak Hebat’ yang digelar Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) telah usai. Puluhan anak yang menjadi juara menerima beasiswa dari yayasan yang dipimpin oleh Ustadz Fadlan Garamatan ini. Rona gembira nampak dari wajah-wajah imut mereka, mulai yang mendapat juara pertama hingga juara harapan.

Hingga larut malam, para peserta lomba masih berada di Masjid Agung Baitul Makmur. Sambil membawa piala, medali dan piagam, mereka selfie di sana sini, berfoto ria dengan keluarga dan guru tercinta. Barangkali,  ini menjadi momen paling berkesan bagi bocah-bocah Muslim Fakfak.

Selain menjadi ajang adu bakat, lomba ‘Anak Hebat’ juga mengandung nilai pendidikan bagi putra-putri generasi Muslim Fakfak, Papua. Beberapa orang tua dari peserta kegiatan ini tidak mempermasalahkan apakah anaknya menjadi juara atau bukan.

“Masa kanak-kanak adalah massa bagaimana untuk kita menyiapkan generasi Islam di kabupaten Fakfak.

Juara atau tidak juara itu adalah hal yang biasa. Yang penting penampilan, berani tampil di depan,” ujar orang tua Fardi Anugerah Lamau, peserta lomba ‘Anak Hebat’.

Ustadz Fadlan Garamatan sendiri menekankan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pendidikan supaya melahirkan generasi-generasi yang berkualitas di masa mendatang. Baik kualitas secara duniawi maupun ukhrowi (akhirat.red).

“Kegiatan ini bertujuan nelahirkan anak-anak Muslim Fakfak khususnya menjadi anak yang berkualitas. Anak anak yang menyapu membangun ketaatan kepada Allah dan membangun kebaktian anak-anak kepada orang tua,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, pendidikan Islam merupakan hal penting dalam kehidupan. Hal itu demi menciptakan generasi yang semakin baik di masa depan. Karena tanpa pendidikan Islam di usia dini, hanya akan membuat generasi umat Islam mencintai dunia. Tanpa memperhatikan masalah akhirat.

Oleh sebab itu, kita perlu untuk mencontoh konsep pendidikan Islam sejak dini yang dilakukan warga Muslim Fakfak, Papua. Tak hanya sekedar berambisi juara, tapi menekankan percaya diri dan berani mencoba. Entah berhasil atau tidak, yang terpenting sudah mencoba. Karena hasil yang menentukan Allah Ta’ala.

Sebab, jika sebagai orang tua selalu menekankan supaya mengikuti kehendaknya, yang ada rasa tertekan pada anak. Inilah yang harus dijauhi oleh segenap orang tua Muslim. Biarkan anak-anak mengeksplorasi kemauan mereka, selagi dalam koridor syariat Islam. Dan jangan lupa memberikan dukungan sebesar-besarnya. Karena dukungan orang tua adalah pondasi terkuat dari cita-cita.

Penulis: Taufiq Ishaq (kt/headlineislam.com)

Penghafal Quran Bisa Masuk IPB Lewat Jalur Khusus


Headlineislam.com - Institut Pertanian Bogor (IPB) membuka jalur khusus penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2017-2018 untuk para penghafal Alquran melalui program Prestasi Internasional dan Nasional (PIN).

"Secara khusus IPB menerima hafiz Alquran melalui jalur seleksi PIN," kata Wakil Rektor IPB Bidang Akademik Prof Yonny Koesmaryono di Bogor, Rabu (26/04/2017) seperti dikutip Antaranews.com.

Para hafiz yang ingin masuk IPB, ia menjelaskan, harus mengikuti prosedur penerimaan mahasiswa baru yang berlaku.

Calon mahasiswa yang hafal 30 juz Alquran akan diapresiasi dengan nilai tambahan setara prestasi olimpiade tingkat internasional.

"Sedangkan untuk yang hafal minimal 15 juz sampai 29 juz akan diapresiasi setara prestasi olimpiade tingkat nasional," katanya.

Calon mahasiswa yang melamar masuk IPB melalui jalur khusus, termasuk PIN, harus menunjukkan bukti. Penghafal Alquran harus menyerahkan bukti kemampuannya dari lembaga terpercaya dan bersedia diverifikasi hafalannya. "Ini berlaku untuk semua program studi di IPB," kata Yonny.

IPB telah membuka jalur PIN sejak tahun 1974 dengan nama Jalur Finalis Lomba Karya Tulis, yang berubah menjadi PIN pada 2000.

Jalur ini memberi kesempatan kepada lulusan SMA yang memiliki prestasi luar biasa dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk di dalamnya hafiz Alquran.

Yonny mengatakan lulusan SMA penghafal Alquran bisa memanfaatkan kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi lewat PIN IPB, yang akan dibuka setelah seleksi SBMPTN dilaksanakan.

Ia menjelaskan pula bahwa ada beberapa jalur seleksi untuk masuk IPB, mulai dari Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), serta seleksi mandiri yang meliputi seleksi bibit unggul daerah, PIN dan ujian talenta masuk IPB (UTMI).

IPB menampung 3.400 mahasiswa baru dan menetapkan kuota untuk masing-masing jalur seleksi.

"Kuota terbesar untuk jalur SNMPTN yakni 50 sampai 60 persen, 30 persen untuk SBMPTN dan sisanya untuk seleksi mandiri," katanya.

Ia menambahkan bahwa sampai saat ini jumlah pendaftar SNMPTN ke IPB mencapai 16.193 orang.

sumber: Antaranews.com (si/headlineislam.com)

Dokter Ini Ungkap Manfaat Puasa bagi Penderita Penyakit Jantung


Headlineislam.com - Bagi seluruh umat muslim di dunia, rasanya sudah tidak sabar menunggu bulan Ramadan tiba. Tidak sampai satu bulan lagi, seluruh umat muslim akan mulai merasakan bulan penuh berkah ini.

Dr Renan Sukmawan, ST, SpJp(K), PhD, MARS, Cardiologist (ahli jantung) dan staff pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengungkapkan bahwa ternyata puasa sangat bagus untuk para penderita penyakit jantung.

“Puasa itu justru bagus bagi mereka yang menderita penyakit jantung atau mereka yang menderita kardiovaskular, karena mereka bisa mengatur pola makan yang lebih baik. Mereka juga akan mengurangi asuan junk food atau makanan tidak sehat lainnya yang bisa menyebabkan penyakit jantung kambuh,” katanya, Dr Renan dilansir Kumparan, Rabu (26/4/2017).

Namun, ada hal-hal yang harus diperhatikan para pengidap penyakit jantung sebelum mereka memulai puasa. Memeriksakan kesehatan ke dokter terlebih dahulu menjadi kunci penting untuk kelancaran puasa selama bulan Ramadan.

“Bagi mereka yang mengidap penyakit jantung sebaiknya sebelum puasa dimulai, mereka datang ke dokter untuk dibuatkan pola makan saat puasa. Karena nantinya obat yang akan diberikan pun harus disesuaikan dengan jam makan selama puasa,” ujar Dr Renan.

“Kami sebagai dokter akan memberikan obat jantung yang bisa kita maksimalkan selama puasa, karena yang seharusnya minum obat tiga kali sehari, jadi hanya dua kali sehari,” tambahnya.

Meskipun pengidap penyakit jantung aman untuk berpuasa, namun ada beberapa kondisi yang membuat seseorang tidak memungkinkan untuk berpuasa. Salah satunya adalah jika penyakit jantung yang diderita terlalu parah.

“Namun, puasa berbahaya bagi mereka yang mengalami penyakit gangguan jantung yang parah. Misalnya, yang hanya bisa berbaring di atas kasur atau yang sudah mengalami gagal jantung, tidak dianjurkan untuk berpuasa,” tuturnya.

Tak hanya baik untuk pengidap penyakit jantung, puasa juga sangat dianjurkan bagi mereka yang menderita obesitas. Puasa menjadi cara alami untuk menurunkan badan dan menurunkan kadar gula untuk penderita diabetes.

“Puasa juga bagus bagi mereka yang menderita obesitas, karena bisa menurunkan berat badan secara alami. Bagi yang menderita diabetes, mereka juga akan mengurangi asupan gula selama berpuasa sehingga bagus bagi kerehatan tubuh,” tandasnya.

Sumber: Kumparan (ip/headlineislam.com)

Ahok Jadi Menteri? Amit-amit, Deh!


Headlineislam.com - Ahok bakal masuk kabinet? Isu ini bergulir liar beberapa waktu belakangan. Konon, lelaki yang sangat doyan marah-marah dan menghamburkan sumpah-serapah ini bakal parkir di posisi Menteri Dalam Negeri.

Kalau ini terjadi, artinya Tjahjo Kumolo harus legowo tergusur dari posisinya sekarang. Jika ini benar-benar terjadi, maka Tjahjo terkena “kutuk” atas ucapannya sendiri. Publik belum lupa, saat Raker dengan Komisi II DPR, Tjahjo menyatakan dia siap dicopot kalau keputusannya tidak memberhentikan Ahok sebagai gubernur DKI ternyata salah. Ah, politik. Siapa sangka pemasang badan benar-benar jadi tumbal…

Tapi baiklah, kita tidak ingin berpanjang-lebar denga kutukan atau karma yang (bakal) diterima Tjaho karena pasang badan membela Ahok. Fokus tulisan ini justru hendak bertanya, benarkah isu liar bahwa gubernur yang tidak segan-segan memaki seorang ibu dengan sebutan maling itu bakal masuk kabinet? Layakkah seorang terdakwa penista agama menjadi menteri?

Idealnya, menjadi menteri tentu membutuhkan banyak persyaratan. Pertama, yang bersangkutan harus punya kapasitas dan kepabelitas di bidangnya. Kedua, dia juga harus berintegritas. Tidak boleh seorang yang punya rekam jejak kriminal duduk sebagai pembantu Presiden. Dan, last but not least, si calon juga harus punya karakter dan kepribadian yang stabil, memiliki empati kepada rakyat, mampu menjaga tutur dan prilaku untuk tidak menebar kalimat kotor dan kebencian.

Kirteria menteri seperti yang saya tulis ini, tentu saja, bukanlah parameter yang baku. Paling tidak, konstitusi kita tidak menyebutkan demikian. Bisa jadi, berdasarkan fakta para pembantu yang diangkatnya, Presiden Jokowi juga tidak memasang persayaratan seperti itu.

Tak kunjung beradab

Tapi untuk kriteria karakteristik atau kepribadian tadi, kali ini saya benar-benar berharap Jokowi memberi perhatian lebih. Terlalu mahal harga yang harus dibayar negeri ini jika Ahok jadi masuk kabinet. Kasus penistaan agama yang dilakukannya, sungguh-sungguh telah memantik kemarahan luar biasa ummat Islam. Kasus ini juga terbukti menguras habis energi bangsa.

Buat sebagian besar orang, saya yakin, jika terbelit kasus serupa dia, bisa dipastikan yang bersangkutan bakal berinstropeksi diri. Selanjutnya akan lebih hati-hati dalam bertutur,k terutama di ruang publik. Sayangnya, sikap seperti ini sama sekali tidak ditunjukkan Ahok. Dia seolah-olah tidak pernah kehabisan peluru untuk menimbulkan kegaduhan baru. Persidangan super panjang dan bertela-tele atas kasus penistaan Al Quran yang dilakukannya, ternyata tidak mampu membuat mulutnya menjadi sedikit beradab.

Permintaan maafnya pada sidang pertama, terbukti dusta belaka.  Dia sama sekali tidak merasa bersalah. Karenanya dia tidak tulus minta maaf. Apalagi kalau disimak kalimatnya, bahwa Ahok minta maaf atas kegaduhan yang terjadi akibat pidato di kepulauan Seribu tersebut. Jadi, minta maaf bukan karena materi pidatonya, tapi karena kegaduhannya yang terjadi.

Sikap tidak merasa bersalah itu kembali diulanginya secara eksplisit ketika diwawancarai televisi Al Jazera. Pada menit ke-3.32 sampai 3.41 di videonya yang menjadi viral, dengan lugas Ahok menyatakan tidak menyesal telah mengutip surah al-Maidah dengan versinya sendiri. Bahkan, jika diulang lagi di Pulau Seribu dia akan menyatakan hal yang sama terkait surat al-Maidah.

Dia juga tidak peduli, betapa akibat ucapannya energi seluruh bangsa terkuras habis. Presiden harus berakrobat ria menemui para tokoh agama. Luhut Binsar Panjaitan yang menjadi Menko Maritim pun ikut blingsatan dan mendadak jadi lobbyist guna mendinginkan tokoh ummat. Kapolri Tito Karnavian harus menabrak sejumlah undang undang dan peraturan untuk menggembosi aksi massa bela Islam yang berjilid-jilid dan mengkriminalisasi  para pemimpinnya.

Bisakah kita membayangkan, Indonesia kelak akan punya menteri yang tidak peduli dengan respon orang lain atas ucapannya? Saya terlalu ngeri membayangkan, jika ada menteri yang tidak sensitif terhadap perasaan orang banyak. Terlebih lagi menyangkut keyakinan agama yang dipeluk mayoritas penduduk negeri lebih dari 260 juta jiwa ini.

Bisakah kita membayangkan, kelak ada menteri yang hatinya membatu dan hanya ngotot berpegang pada niatnya pribadi? Dengan gampang dia mengucapkan kata-kata kotor dan atau menista agama orang lain, lalu berlindung dengan kalimat “tidak punya niat menghina.”

Dia juga seperti tidak pernah kehabisan peluru untuk memantik kegaduhan. Kontroversi terbaru datang dari sidang ke-18 yag digelar pada 25 April silam. Dalam pledoi yang konon disusunnya sendiri, Ahok berkali-kali menegaskan bahwa dia bukanlah penista agama. Dia juga mengaku tidak menghina Islam.

Selain itu, mantan Bupati Belitung Timur yang terlibat sejumlah kasus korupsi itu mengidentifikasi dirinya layaknya ikan badut dalam film Finding Nemo. Di film tersebut, Nemo harus berenang sendiri menentang arus untuk menyelematkan banyak ikan lain dari jaring nelayan. Walaupun tidak ada yang berterima kasih kepadanya setelah berhasil, Nemo tidak kecewa.

Manipulatif

Mengidentifikasi diri sebagai Nemo adalah bukti lain sikap manipulatif Ahok. Fakta-fakta selama hampir tiga tahun dia berkuasa justru menunjukkan hal sebaliknya.

Pertama, dia sama sekali tidak sendirian. Dengan berbagai motif dan niat, teramat banyak pihak yang menjadi pendukung beratnya. Bahkan tokoh Malari Hariman Siregar menyatakan negara telah menjadi tim sukses Ahok dalam Pilkada. Mantan komisoner KPU Chusnul Mar’iyah menyebut Pilkada DKI adalah Pilkada yang paling brutal karena negara dengan segala perangkat birokrasinya terlibat dalam  implementasi skenario untuk memenangkan petahana.

Kedua, pada film tesebut, ucapan yang keluar dari mulut Nemo adalah yang baik-baik. Sebaliknya, Ahok tidak segan-segan menyebut isi toilet di tayangan publik, bertengkar mulut dengan warganya di media publik. Dan, yang paling kontroversial, memancing kemarahan umat Islam menista ayat Al quran yang sama sekali di luar domainnya.

Ketiga, Ahok berkali-kali menyatakan dia difitnah. Di sisi lain, di persidangan dia mengakui, bahwa dia memang mengucapkan kalimat seputar surat al Maidah ayat 51 di Kepulauan Seribu seperti dalam video itu. Lalu, pada bagian mana fitnah yang dimaksudkannya? Haruskah dia belajar kembali arti kosa kata fitnah dari kamus Bahasa Indonesia?

Simak baik-baik kalimatnya di bawah ini:

“Tuhan mengetahui isi hati saya. Saya hanya seekor ikan kecil Nemo di tengah Jakarta, yang akan terus menolong yang miskin dan membutuhkan, walaupun saya difitnah dan dicaci maki, dihujat karena perbedaan iman dan kepercayaan saya. Saya akan tetap melayani dengan kasih,” ujar Ahok, jumawa.

Tolong tunjukkan, pada bagian mana kebijakannya dia menolong orang miskin yang membutuhkan? Yang ada, dia justru melakukan penggusuran secara ganas dan brutal pada ratusan titik permukiman kaum miskin. Bagaimana mungkin dia mengklaim tetap melayani dengan kasih, kalau fakta justru menjunjukkan sebaliknya. Bagaimana mungkin seorang yang mengklaim punya sifat kasih, sama sekali tidak punya empati kepada rakyatnya? Dia justru menuding ibu-ibu yang menangis karena rumahnya digusur dengan menyebut sedang berakting main sinetron.

Fakta pun menunjukkan Ahok tidak pernah difitnah apalagi dicaci-maki dan dihjujat karena perbedaan iman dan kepercayaan. Semua kegaduhan yang ada terjadi karena mulutnya yang yang rusak dan kebijakannya yang tidak berpihak kepada rakyat banyak.

Di luar soal kebpribadiannya yang sangat bermasalah, kinerja Ahok juga tergolong jeblok. Penyerapan anggaran rendah, serampangan menggunakan anggaran, mendapat peringkat CC dan berada di urutan 18 dari 34 pemerintah provinsi dalam hal akuntabilitas kinerja, dan tersangkut berbagai kasus korupsi superjumbo.

Dengan berbagai fakta tersebut, publik benar-benar berharap Jokowi tidak menjadikan Ahok sebagai menterinya. Masih banyak lho figur lain yang lebih mumpuni, dan yang paling penting, mulut dan kepribadiannya tidak bermasalah. Singkat kata, Ahok jadi menteri, amit-amit deh… (*)

Jakarta, 26 April 2017

Edward Marthens
Pekerja sosial, tinggal di Jakarta (si/headlineislam.com)

Fadli Zon: Ahok Harus Dipenjara


Headlineislam.com - Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menilai, keputusan hukum belakangan ini hanya alat untuk mencari kesalahan lawan politik. Bahkan menurutnya, hukum untuk memproteksi pihak-pihak yang dianggap kawan politik. Fadli memberi contoh kasus penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Menurut Fadli, seharusnya Ahok dipenjara, namun ada pihak yang melindungi, sehingga keputusan hukum tidak sesuai undang-undang. "Menurut saya Ahok harus dipenjara dengan undang-undang yang ada, tapi ada upaya melindungi," ujar Fadli di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Rabu (26/4/2017).

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu menilai, publik tidak senang dengan keputusan hukum di sidang dugaan penodaan agama. "Ini kan mengusik masyarakat," ucapnya.

Fadli mengimbau aparat penegak hukum tetap mengikuti aturan yang ada. Karena jika terbukti menimbulkan keputusan yang tidak sesuai undang-undang, Fadli menilai masyarakat tidak akan mempercayai hukum di Indonesia. "Kalau ternyata hasilnya seperti dugaan mereka, ini akan terjadi publik distrust. Ini sangat berbahaya," katanya.

Ia mengingatkan, jika negara sudah tidak lagi percaya dengan hukum itu mudah hancur dan rapuh. "Itulah yang harus menjadi pertimbangan majelis hakim untuk memvonis Ahok penjara sesuai tuntutan masyarakat banyak," ucapnya.

Terlebih, lanjut Fadli, yurisprudensinya sudah ada, yaitu kasus Arswendo tahun 1990 dan kasus HB Jassin 1968, yang menunjukkan bahwa keputusan majelis hakim mengabulkan hukuman diatas 1 tahun penjara.

"Itu menandakan kasus penistaan agama ini bukan kasus sembarangan, ini kasus yang sangat sensitif dan mudah memecah belah masyarakat. Karena itu kalau ternyata itu tidak dipenjara ini yang terusik dan terganggu keadilan masyarakat," jelasnya.

Ia menambahkan, kalau vonis Ahok merupakan acuan apakah hukum di Indonesia tumpul atau tidak, lantaran Ahok sendiri dekat dengan penguasa.

"Jadi majelis hakim harus mempertimbangkan rasa keadilan masyarakat. Dan masyarakat sekarang sedang menilai, level hukum kita sedang ada dimana. Apakah hukum benar-benar bisa ditegakkan walaupun itu pihak yang dekat dengan penguasa, atau hukum tumpul," pungkasnya

Sumber: tribun/ts (si/headlineislam.com)

Hanya karena Salah Ucap, Menteri di Jepang Mengundurkan Diri


Headlineislam.com - Seorang Menteri Jepang mengundurkan diri pada Rabu (26/07) setelah mengatakan bahwa lebih baik bencana alam melanda wilayah timur laut daripada Tokyo. Menteri tersebut bertugas mengawasi pembangunan kembali daerah hancur akibat tsunami pada 2011 dan bencana nuklir Fukushima.

Masahiro Imamura terpaksa berhenti setelah ucapannya pada Selasa (25/4/2017) di pesta untuk anggota parlemen Partai Demokrat Liberal (LDP), yang berkuasa, dan menjadi kejadian terbaru peristiwa serupa serangkaian anggota parlemen partai akibat tanggapan atau tingkah lakunya.

Saat berbicara tentang biaya akibat bencana alam itu, yang menyebabkan hampir 20.000 orang tewas atau hilang, Imamura mengatakan, "Lebih baik itu terjadi di timur laut."

Tanggapan tersebut muncul beberapa minggu setelah Imamura memicu kemarahan pada jumpa pers dengan meremehkan orang yang meninggalkan Fukushima karena ketakutan setelah bencana nuklir terburuk di dunia sejak Chernobyl itu, lalu meneriaki seorang pewarta dan bergegas keluar ruangan.

Tanggapan Imamura itu memicu teguran langsung dari Perdana Menteri Shinzo Abe, yang meminta maaf atas namanya. Pengunduran dirinya yang cepat ditujukan untuk meminimalkan kerusakan pada pemerintah Abe, yang telah dituduh berpuas diri tanpa adanya pihak oposisi.

"Ini adalah komentar yang sangat tidak pantas dan menyakitkan bagi orang-orang di zona bencana, sebuah tindakan yang menyebabkan orang-orang kehilangan kepercayaan padanya," kata Abe kepada wartawan setelah Imamura mengundurkan diri.

Persoalan tersebut masih sensitif karena bisnis regional telah berjuang untuk pulih sementara pekerjaan rekonstruksi berjalan lambat. Banyak keluarga pengungsi juga telah putus asa untuk kembali ke kota asal mereka.

Sumber : REUTERS/Kabar24.bisnis.com (si/headlineislam.com)

Din Syamsudin: Tuntutan JPU seperti Permainan dan Cenderung Bebaskan Ahok


Headlineislam.com - Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia yang juga tokoh Muhammadiyah, Prof Din Syamsuddin, mengkritik persidangan kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Menanggapi penundaan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) atas Ahok, beberapa waktu lalu, Din menyatakan bahwa penundaan tersebut sebagai dagelan.

“Alhamdulillah sudah mulai berjalan, sangat lama menguras waktu sidang Ahok.Tiba-tiba kita melihat dagelan dengan penundaan tuntutan,” katanya seusai Rapat Pleno Dewan Pertimbangan MUI kepada  di Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (26/04/2017) seperti dikutip dar

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2015 ini menilai bahwa tuntutan JPU cenderung membebaskan.

“Ini kami nilai sebagai permainan terhadap hukum,” tegasnya.

“Secara kasat mata, ini ada kecenderungan memainkan hukum, berbahaya, adanya yurisprudensi terhadap penista agama. Oleh karena itu tidak ada kesimpulan yang lain kecuali bermain hukum,” tandas Din.

Din mengatakan, kalau Ahok dibebaskan, akan berpotensi menimbulkan perpecahan.

Jika Ahok bebas, imbuhnya, maka ujaran kebencian terhadap agama tidak dapat lagi dihalangi.

Din menegaskan tak bermaksud mengintervensi hukum.

Din juga mengungkapkan bahwa ada semacam perlindungan dan pembelaan terhadap terdakwa Ahok.

“Kami hanya bisa memesankan, ini kesimpulan dari pimpinan ormas, jangan mempermainkan hukum karena itu berbahaya, saya tidak bisa membayangkan itu,” pungkasnya. (ip/headlineislam.com)

Karangan Bunga untuk Ahok-Djarot Di Terjang Hujan dan Angin Kencang


Headlineislam.com - Balai Kota DKI Jakarta di penuhi karangan bunga untuk Ahok Djarot. Karangan bunga tersebut dikirim oleh para pendukungnya sebagai ungkapan terima kasih karena telah memimpin Jakarta selama 5 tahun terakhir.

Tak hanya itu, para simpatisan Ahok-Djarot pun juga ramai-ramai membanjiri hastag #AYOGOMBALINAHOK dan berhasil menduduki trending topik di Twitter pada Rabu pagi (26/04).

Namun siang itu ada kejadian unik. Berdasarkan pantauan Kiblat.net di lapangan, karangan bunga yang terletak di lapangan Balai Kota porak-poranda karena hujan deras dan angin kencang yang mengguyur wilayah Jakarta Pusat siang itu. Terlihat karangan bunga ambruk karena penyangganya tidak kuat menahan hujan dan angin kencang.

Beberapa karangan bunga ada yang sudah dibereskan oleh petugas kebersihan karena sudah ambruk. Namun, masih ada beberapa karangan bunga yang hampir jatuh dan bersandar di karangan bunga lainnya.

Pemandangan tersebut sangat kontras bila dibanding antara pagi dan siang hari. Di lapangan Balai Kota, sebelumnya menjadi tempat terbanyak penempatan karangan bunga. Namun, hal tersebut sudah tak terlihat lagi.

Sebelumnya, karangan bunga berisi dukungan pada Ahok terus berdatangan dari warga ke Balai Kota. Diperkirakan karangan bunga sudah mencapai angka seribu buah. Karangan bunga tersebut berjejer disepanjang Jln. Medan Merdeka Selatan dan memusat ke Balai Kota DKI Jakarta. (kt/headlineislam.com)